Saturday, 30 November 2013

Posisi Australia: Kawan atau Lawan?



            Layaknya seorang anak kecil yang mudah bertengkar dan kemudian berbaikan kembali, itulah kiranya hubungan antara Indonesia dan Australia.  Wajar saja jika antara keduanya telah lama menjalin hubungan diplomatis, karena secara geografis Australia adalah negara tetangga yang berada di sebelah selatan Indonesia, dan bagi Australia, Indonesia adalah negara tetangga terdekat.
Sepanjang sejarah, kedua negara ini memiliki hubungan yang panjang dan fluktuatif. Tak jarang keduanya pun terlibat konflik yang cukup sengit. Ketika terjadinya konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia, Australia turut campur dengan berpihak kepada Malaysia. Militer Australia yang ketika itu mendukung Malaysia, terlibat pertempuran dengan militer Indonesia di Borneo (Kalimantan). Muncul anggapan pula bahwa Australia turut campur atas kejadian pemisahan Timor Timur (sekarang Timor Leste) dari Indonesia pada 1999. Pernah pula sebagian kongres Australia membiarkan masuknya gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) ke wilayah Australia.

Sunday, 17 November 2013

Miss Rapi - HARUS!!


Seringkali saya mendapat sindiran mengenai kebiasaan saya yang teliti dalam hal kebersihan. Sekali waktu pernah seorang teman baru di tingkat pertama kuliah berkunjung ke kostan. Ia sedikit takjub dengan rapi nya penataan ruangan kamar saya yang kecil. Lantas saya berceletuk (dengan sedikit bercanda), “Mendingan saya tidur di karpet dari pada saya tidur di atas kasur dan membuat seprainya berantakan”. Seketika itu teman-teman tertawa melihat keekstriman saya menjaga kerapihan kamar. Sebenarnya, sih, tidak seekstrim itu. Hanya saja yang saat itu sepreinya kurang bersahabat, tidak pas dengan kasurnya, sehingga mudah kusut, dan yang saya maksud itu kalo tidur sebentar, bukan tidur malam.
                Memang saya termasuk orang yang suka kerapihan dan kebersihan. Saya suka keteraturan. Melihat tumpukkan buku yang tidak rapih saja saya risi. Saya selalu menyusunnya dari yang terbesar ke yang terkecil. Melihat rambut satu saja di karpet saya tidak nyaman, tak heran ketika saya ngekost sendiri, hampir tiga kali sehari saya menyapu karpet. Jika sedang mengerjakan tugas, sisa-sisa penghapus selalu saya kumpulkan disatu tempat, tidak membiarkan bertaburan begitu saja. Dan banyak lagi hal-hal yang saya rasa itu penting untuk dirapihkan.

Wednesday, 13 November 2013

Beasiswa Data Print 2013



Wah, seneng ya kalo kita bisa kuliah dengan tenang tanpa harus memikirkan biaya ini itu. Gak perlu pusing mikirin uang fotocopyan, gak perlu mikirin uang ongkos ke kampus, dan biaya-biaya lainnya. Bagi orang yang mampu munkin kondisi ideal itu sangat mudah didapatkan, tapi buat mahasiswa tidak mampu, atau kalau pun mampu ia dituntut harus mandiri mencari biaya sendiri, sepertinya sangatlah sulit. Kalau pun dapat beasiswa, udah akhir-akhir tahun kayak gini, siap-siap aja gigit jari, menunggu pencairan beasiswa alih tahun yang begitu lamanya, PHP (pemberi harapan palsu), hehehe

Eitsss, jangan galau dulu. Ternyata Data Print mengerti kebutuhan kita! :D
Di tahun ini, Data Print memberikan 500 beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa. Ya lumayan lah buat membantu nafas kita di penghujung tahun.. hehehe

Tuesday, 12 November 2013

Mengagumi Hanya Karena Allah


Kagum merupakan kata sifat yang dalam kamus besar bahasa Indonesia di definisikan sebagai perasaan heran (dengan rasa memuji); takjub; atau tercengang. Rasa kagum identik dengan sesuatu yang positif bagi seorang yang melihat/mengetahuinya. Misalnya, jika ada orang mengagumi seseorang karena penampilannya yang selalu rapih, maka menurut orang itu penampilan rapih adalah hal yang positif. Tapi berbeda dengan orang yang mengagumi seseorang karena penampilannya yang modis [meski terkadang tak rapih], maka menurut orang itu penampilan yang modis adalah hal yang positif.

