Thursday, 6 December 2012

Jika Ada Orang yang Harus Disalahkan atas Kegagalan Kita, Maka Orang itu adalah “AKU”



Pernahkah kawan merasakan kegagalan? Saya rasa pernah, karena kegagalan yang saya maksud adalah segala sesuatu yang diluar batas target pencapaian yang seharusnya. Misalnya saja kita telat masuk kuliah, maka itu merupakan kegagalan kita dalam mengatur waktu. Kita terjebak macet dijalan berulang kali, itu merupakan kegagalan kita dalam menganalisa dan memperhitungkan segala kemungkinan diperjalanan. Kita telat bangun, itu merupakan kegagalan kita dalam meneguhkan hati untuk bangun tepat pada wakunya. Jadi, segala hal yang keluar dari batasan yang seharusnya, itu adalah kegagalan.
                Sekarang, mari kita renungkan. Ketika kita bangun kesiangan, hal pertama apa yang kita salahkan? Apakah karena alarmnya tidak berfungsi? Apakah karena tidur terlalu malam gara-gara mengerjakan segudang tugas? Apakah karena teman kita tidak membangukan? Apakah karena kasur kita terlalu nyaman? Apakah karena kita tidak enak badan? Apakah karena kita terlalu banyak amanah sehingga kecapean? Ataukah karena…karena… dan karena yang lain? Lihat, betapa banyaknya kita mencari alasan.

Monday, 3 December 2012

Susahnya Menjaga Hati.. "(-_-)"



               Alkisah ada seorang ayah berkata pada anaknya,
                “Wahai anakku, jika engkau menaruh kesal dan marah pada seseorang, maka tancapkan paku-paku  ini ke pagar..”
                “Baik ayah..”
               
                Sang anakpun mengikuti apa yang ayahnya katakan. Ketika sekali saja di merasa kesal dan marah pada sesorang, dia selalu memaku pagar, terus, terus dan terus, hingga sampailah pada paku yang ke-38 dan kini dia telah merasa mampu mengendalikan emosinya.
               
Lalu sang anak berkata,
                “Ayah, aku sudah mengikuti semua perkataanmu, dan kini aku mampu mengendalikan emosiku..”
                “Bagus.. Sekarang, jika kau telah meminta maaf kepada orang yang telah kau sakiti, cabutlah kembali satu persatu paku yang ada dipagar itu..”
                “Baik ayah..”

                Sang anak pun kembali mematuhi perkataan ayahnya. Setelah dia meminta maaf pada orang yang telah dia sakiti, dia pun mencabut paku yang dulu telah dia tancapkan di pagar. Terus seperti itu hingga tak satu pun tersisa paku dipagar.

                “Ayah, kini aku pun telah mencabut semua paku dipagar..”
                “Bagus nak.. Sekarang mari kita renungkan. Pagar yang kau tancapkan paku disana dan kau  cabut kembali pakunya, laksana hati seseorang. Ketika kau sakiti, maka kau telah menancapkan paku di hatinya, dan ketika kau meminta maaf, kau telah menghilangkan paku di hatinya. Namun anakku, bisakah kau kembalikan pagar itu seperti semula sebelum kau tancapkan paku?”

                Sang anak pun terdiam dalam keheningannya..

