Wednesday, 26 September 2012

“Innocence of Muslims” Alarm Kejam Untuk Umat Islam



Layaknya hujan yang tak kunjung reda, begitulah fitnah dan kedzaliman menimpa kaum muslim. Mulai dari kedzaliman sepanjang masa, seperti penzdaliman atas muslim di Palestina dan Dunia Timur Tengah lainnya, hingga fitnah yang  bersifat kontemporer, seperti isu terorisme, intoleransi beragama, radikal dan lain sebagainya. Semua itu tak pernah lepas dari kaum muslimin. Bagaikan sporadis yang kian menjamur tak kenal medan.
Kini, sebuah film kontrofersial “Innocence of Muslims”, sebuah fitnah yang sangat-sangat besar untuk Rasulullah saw, orang pertama yang paling berpengaruh di dunia, mencuat ke permukaan. Bukan tanpa alasan, seorang warga California, Amerika Serikat, Sam Bacile (semoga Allah melaknatnya!) berdalih membuat film yang teramat murahan itu untuk mengekspos kelemahan islam, yang tidak lain adalah represetasi dari kebenciannya yang teramat dalam terhadap islam. Sungguh, berita atas kebencian mendalam orang kafir ini terhadap islam sudah Allah peringatkan dalam Al-Qur’an. Tapi hanya sedikit, bahkan secuil orang yang sadar atas peringatan Allah itu. Sebagian besar malah bersilat lidah dan mencari muka di depan para kafir laknatullah itu! Termasuk para pemimpin di negeri-negeri islam saat ini. Mereka menjadi pengekor kaum kafir laknatullah. Buktinya, tak ada satu orang pun pemimpin negeri Islam yang berani bertindak tegas atas penghinaan keji yang dilakukan Sam Bacile terhadap Rasulullah.
Namun sayang sungguh sayang, ketika para pemimpin negeri islam bermental tempe itu tidak mampu bertindak tegas, hukum di Negara pelaku pun tidak mampu bertindak banyak atas perbuatan keji Sam Bacile. Alih-alih menghukumi perbuatan dustanya, tapi justru tak satu pasal pun yang mampu menjeratnya. Kebebasan berekspresi adalah alasan utamanya. Demokrasi adalah penyebabnya. Kapitalisme adalah biangnya.
Sungguh kebebasan dalam demokrasi adalah kebebasan yang absurd! Bukankah memakai jilbab bagi para muslimah di seluruh pelosok negeri sebuah kebebasan? Tapi mengapa Marwa Al-Syarbini malah harus mengorbankan nyawa untuk dapat berjilbab di Jerman? Tapi mengapa para siswi islam di Perancis dikeluarkan ketika mengenakan jilbab di sekolahnya? Tapi mengapa para pejuang islam meyuarakan syari’ah islam dianggap radikal dan bukan kebebasan berpendapat? Apakah makna sebenarnya “kebebasan” itu adalah kebebasan bagi para kaum liberal dan kafirun selain islam dan bermakna penindasan bagi kaum muslimin? Jika memang benar demikian, betapa tidak adilnya demokrasi memperlakukan kaum muslimin.
Wahai para pembaca yang budiman. Betapa saya sangat terluka atas keadaan islam dan kaum muslimin saat ini. Tidak kah Anda pun merasakannya? Sungguh, tidak ada yang mampu lagi menjaga kehormatan kaum muslimin saat ini. Tidak ada yang mampu membela kaum muslimin lagi saat ini. Kehormatan islam akan kembali terjaga hanya dengan adanya seorang pemimpin kaum muslim yang adil (Khalifah). Dan semoga “Innocence of Muslims” ini adalah sebagai alarm bagi tidur panjangnya kaum muslimin. Semoga kini umat muslim seluruh dunia bangun dan tersadar akan pentingnya menyatukan aqidah islamiah mereka dalam satu naungan institusi kaum muslim dunia yang akan menjaga martabat dan kehormatan kaum muslim seluruh dunia.  Aamiin.. Wallohu ‘alam bi ashowab.