                Rasa kagum merupakan rasa alamiah yang dimiliki setiap manusia. Rasa kagum merupakan salah satu bentuk ekspresi dari naluri at-tadayun [mengkultuskan sesuatu]. Sebagimana kata seorang pembicara dalam acara PAM FIGHTER [DKM Unpad] , beliau mengatakan rasa kagum adalah tingkatan pertama [sebelum takjub dan takdis] dalam naluri at-tadayun. Karena rasa kagum itu merupakan bentuk ekspresi dari naluri at-tadayun, maka dia akan muncul ketika ada dorongan luar selain dirinya. Kali ini, saya akan memfokuskannya pada dorongan manusia, bukan benda. (Baca Selengkapnya)

Saturday, 2 November 2013

PAM FIGHTER 2013

PAM FIGHTER adalah event besar bagi kalian mahasiswa, khususnya mahasiswa baru agar ikut aktif dalam kegiatan dakwah di DKM UNPAD
Dengan pembicara-pembicara yang luar biasa
1. Erwin Permana (intelectual Muslim Speaker)
2. Agus Suryana
3. Dede Sulaiman
4. Rizqi Awal Palembani
Sabtu s.d Ahad pukul 08.00-15.00 di PSBJ FIB UNPAD
hubungi
fb: dkm unpad
twitter: @dkm_unpad
@pamfighter2013

http://www.youtube.com/v/NChtAdLK8OI?version=3&autohide=1&autohide=1&feature=share&showinfo=1&autoplay=1&attribution_tag=sLpwe0bH-o9Z-sYDl6v6Qw

PAM FIGHTER 2013



Jalan "perjuangan" itu sedkit sekali orang yang memilihnya, bukan karena penuh jalan yang terjal dan tebing curam, dan kerikil tajam di dlamnya, karena memang tak ada. Akan tetapi karena mereka hanya melihat dari tepian "perjuangan" itu dan tanpa pernah mencoba untuk merasa. padahal "perjuangan" ini tak ada celah untuk diabaikan begitu saja.
Bahkan pekikan suara "perjuangan" membesarkan Sang Ahad telah mengguncangkan tanah tempat "perjuangan" ini. Tanda kemegahan "perjuangan"nya.
Sudah saatnya. berhentilah sejenak, mulailah melihat perjuangan ini, kemudian teguhkanlah keyakinan untuk trut berjuang karena ini seruan yang berlandaskan atas komando Sang Maha Segalanya

Ayo para Pejuang Perubahan.
Kebaikan menunggu untuk diraih, Kesuksesan menunggu untuk dicapai, Indahnya Surga menunggu untuk dirasakan...
mereka menunggu di kegagahan Puncak Bukit #PAMFIGHTER
dari kami karena Allah
Untukmu para penduduk bumi Padjadjaran