                Itulah sepenggal kisah yang saya dapat dari acara KISI “Kajian Seputar Sains” di Aula Jurusan Fisika Universitas Padjadjaran Kamis lalu. Sederhana memang, namun kisahnya sungguh menampar diri. Betapa tidak, kisah itu sungguh penomena yang sering kita temui di kehidupan kita, bahkan saya sendiri mengakui saya sering melakukannya. Melukai hati seseorang dengan sengaja ataupun tidak, dan kita hanya menganggap dapat menyelesaikannya dengan satu kata “maaf”. Seolah-olah kata “maaf” merupakan kata sapu jagat yang dapat dengan cepat menyelesaikan masalah. Namun ternyata, dengan kata “maaf” kita tidak mampu mengembalikan hati seseorang yang telah kita lukai.
                Saya pun pernah berada pada posisi “yang dilukai”, dan memang benar, sulit rasanya untuk melupakan suatu hal yang menyakitkan untuk kita. Bahkan ketika kita pun tahu betapa Allah menyukai seseorang yang meminta maaf dan memafkan, tetap saja ketika suatu ketika seseorang yang pernah melukai atau mengecewakan kita kembali khilaf melukai kita, kesalahannya dulu yang telah kita maafkan akan teringat lagi. Memutar sendiri tanpa terkendali. Itulah yang dimaksud dalam kisah diatas, hati kita tidak akan pernah sama seperti sebelum tersakiti, sama seperti pagar yang masih terlihat lubang bekas pakunya.
                Memang sih, menjaga perasaan seseorang sangatlah sulit. Bahkan ketika pun kita tidak bermaksud melukainya, terkadang ada saja yang merasa telah tersakiti. Tapi setidaknya menurut pendapat saya ada dua hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga perasaan orang lain ataupun diri kita sendiri.
                Pertama, kita selalu berusaha untuk menjaga perasaan orang lain lewat lisan dan tingkah laku kita. Hindari kata-kata yang akan membuat orang tersinggung dan dijaga juga intonasinya. Jangan sampai kita bermaksud baik tapi cara bicara kita menggunakan intonasi keras yang cenderung memerintah atau memarahi, alhasil kita malah membuat dia tersinggung bahkan melukainya. Kemudian tingkah laku kita pun harus selalu dijaga. Terutama terlihat dari mimik muka kita.
                Berkaitan dengan mimik muka, saya teringat dengan sebuah hadits dari Abu Dzar ra., dia berkata; Rasulullah bersabda:
Engkau jangan menyepelekan kebaikan sedikit pun, meski hanya sekedar bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri”. (HR. Muslim)

                Penjelasan pertama diatas tentu bukan berarti kita tidak boleh tegas dan marah pada seseorang. Ketika memang ada hal yang menyangkut pelanggaran hukum syara’, kita harus meng-amar ma’rufnya dengan tegas, tapi juga tentunya dengan cara yang ahsan. Intinya kita harus benci dan cinta karena Allah, artinya segala tindak tanduk kita berlandaskan pada keridhoan Allah.
Kedua, kita harus selalu berprasangka baik, berkhusnudzan terhadap semua orang. Dengan demikian, kita akan selalu ber-positifthinking terhadap siapapun.

Itulah sepenggal kisah yang diambil dari sedikit pengalaman saya. Lagi-lagi saya tekankan, bukan berarti saya telah mampu menjaga perasaan orang lain hanya karena saya telah menuliskannya, tapi tulisan ini semata-mata hanya untuk berbagi cerita yang insya Allah bisa diambil manfaatnya. Melalui tulisan ini pun saya ingin meminta maaf pada semua orang yang sempat terlukai hatinya oleh kekhilafan saya. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita semua orang sabar, yang dengan kesabaran itulah lubang-lubang dihati kita hilang dan menjadi sempurna seperti sedia kala. J

Saturday, 24 November 2012

Refleksi Hijrah Rasulullah




           Jika di tahun Masehi kita mengenal satu Januari adalah momen pergantian tahun, maka satu Muharram adalah momen pergantian tahun dalam kalender hijriah. Namun, seperti halnya masyarakat yang tidak tahu sejarah asal muasal penetapan satu Januari sebagai tahun baru Masehi, maka kebanyakan kaum muslim pun tidak sepenuhnya memahami makna dibalik tahun baru Islam itu.
            Sejatinya makna “hijrah” yang dilakukan Rasulullah dari Makkah ke Madinah bukanlah hanya sekedar berpindah tempat saja. Tapi jauh lebih penting dari itu, “hijrah”nya Rasull dari Makkah ke Madinah adalah berpindahnya sistem aturan hidup yang dipakai dari aturan jahiliyah kepada aturan Islam.
              Jika kita telisik lebih dalam, sesungguhnya kondisi masyarakat pada saat zaman Rasulullah dengan zaman sekarang tidaklah jauh berbeda. Dulu pada masyarakat Quraisy, aturan dan sistem kemasyarakatan dibuat oleh para pemuka kabilah, sekarang pada masyarakat modern, kehidupan juga diatur dengan aturan dan sistem buatan manusia yang dibuat oleh para “wakil rakyat”. Dari segi ekonomi, masyarakat Quraisy identik dengan riba dan perjudian, dan sekarang pun sama, bahkan melebihi zaman dulu, dimana pada saat ini riba dan judi malah difasilitasi dan bahkan semakin dipermudah. Dan lain sebagainya. Maka, sudah sewajarnya kita pun melakukan langkah yang sama dengan Rasulullah, yaitu berhijrah dari aturan salah yang dibuat manusia kepada aturan yang benar buatan Allah (aturan islam).
            Pada titik ini sikap yang dimabil kaum muslimin berbeda. Ada yang setuju dengan perjuangan menerapkan aturan islam, ada yang menolak secara tegas penerapan islam padahal dia sendiri seorang muslim, dan ada pula yang memilih aman-aman saja diam di “grey area”, menerima tidak, menolak pun tidak. Keberagaman sikap ini bukanlah suatu bentuk dari kebolehan berekspresi, namun semestinya hanya satu sikap yang kaum muslimin ambil, sama, serempak, tak berbeda, yaitu menerima dan ikut berkontribusi dalam penerapan aturan islam dalam kehidupan bernegara. Mengapa demikian? Karena penerapan atruran islam merupakan permasalahan aqidah yang jelas harus sama penyikapannya, sebab menerapkan islam dalam segala lini kehidupan kita merupakan konsekuensi keimanan kita terhadap Allah SWT.
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50)
Dengan demikian maka masing-masing dari kita wajib ambil bagian dalam proses dan perjuangan merealisasi perubahan besar dunia menuju kejayaan Islam yang kedua. Selain untuk merefleksikan makna hijrah pada tataran praktis, hal itu juga menjadi manifestasi dan pembuktian atas kebenaran keimanan kita.
 Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (TQS al-Anfal [8]:24)

Wallahua’lam bi ash-shawab.

Monday, 8 October 2012

PEMUDA = AGENT of CHANGE



Jika saya bertanya,apakah masyarakat Indonesia saat ini sudah sejahtera? Maka jawaban yang vokal terdengar di tengah masyarakat adalah “TIDAK”. Ya. Kini masyarakat kita sudah banyak yang sadar akan ketidak adilan yang dilakukan oleh penguasanya. Maka semua golongan masyarakat berlomba-lomba menuntut perubahan ke arah yang lebih  baik.

Perubahan merupakan kata yang kini sering digaung-gaungkan oleh para penganut pemikiran Marxisme. Marx secara terang-terangan telah mengemukakan pandangannya terhadap cara (uslub) yang seharusnya diambil oleh gerakan Komunis dalam melakukan perubahan sosial dan mengubah Kapitalisme. Katanya: "Tidak ada jalan bagi menggantikan Kapitalisme dengan Sosialisme kecuali dengan revolusi."

Ternyata, tidak hanya kaum Sosialis yang kini mengusung perubahan. Ideologi lain pun, Kapitalis dan termasuk Islam pun mengusung perubahan sesuai dengan caranya masing-masing. Lalu, apa kaitannya perubahan dengan pemuda?

Jika kita flash back pada era kemerdekaan Indonesia, maka kita akan menyimpulkan bahwa pemuda adalah agen perubahan. Siapa yang menculik Ir. Soekarno sehingga tercetus proklamasi? Siapa yang berani menggulingkan rezim Soeharto pada tahun 1998? Siapa yang selalu di takuti presiden terkait kebijakan yang dibuatnya? Mereka adalah kaum muda. Pemuda yang intelek yang menginginkan perubahan.
             