by: Nurtipa Sari Isnaini


http://youtu.be/NChtAdLK8OI

Monday, 14 October 2013

Mengembalikan Peran Penting Pemuda Sebagai Harapan Bangsa


            Oktober merupakan bulan yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Setiap tahunnya di setiap tanggal 28 Oktober menjadi momen penting untuk mengenang kebangkitan para pemuda zaman dulu. Bermula pada tahun 1908 kaum muda bertekad menyatukan seluruh Nusantara dengan sebutan Indonesia. Mereka berkumpul dengan menyebut dirinya sebagai Perhimpunan Indonesia. Perhimpunan Indonesia adalah organisasi yang didirikan oleh pelajar-pelajar Indonesia di negeri Belanda. Organisasi ini awalnya bernama Indische Vereeniging. Namun, pada tahun 1922 nama itu diganti menjadi Indonesische Vereeniging, tetapi pada tahun yang sama namanya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia.
Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia. Namun ternyata sumpah pemuda yang mejadi simbolis kebangkitan pemuda itu menjadi penyemangat ‘temporal’ kaum muda saat ini. Semua pemuda terutama mahasiswa gencar menyuarakan ‘kebangkitan’ yang mereka usung di tanggal tersebut. Hanya sehari itu saja. Berbeda dengan pemuda zaman dulu yang hanya untuk mengopinikan kata ‘Indonesia’ saja memerlukan tempo 10 tahun.
Pemuda sejatinya adalah kaula muda yang selalu terdepan dalam memperjuangkan hak hidupnya. Raja dangdut, Rhoma Irama mengatakan bahwa darah muda adalah darah yang berapi-api. Bahkan Ir. Soekarno pun mengatakan seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia. Artinya pemuda merupakan tonggak utama yang bisa memprakarsai kebangkitan suatu bangsa. Pemuda merupakan generasi penerus sebuah bangsa, kader bangsa, kader masyarakat dan kader keluarga. Pemuda selalu diidentikan dengan perubahan.
Sejarah membuktikan bahwa berbagai hal menyangkut perubahan dan pembangunan, selalu identik dengan adanya campur tangan pemuda. Di berbagai belahan dunia perubahan sosial politik menempatkan pemuda di garda depan. Peranannya besar, dan mendasar. Pengaruhnya kuat dan mengakar. Hampir dipastikan di setiap revolusi besar dunia berawal dari gerakan pemuda. Misalnya saja ketika terjadinya perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah Belanda sebagian besar pemprakarsa awalnya adalah kaum muda. Lalu ketika terjadi kemerdekaan RI, pencetusnya sebagian besar adalah pemuda. Pencetus revormasi pengguling rezim Orde Baru adalah mahasiswa alias pemuda. Di dunia internasional, Robespierre dan Napoleon Bonaparte menjadi pemuda yang memiliki peran penting dalam revolusi Perancis.
 Gambaran pemuda sebagai sosok unggul, pilihan, bergairah, bergelegak dan bergelora secara fisik, psikis, intelektual, serta yang terpenting sikapnya itu ternyata berbeda dengan gambaran pemuda saat ini. Pemuda sebagai sosok superior, progresif, revolusioner dengan api berkobar-kobar, dan bara spirit yang menyala-nyala kini sudah jarang nampak bahkan lenyap sama sekali. Secara etimologi pun pemuda dari masa ke masa mengalami degradasi dan penyempitan makna. Seperti yang disampaikan oleh Bennedict Anderson, misalnya, menyebut bahwa definisi “pemuda” sejak revolusi kemerdekaan  sampai menjelang orde lama mereka selalu dikaitkan dengan “dimensi politik”. Akan tetapi setelah Orde Baru berkuasa bukan hanya terjadi degradasi makna bahkan dekadensi. Pergesaran makna “Pemuda” menjadi “Remaja”. Artinya hasil dari depolitisasi pemerintah Orde Baru, Pemuda mengalami pergeseran makna yang dulunya memuat dimensi politis, menjadi “Remaja” yang berkaitan dengan soal gaya hidup. Disinilah pemuda menjadi massa yang mengambang (floating mass). Pemuda menjadi kalangan yang seringkali “galau”. Lebih jauh lagi, makna “Remaja” pun semakin bergeser menjadi “ABG”, yang sangat identik dengan sesosok kaula muda yang lemah.
Jika dulu para pemuda gemar memperjuangkan hak-hak rakyat, berkutat dengan politik, bergulat dengan problem sosial, tapi kini pemuda atau remaja lebih sering disibukkan dengan kehidupan pribadi. Kebanyakan mereka sibuk dengan urusan cinta, sibuk dengan mencari harta dan jabatan semata, sibuk dengan hiburan dan hura-hura, hidup hanya untuk memenuhi hasrat yang sekejap mata. Gaya hidup yang penuh dengan pesta, dugem, ada genk motor, gila bola, dan club club lainnya yang isinya penuh dengan kesenangan dunia. Kemudian ditambah dengan kondisi yang penuh dengan nafsu syahwat. Dalam sebuah survei komnas anak di 12 provinsi dengan responden 4500 remaja (2010) didapatkan data bahwa 21.2 % anak SMA pernah aborsi, 62.7 % anak SMP sudah tidak perawan, 93.7 % pernah berciuman, 93-97 % pernah melihat porno. Lalu bagaimana dengan nasib pemuda intelektualnya? Menurut survei yang dilakukan Bank Mandiri, sebanyak 900.000 lulusan sarjana dari berbagai  Perguruan Tinggi (PT) yang tersebar di seluruh Indonesia masih menganggur alias tidak mempunyai pekerjaan tetap.
Lantas bagaimana peran mahasiswa sekarang dalam pembangunan bangsa? Bagaimana arah pergerakan mereka di zaman demokratis ini? Ternyata mereka seakan-akan mandul. Jika saat orde baru potensi pemuda sebagai agent of change dan agent of control mass sengaja dimatikan oleh rezim yang ada, namun sekarang meski dengan berbagai kebebasan yang ada, pemuda khususnya mahasiswa malah semakin apolitis. Hal ini diakibatkan oleh semakin individualisnya setiap masyarakat yang hidup dalam naungan demokrasi. Ini mengakibatkan tidak pekanya dia terhadap sekitarnya. Kemudian gaya hidup yang hedon dan tuntutan hidup mewah menjadi penyebab para intelektual muda menyibukkan dirinya dengan mencari harta, jabatan dan tahta. Mereka tak peduli apakah itu baik untuk bangsanya atau malah meruntuhkan bangsanya, yang penting dia memiliki segudang manfaat dari apa yang dilakukannya. Pantaskah kita berharap banyak pada gambaran pemuda yang seperti ini?
Oleh sebab itu, selayaknya kita kembali merekonstruksi kaula muda ini. Menimbulkan kesadaran bahwa dia hidup tidak hanya untuk kesenangan dunia semata, menyadarkan bahwa dia hidup di dunia hanya sementara, serta menyadarkan bahwa dia akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak menjadi satu poin penting yang mesti dilakukan agar jiwa sejati pemuda kembali hadir. Dengan begitu dia akan kembali peduli terhadap keadaan masyarakat sekitarnya. Ia tidak akan tinggal diam dengan kedzaliman yang meraja rela. Ia tidak akan mudah dibohongi para pemilik kepentingan.