Lalu pertanyaan lain muncul. Jika dulu semangat kaum muda berapi-api dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat, tapi mengapa kini seolah semangat itu perlahan-lahan menciut dan berakhir lenyap? Apakah kini idealisme perjuangan pemuda sudah tidak ada lagi? Lalu bagaimana dengan pemuda islam? Akankah bernasib sama dengan pemuda lainnya yang mengalami kemerosotan dalam segala hal? Pemikirannya, moralnya, serta kepedulian terhadap umat.
Sesungguhnya masyarakat manusia hari ini penuh sesak dengan pemuda-pemuda tetapi pemuda-pemuda ini hanyalah yang kosong, hanyut dan terbiar. Pemuda yang tidak berkepribadian. Pemuda yang tidak mempunyai akhlak. Pemuda yang dijadikan tentera oleh kuasa-kuasa jahat dan zalim.
Maka, disinilah perlunya kita berkaca pada zaman Rasulullah. Dimana gambaran seorang pemuda islam yang sejati adalah seorang pemuda yang menggadaikan hidupnya hanya untuk kebaikkan islam. 
Pada hakikatnya usia muda seorang pemuda ialah usia yang penuh dengan cita-cita yang tinggi dan darah yang gemuruh serta idealisme yang luas. Yaitu usia yang memberi pengorbanan. Usia yang menabur jasa, memberi kesan dan emosional.

Dari sini usia muda pemuda dalam perkiraan Islam mempunyai tanggungjawab dan nilai yang khusus dan kerana itu Rasulullah saw menekankan supaya pemuda-pemuda merasa demikian melalui sabdanya:

“Ambillah peluang lima perkara sebelum datangnya lima perkara:- Usia muda kamu sebelum tua, masa sehat sebelum sakit, harta kekayaan kamu sebelum miskin, masa hidup kamu sebelum mati, dan masa kosong kamu sebelum sibuk.”

Sebenarnya, target utama persiapan pemuda-pemuda Islam hari ini ialah untuk melaksanakan tercapainya 'Qawamah' (penguasaan) Islam terhadap masyarakat dan dunia. Ini merupakan tugas para pemuda Islam bagi memindahkan pimpinan umat dari tangan jahiliah ke tangan Islam. Dan juga pemikiran, perundangan dan akhlak jahiliah kepada pemikiran, perundangan dan akhlak Islam.

Amal seperti itu dan apa yang diperlukan olehnya, apa yang berhubung dengannya dan apa yang bercabang darinya atau apa yang dituntut olehnya dan juga tujuan terbesar dari persiapan seorang pemuda Islam tadi, perkara-perkara ini hendaklah dianggap penting oleh para pemuda Islam. Ini adalah wajib dari segi syara' dan itu tidak akan gugur dari tanggungjawab mereka sampaiKalimah Allah lebih tinggi dari kalimah-kalimah orang kafir.

Maka sudah seharusnya kita terus mempersiapkan diri untuk menjungjung tugas mulia ini. Caranya bagimana? Yakni dengan terus memperdalam tsaqofah keislaman kita dan mulai bergerak membuat perubahan dan menyongsong kebangkitan islam yang kedua. Jangan pernah kalah oleh kemelut yang semakin parah dan jangan pernah silau dengan kemilau dunia yang terus menggoda kita. Terus melangkah demi kejayaan isalam. Wallahu ‘alam bi ashowab..

Wednesday, 26 September 2012

“Innocence of Muslims” Alarm Kejam Untuk Umat Islam



Layaknya hujan yang tak kunjung reda, begitulah fitnah dan kedzaliman menimpa kaum muslim. Mulai dari kedzaliman sepanjang masa, seperti penzdaliman atas muslim di Palestina dan Dunia Timur Tengah lainnya, hingga fitnah yang  bersifat kontemporer, seperti isu terorisme, intoleransi beragama, radikal dan lain sebagainya. Semua itu tak pernah lepas dari kaum muslimin. Bagaikan sporadis yang kian menjamur tak kenal medan.
Kini, sebuah film kontrofersial “Innocence of Muslims”, sebuah fitnah yang sangat-sangat besar untuk Rasulullah saw, orang pertama yang paling berpengaruh di dunia, mencuat ke permukaan. Bukan tanpa alasan, seorang warga California, Amerika Serikat, Sam Bacile (semoga Allah melaknatnya!) berdalih membuat film yang teramat murahan itu untuk mengekspos kelemahan islam, yang tidak lain adalah represetasi dari kebenciannya yang teramat dalam terhadap islam. Sungguh, berita atas kebencian mendalam orang kafir ini terhadap islam sudah Allah peringatkan dalam Al-Qur’an. Tapi hanya sedikit, bahkan secuil orang yang sadar atas peringatan Allah itu. Sebagian besar malah bersilat lidah dan mencari muka di depan para kafir laknatullah itu! Termasuk para pemimpin di negeri-negeri islam saat ini. Mereka menjadi pengekor kaum kafir laknatullah. Buktinya, tak ada satu orang pun pemimpin negeri Islam yang berani bertindak tegas atas penghinaan keji yang dilakukan Sam Bacile terhadap Rasulullah.
Namun sayang sungguh sayang, ketika para pemimpin negeri islam bermental tempe itu tidak mampu bertindak tegas, hukum di Negara pelaku pun tidak mampu bertindak banyak atas perbuatan keji Sam Bacile. Alih-alih menghukumi perbuatan dustanya, tapi justru tak satu pasal pun yang mampu menjeratnya. Kebebasan berekspresi adalah alasan utamanya. Demokrasi adalah penyebabnya. Kapitalisme adalah biangnya.
Sungguh kebebasan dalam demokrasi adalah kebebasan yang absurd! Bukankah memakai jilbab bagi para muslimah di seluruh pelosok negeri sebuah kebebasan? Tapi mengapa Marwa Al-Syarbini malah harus mengorbankan nyawa untuk dapat berjilbab di Jerman? Tapi mengapa para siswi islam di Perancis dikeluarkan ketika mengenakan jilbab di sekolahnya? Tapi mengapa para pejuang islam meyuarakan syari’ah islam dianggap radikal dan bukan kebebasan berpendapat? Apakah makna sebenarnya “kebebasan” itu adalah kebebasan bagi para kaum liberal dan kafirun selain islam dan bermakna penindasan bagi kaum muslimin? Jika memang benar demikian, betapa tidak adilnya demokrasi memperlakukan kaum muslimin.
Wahai para pembaca yang budiman. Betapa saya sangat terluka atas keadaan islam dan kaum muslimin saat ini. Tidak kah Anda pun merasakannya? Sungguh, tidak ada yang mampu lagi menjaga kehormatan kaum muslimin saat ini. Tidak ada yang mampu membela kaum muslimin lagi saat ini. Kehormatan islam akan kembali terjaga hanya dengan adanya seorang pemimpin kaum muslim yang adil (Khalifah). Dan semoga “Innocence of Muslims” ini adalah sebagai alarm bagi tidur panjangnya kaum muslimin. Semoga kini umat muslim seluruh dunia bangun dan tersadar akan pentingnya menyatukan aqidah islamiah mereka dalam satu naungan institusi kaum muslim dunia yang akan menjaga martabat dan kehormatan kaum muslim seluruh dunia.  Aamiin.. Wallohu ‘alam bi ashowab.

Sunday, 8 April 2012

Wanita adalah Kunci Kebangitan Umat


              