Wallohu’alam bi ashowab..

Sunday, 29 September 2013

Suriah: Bangsa yang Dilupakan

Masih teringat dibenak kita kejadian bom maraton di Boston yang memakan korban tewas kurang lebih tiga orang. Sungguh luar biasa reaksi yang diberikan dunia pada negara adidaya ini. Semua mata menangis, semua orang mengutuk, semua orang mencaci sang pelaku yang padahal masih belum jelas kala itu siapa sang tertuduh. Selalu teroris (baca: islam) yang menjadi terdakwa utama. Semua mata memicing mencari sang pelaku. Setiap detik surat kabar meng-update info. Setiap saat para reporter berburu berita. Setiap waktu para presenter menceritakan kronologis yang hanya itu-itu saja. Semua channel tak absen mewartakannya. Lantas apa reaksi dunia saat mengetahui hal yang serupa bahkan lebih sadis dari pada itu menimpa kaum muslim? Sebutlah Suriah. Sebuah negara yang sejak Maret 2011 ini bergejolak antara masyarakat melawan tiran. Tahukah berapa korban jiwa tak berdosa yang telah gugur? Tak sebanding dengan Boston!
            Tidak hanya itu, Suriah telah menjadi bangsa yang sengaja dilupakan dunia. Lihat bagaimana media mem-blow up Mesir? Lihat bagaimana orang menangisi Rohingya? Tapi bagaimana dengan Suriah? Apakah ini suatu kebetulan? Padahal dilain pihak para penguasa dunia sedang berlomba menjadi sang empunya. Amerika, Rusia dan negara pemegang kuasa dunia sedang menyusun rencana. Mereka bak hero yang peduli akan masyarakat Suriah. Namun ternyata yang mereka pikirkan adalah bagaimana agar negara yang juga kaya dengan minyak itu tak jatuh pada kekuatan besar kaum muslim dan pada akhirnya kembali ke pangkuan antek Amerika sebagaimana Bassar Al-Assad yang telah lebih dari setengah abad menjadi pelayannya. Obama sang pionir dan panglima perang Suriah menarik ulur waktu. Ia menyandang senapannya dan kadang kala ia letakkan kembali. Ia mengatakan, “Saya telah mengambil keputusan” kemudian ia kembali mengatakan, “Saya menunggu kongres…” Selama itu, dia mempelajari hasil-hasil serangan, apakah bisa menuntun ke arah Jenewa dan negosiasi atau tidak. Apakah bisa memaksakan anteknya duduk di pemerintahan atau tidak. Karena itu Obama menangguhkan pelaksanaan serangan.
            