              Kenalkah Engkau sahabatku dengan R.A Kartini? Bagaimana Dengan R.A Dewi Sartika? Cut Nyak Dien? Tentu sudah tidak asing di telinga lagi bukan? Lalu bagaimana dengan Aisyah r.a penyandang gelar Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq (perempuan yang sangat jujur dari orang yang sangat jujur)? Lalu Asma binti Yazid bin As-Sakan, seorang wanita ahli hadits, mujahidah yang agung, cerdas, taat beragama, dan ahli pidato, sehingga ia digelari orator wanita? Kenalkah? Aisyah r.a, Asma binti Yazid bin As-Sakan, dan banyak lagi yang lainnya adalah shahabiyah yang tangguh, pahlawan dan pejuang islam sejati.
Betapa tidak, dalam Islam, perempuan diposisikan sebagai perhiasan berharga yang wajib dijaga dan dipelihara. Ini tidak berarti mengekang perempuan dalam wilayah tertentu. Islam memberi peran bagi perempuan dalam ranah domestik dan juga publik sekaligus. Sehingga dimasa peradaban Islam tidaklah mengherankan jika kita mendapati banyak figur waita terbaik dan termulia sepanjang zaman. Mereka bersungguh-sungguh mengerahkan segenap kemampuan dalam menjunjung tinggi syiar Islam, membela agama Allah dengan ketulusan yang tidak diragukan, mencintai Allah dan Rasulullah dengan kecintaan yang mendalam “yang direfleksikan dengan ketaatan kepada risalah yang dibawanya” bersabar dengan segala kesulitan hidupnya, patuh dan menghargai suami dengan kepatuhan dan penghormatan yang patut diteladani, mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan yang baik hingga melahirkan pahlawan-pahlawan sejati yang dijamin masuk syurga, merelakan buah hati mereka terbunuh sebagai syahid membela agamaNya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terjun langsung dalam jihad fii sabilillaah demi meraih mardhatillah dan jannhaNya.
Jika dia sebagai anak, kemudian kedua orangtuanya atau salah satunya menyimpang dari batas yang telah ditentukan oleh agama, maka dengan cara yang sopan dan bijaksana, dia harus mengajak kedua orangtuanya kembali ke jalan yang baik, yang telah menjadi tujuan agama, disamping tetap menghormati kedua orangtua.
Wajib bagi setiap wanita (para istri), yaitu membantu suaminya dalam menjalankan perintah agama, mencari rezeki yang halal, menerima dan mensyukuri yang dimilikinya dengan penuh kesabaran, dan sebagainya.
Wajib pula bagi setiap ibu, mengajar anak-anaknya taat kepada Allah, yakni dengan menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya, serta taat kepada kedua orangtuanya.
Kewajiban bagi setiap wanita terhadap kawan-kawannya yang seagama, yaitu menganjurkan untuk membersihkan akidah dan tauhidnya dari pengaruh di luar Islam; menjauhi paham-paham yang bersifat merusak dan menghancurkan sendi-sendi Islam dan akhlak yang luhur, yang diterimanya melalui buku, majalah, film, dan sebagainya.
Muslimah menjadi anak yang shalihah dan berbakti kepada orang tuanya. Muslimah memberikan semangat kepada suaminya untuk berjuang hanya dan untuk islam. Muslimah menjadi pendidik dan pengajar yang mencetak pemuda-pemudi, muslim dan muslimah yang ta’at pada RabNya. Muslimah menjadi sahabat bagi muslimah lainnya yang merupakan jalan pengabdian pada Zat Yang Maha Sempurna.
Wanita adalah kunci kebangkitan umat. Karena ia adalah penggerak bagi orangtuanya, bagi suaminya, bagi anak-anaknya dan bagi sahabat-sahabatnya. Maka, marilah kita melayakkan diri menjadi wanita-wanita isalam yang ta’at kepada Rabbi, dan menjadi pejuang islam yang tangguh seperti para Shahabiyah di zaman Rasulullah dulu. Kita lah pengganti dan penerus rantai perjuangan para Shahabiyah dahulu.
Wallahu a’lam bi ash-shawab
(Sumber: Dr. Yusuf Al-Qardhawi & Edy Santoso)

Tresna Mustikasari (Tremusa)

Saturday, 24 March 2012

Sahabat, Jalan Pengabdian pada Zat Yang Maha Sempurna


“Jika kita harapkan dapat teman tanpa cela, maka jangan berteman dengan manusia, bertemanlah dengan malaikat. Jika kita inginkan tempat yang sempurna, jangan bertempat di dunia, tapi bertempatlah di surga. Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk menjadi teman atau sahabat, bukan juga untuk mengejar kesempurnaan dunia yang hanya sesaat, tapi kita ada di dunia adalah untuk belajar mengerti seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna dan memahami kata yang tak sempurna untuk mengabdi pada Zat Yang Maha Sempurna”.



                Teringat seorang guru sosiologi ketika SMA mengatakan bahwa manusia adalah makhluk  “zoon politicon” artinya mahluk yang hidup secara berkelompok, maka manusia akan merasa penting berorganisasi demi pergaulan maupun memenuhi kebutuhannya. Dengan kata lain manusia membutuhkan seseorang selain dirinya untuk hidup. Entah itu untuk dijadikan teman bicaranya, atau hanya sekedar suatu manfaat yang hendak diperoleh (pendidikan, kesehatan, jual beli, dll). Sejak kita dilahirkan ke dunia, untuk pertama kalinya bisa bernafas, untuk pertama kalinya bisa melihat indahnya dunia, hingga sekarang yang mungkin sudah berumur belasan atau bahkan puluhan tahun, kita tidak pernah bisa hidup tanpa orang lain.