Wahai kaum muslim, sadarlah! Meraka (baca: Suriah) adalah saudara kita. Mereka sudah puas dibom bardir berbagai macam senjata. Dari senjata fisika sampai kimia. Sudah banyak kaum wanita yang menderita, anak-anak yang terkoyak, lansia yang mati dengan cara sia-sia.
Wahai seluruh umat manusia di dunia, sadarlah! Kemana Hak asasi manusia yang selama ini kau puja-puja? Kemana rasa kemanusiaan yang selama ini kau agung-agungkan? Sampai kapan nyawa tak berdosa menjadi tumbal hausnya kekuasaan tiran yang durjana?
Wahai media, sadarlah! Sampai kapan kau ditunggangi para penista dunia? Iming-iming kenikmatan dunia tak sebanding dengan apa yang rakyat Suriah korbankan. Melebihi itu, kau tak kan pernah tahu seberapa pedih siksaan Allah pada orang yang menyembunyikan kebenaran. Mari kita bersatu, siapkan segala senjatamu dan kabarkan pada dunia Suriah tak boleh dilupakan. Suriah butuh dukungan kita.


Mohon maaf jika terkesan terlalu subjektif dan menjujge, tapi inilah curahan hati saya, benarnya dari Allah, kesalahan murni datangnya darisaya pribadi

Wallohu’alam bi ashowab..