Thursday, 12 January 2012

Seleksi Itu Sunatullah dan Fitrah




Ketika kita sedang berada dalam suatu komunitas, kelompok dakwah, atau bahkan suatu kumpulan tak bermakna sekalipun seleksi alam seringlah terjadi.  Tapi terkadang keadaan tersebut malam membuat kita menjadi patah semangat dan pesimis dalam mencapai tujuan semula kita. Malah tak jarang kita pun meragukan keberadaan kita dalam kelompok dakwah tersebut, apakah itu jalan yang di ridhai Allah atau tidak.
“Dia yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa dan Maha Pengampun” (TQS. Al-Mulk [67] : 2)

Begitulah cara Allah menunjukkan tingkat amal seseorang. Seiring dengan berjalannya waktu, kita akan melihat siapakah yang benar-benar ikhlas dalam mengemban kewajiban amar makruf nahi mungkar ini dan siapakah yang justru niatnya bukan semata-mata hanya karena Allah.
Kesulitan, kekurangan rezeky, waktu yang sempit, tenaga terkuras, pikiran terkuras, ditolak orang, dicemooh orang, itulah segelintir ujian yang biasa datang pada seorang pengemban dakwah. Namun, apakah pantas bagi kita untuk mundur hanya dengan ujian yang tidak seberapa dibandingkan dengan ujian yang datang pada Rasulullah? Bacalah kembali di Sirah Nabawiyah bagiamana dulu Rasulullah berjuang mengemban agama yang haq ini. Apakah perjalanannya mudah? Ingatkah saudaraku, ketika dulu Rasulullah diludahi? Ketika dulu Rasulullah dilempari kotoran unta? Ketika Rasulullah di fitnah sebagai tukang sihir? Apakah sebanding pengorbannanya dengan pengorbanan kita sekarang?
Sungguh, kesulitan dan kemudahan, sempit dan lapang, kaya dan miskin adalah ujian bagi kita. Yang terpenting sekarang adalah seberapa besar ketaqwaan kita kepada Allah, seberapa yakinkah kita terhadap janji kemenangan dari Allah, dan seberapa besar kesabaran kita untuk tetap istiqomah dalam jalan dakwah ini. Ingat, seleksi itu sunnatullah dan fitrah. Bagaimana dulu ketika kita pun terpilih terlahir didunia ini atas seleksi yang sangat ketat. Kurang lebih 280 juta sel sperma yang ada hanya sperma kita yang mampu bertahan sampai akhir. 
Maka dari itu, bagi kita yang masih bertahan dan tetap istiqomah dalam jalan dakwah ini, jangan lah menciut dan ragu karena melihat saudara kita yang berguguran. Do’akanlah saudara kita agar tetap berjuang menegakkan kembali keagungan aturan Allah di bumi Allah ini walau tak lagi bersama-sama dengan kita. Insya Allah, kita dikumpulkan kembali di Jannah-Nya kelak. Aamiin…
Bila dakwah itu bagaikan pohon, ada saja daun-daun yang berguguran. Tetapi pohon dakwah itu tak pernah kehabisan untuk menumbuhkan daun-daun baru, sementara daun yang berjatuhan hanya akan menjadi sampah sejarah. Teruslah bergerak hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu. Semoga kita adalah orang-orang unggulan dalam dakwah ini dan bukan menajdi daun-daun yang berguguran, semoga jalan ini yang akan mengumpulkan di Jannah-Nya kelak..

Wallohu a’lam bi ash-showab..