Monday, 9 September 2013

Miss World Tak Menjamin Peningkatan Pariwisata


Miss World kini telah berlangsung kurang dari sepekan. Acara pemilihan ratu sejagat itu dilaksanakan pada tanggal 4-15 September di Nusa Dua, Bali. Diperkirakan akan hadir kontestan dari 140 negara yang tersebar di lima benua. Pro dan kontra terus terjadi sejak April 2013 dan akan semakin keras menuai penolakan bahkan ketika pun hanya jadi digelar di Bali, Indonesia. Beramai-ramai ormas islam dan juga majelis ulama tingkat kabupaten atau daerah bahkan MUI menyuarakan penolakan diadakannya Miss World ini. Alasan utamanya adalah karena Miss World bukan budaya Indonesia dan telah melecehkan kedudukan Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama muslim.
            Penolakan tidak hanya didapat dari ormas islam dan MUI, tapi juga dari jajaran pemerintahan sendiri. Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, Surahman Hidayat mengatakan kontes kecantikan Miss World bernuansa merendahkan martabat perempuan. Menurutnya, banyak kegiatan yang lebih sesuai dengan budaya Indonesia dan agama untuk menggali dan meningkatkan potensi wanita Indonesia. Ia pun mengatakan ajang Miss World tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, dan nilai-nilai ajaran agama. Tak hanya Surahman Hidayat, Menteri Agama Republik Indonesia, Suryadharma Ali pun dengan tegas mengatakan bahwa pemerintah harus mepertimbangkan kembali perizinan diadakannya Miss World di negeri Khatulistiwa ini.
            Imam Besar FPI, Habib Rizieq menegaskan bahwa pemerintah saat ini seharusnya bisa dengan tegas mengambil sikap dan patut belajar terhadap presiden Soeharto dulu. Ia menceritakan bagaimana Presiden Soeharto menolak adanya kiriman Putri Indonesia ke ajang Miss World di luar negeri pada saat itu.  Dahulu, ada satu kelompok ingin mengirim Putri Indonesia ke ajang Miss World di luar negeri dan mendatangi Menteri Pemberdayaan Wanita Mien Sugandi.  Keputusan tersebut lantas tidak bisa diputuskan langsung oleh menteri dan akan membicarakannya kepada Bapak Presiden. Esoknya, Ibu Mien Sugandi bertemu dengan Presiden Soeharto. Hanya dalam waktu 10 menit Sugandi sudah keluar dari ruang rapat dan ditunggu oleh para wartawan untuk dimintai hasil dari rapat tersebut. Rizieq mengungkap, Ibu Mien mengatakan kepada wartawan bahwa Presiden Soeharto hanya menyampaikan satu kalimat yaitu "itu bukan budaya kita". Dengan pernyataan tersebut, tidak ada satupun putri Indonesia yang dikirim untuk mengikuti Miss World ataupun Miss Universe.  Tidak hanya mereka, hampir seluruh lapisan masyarakat dengan masif melakukan penolakan baik secara nyata maupun maya. Mereka dengan yakin menyatakan bahwa Miss World harus ditolak dan tidak ada kata kompromi.
            Namun ternyata gayung selalu tak bersambut. Segala penolakan yang dilakukan berbagai elemen masyarakat tak digubris bahkan dilirik sedikit pun. Padahal katanya Indonesia adalah negara yang demokratis, namun suara penting dari banyak pihak saja tak didengarkan. Alasan yang selalu dikambing hitamkan atas Miss World ini adalah bahwa Miss World akan mendongkrak pendapatan pariwisata Indonesia. Miss World bisa menjadi ajang promosi pariwisata gratis ke mancanegara, sehingga bisa mendatangkan keuntungan bagi Indonesia. Dan jelas pula dengan adanya Miss World akan mendatangkan turis mancanegara yang artinya Indonesia akan mendapatkan banyak keuntungan. Mereka pun mengelak dari tuduhan ‘mengumbar aurat’. Pasalnya Miss World tahun ini tidak akan menampilkan sesi bikini, namun diganti dengan pakaian khas Bali, yaitu sarung Bali. Mereka berkata, sungguh tidak benar orang yang berkata Miss World akan membangkitkan atau memanjakan syahwat kaum pria, karena mereka yakin kaum pria tak serendah itu. Padahal jika kita mau menganalisis kasus tindak kriminal khusunya pemerkosaan yang sering terjadi di Indonesia, mayoritas motif dari perlakuan keji itu adalah karena minimnya pakaian yang dikenakan sang wanita sehingga menumbuhkan gairah syahwat pria. Bisa dibayangkan, hanya segelintir wanita yang berpakaian minim saja sudah banyak kasus, apa lagi jika Miss World berhasil digelar, maka kurang lebih selama sebulan penuh kaum adam disuguhi tontonan pengumbar syahwat secara terus menerus dalam skala internasional, tersistematis.
            Lantas benarkah Miss World akan menaikkan pendapatan pariwisata Indonesia? Jika hanya menaikan dalam waktu yang temporal, maka jawabannya ya. Namun jika dikatakan akan mengalami kenaikan pendapatan secara kontinu, maka jawabannya tidak. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Mari Elka Pangestu, mengatakan kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dalam KTT APEC 2013 Oktober mendatang di Indonesia akan menjadi pendorong utama pertumbuhan pariwisata pada tahun ini. Dari sana jelas bahwa menteri pariwisatanya sendiri pun tak mengunggulkan dampak dari Miss World, tapi dengan tanpa ragu dia mengatakan bahwa KTT APEC 2013 lah yang menjadi pendorong utama pertumbuhan pariwisata Indonesia. Tak hanya itu, KH Muhyiddin Junaidi, Ketua MUI mengatakan bertumbuh kembangnya turis dari mancanegara dengan diselenggarakan Miss World di Indonesia alasan saja. Bahkan, Muhyiddin mengimbau, Indonesia seharusnya belajar dari Turki dan Malaysia, yang tidak ikut kontes ratu kecantikan sejagat tetapi dunia pariwisata kedua negara itu berkembang.
            Jadi, sesungguhnya kepentingan utama dari penyelenggaraan Miss World ini bukan untuk kemajuan pariwisata negara yang selalu digembor-gemborkan. Namun ini jelas kepentingan sekelompok tertentu saja. Jika tidak untuk kepentingan kalangan tertentu, mengapa dengan suka rela pihak panitia menghalalkan segala cara untuk memuluskan jalannya acara ini. Seperti yang dilansir oleh MUI, banyak iming-iming menggiurkan yang panitia tawarkan terhadapnya. Tawaran itu antara lain pertama, pemberian fasilitas jaringan Indovision gratis selamanya kepada seluruh jaringan kantor MUI dari pusat hingga daerah. Serta sekolah madrasah dan pesantren yang masuk dalam jaringan MUI di seluruh Indonesia. Kedua, beberapa pengurus MUI pusat yang semuanya ulama itu dijanjikan jabatan akan menjadi Dewan Pengawas Syariah (DPS) di MNC Grup. Ketiga, pengurus MUI akan dijadikan penasihat di balik layar, untuk penyelenggaraan Miss World yang akan digelar September mendatang.