Tuesday, 10 January 2012

Evaluasi Akhir Tahun 2011



Tidak terasa kita sudah tiba di penghujung akhir tahun 2011. Tentu kita masih ingat dengan berbagai peristiwa politik yang terjadi di Indonesia. Mulai dari reshuffle pertama di bulan Februari dan yang ke dua di bulan Oktober yang dengan jelas mencerminkan kegagalan pemerintahan SBY. Juga DPR yang mencanangkan ingin membuat gedung DPR baru yang mewah yang padahal tidak sejalan dengan kinerjanya. DPR, yang katanya perwakilan rakyat ini terus bersenang-senang dengan kemewahannya. Milyaran rupiah sanggup dikeluarkan untuk pelantikan DPR yang hanya beberapa jam saja. Kocek negara terkuras habis hanya untuk membiayai pelesiran para pejabat yang tak tau diri.
Dari segi kebijakan, di tahun ini pemerintah mengeluarkan UU yang pro terhadap pemilik modal atau kepentingan suatu kelompok saja, bukan masyarakat. Misalnya saja keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian perdagangan bebas China-ASEAN (CAPTA) yang justru malah menjadi tindakan bunuh diri ekonomi Indonesia, penghapusan subsidi BBM yang semakin menyengsarakan rakyat, Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang merugikan rakyat, RUU Perguruan Tinggi (PT) yang semakin mempertegas slogan “Orang miskin tidak berhak sekolah”, serta UU Intelejen yang semakin mencerminkan arah perubahan pemerintahan yang semakin jelas menuju pemerintahan yang refresif dan liberal.
Dari segi keamanan Nasional, semakin banyak isu-isu politis yang meyudutkan ummat muslim dengan propaganda terorisnya. Bom Cirebon, bom Solo, serta mencuatnya islamophobia dengan maraknya NII, semakin memperkuat penyudutan terhadap para pejuang-pejuang islam, para pengemban dakwah yang berorientasi pada metode Rasulullah dan membawa ide syari’at islam yang kaffah.Kerusuhan massa yang terus terjadi, gejolak Papua yang selalu panas bagaikan daun kering yang mudah terbakar hanya dengan sulutan api kecil saja. Freeport yang tinggal selangkah lagi 100% penghasilannya dimakan asing, menyusul raibnya blok Natuna. Sedangkan TKI terus dibanggakan dan dijadikan komoditi utama yang menjadi devisa negara, padahal faktanya semakin besar angka kekerasan dan penganiayaan yang dialami para TKI khususnya TKW Indonesia.Maraknya kasus korupsi yang semakin terkuak layaknya kemunculan cacing-cacing tanah di musim hujan. Kasus Sri Mulyani dan Budiyono dengan Bank Centurynya, Nazaruddin, Gayus, Nurpati, Antasari dan Nunun yang seakan-akan menjadi benang kusut yang tak kan pernah diketahui dimana ujungnya.
Itulah segelintir catatan akhir tahun yang jika dipreteli satu persatu kegagalan pemerintahan SBY mungkin tidak cukup hanya dengan satu atau dua lembar kertas saja. Kegagalan pemerintahan saat ini semakin diperjelas dengan adanya aksi bakar diri mahasiswa yang kecewa terhadap kinerja pemerintah.
Menilik dari catatan di atas, sampailah pada kesimpulan bahwa: pertama, system yang tidak bersumber dari Allah SWT, pasti akan menimbulkan kerusakan dan akhirnya tumbang. Kedua, sekuat apa pun sezim yang otoriter, korup, menindas rakyat dan durhaka kepada Allah SWT, meski telah dijaga dengan kekuatan senjata dan dukungan oleh Negara adidaya, cepat atau lambat pasti akan tumbang dan tersungkur secara tidak hormat. Misalnya saja seperti jatuhnya Ben Ali, Mubarak, Qaddafi, Ali Abdullah Saleh, dan lain-lain. Ketiga, oleh karena itu, bila kita ingin sungguh-sungguh lepas dari berbagai persoalan yang tengah membelit negeri ini, maka kita harus memilih system yang baik dan pemimpin yang amanah.
Sistem yang baik hanya mungkin datang dari Dzat yang Maha Baik, itulah Syari’ah Allah dan pemimpin yang amanah adalah yang mau tunduk pada system yang baik itu.
Wallahua’lam bi ash-shawab.