Sadarlah saudaraku, Miss World dan ajang ratu-ratu-an lain itu tidak sesuai dengan islam. Tidak hanya islam, bahkan pun tidak sesuai dengan nilai budaya Indonesia yang selalu menjunjung budaya ketimuran. Kontes ini berasal dari dunia Barat yang jauh dari ajaran-ajaran luhur islam. Kontes ini pertama kali dilangsungkan tahun 1951 di Inggris dan diselenggarakan pertama kali oleh Eric Morley. Sebutan kontes itu awalnya adalah ‘Bikini Contest Festival’, sebelum media kemudian menyebutnya sebagai Miss World. Jelas! Ini tidak sesuai dengan islam dan bukan budaya Indonesia. Maka, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak menolak ajang kemaksiatan ini. Karena dampak moral dari digelarnya ajang ini akan sangat besar bagi Indonesia, khususnya generasi muda Indonesia. Akan di bawa kemana bangsa ini jika moral generasinya telah hancur?


Wallohu’alam bi ashowab.

Sunday, 25 August 2013

Ilmu: Kunci Kesuksesan Dunia dan Akhirat



            Pernah gak, sih, kita berpikir, “buat apa kita sekolah sejak kecil hingga dewasa?”. OK lah, mungkin ilmu kelas satu SD dulu -membaca, menulis dan menghitung- sungguh sangat bermanfaat hingga kita dewasa. Tapi, bagaimana dengan pelajaran IPA SD kita? IPS kita? Biologi, Kimia, Matematika, Fisika, dan yang lainnya, seringkah kita amalkan? Ada sebagian orang yang berpikir, “ya kita menuntut ilmu agar kita pintar, kalo kita pintar kita bisa dapat kerja yang bagus, terus nanti kita kaya deh!” Sesempit itu kah? Kalau memang hasil akhir dari kita menuntut ilmu hanya untuk sekedar mendapatkan ijazah, kerja dan kaya saja, sungguh buang-buang waktu. Toh orang lain juga ada yang lebih kaya, padahal dia gak menempuh pendidikan yang tinggi. Mau contoh? Bill Gates, pendiri dan ketua umum perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft. Siapa sangka dia ternyata di DO dari Harvard dan sebelumnya pernah bekerja sebagai Office Boy. Kemudian Mark Zuckerberg, dia mengembangkan sebuah situs penghubung mahasiswa Harvard menjadi Facebook. Dan tahukah teman? Dia pun di DO dari Harvard sebagaimana Bill Gates. Dan banyak lagi contoh yang dia sukses tapi dia tak sempat berpendidikan tinggi.
            Memang, jika kita hanya berpikir urgensi dari menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan kesuksesan duniawi saja, itu merupakan pemikiran yang keliru. Mengapa? Karena hakikat menuntut ilmu yang sesunggunya adalah untuk menabur kebaikan. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, ia berkata: “Kebaikan anak Adam adalah dengan iman dan amal shalih, dan tidaklah mengeluarkan mereka dari kebaikan, kecuali dua perkara: Pertama, Kebodohan, kebalikan dari ilmu, sehingga orang-orangnya akan menjadi sesat. Kedua, Mengikuti hawa-nafsu dan syahwat, yang keduanya ada di dalam jiwa. Sehingga orang-orang akan mengikuti hawa-nafsu dan dimurkai (oleh Allah)”. (Majmu’ Fatawa 15/242)

Sunday, 4 August 2013

Benarkah UKT Solusi Mahalnya Pendidikan?

Pendidikan kerap menjadi polemik di negeri katulistiwa ini. Betapa tidak, sudah hampir 68 tahun negeri ini ‘katanya’ merdeka. Namun, tak ada perubahan signifikan dalam dunia penididikan kita. Setiap tahun ada saja kebijakan yang berubah. Bak kelinci percobaan, para pelajar dicocoki dengan berbagai kebijakan yang kabur, tak memiliki tujuan jelas. Misalnya saja kita tilik kurikulum pendidikan di Indonesia yang sering berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan. Perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2012 dan yang terbaru 2013. Tak heran jika mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap.
            Tak hanya itu, mahalnya biaya pendidikan menjadi buah bibir tersendiri. Bahkan, akhir bulan Juni kemarin masa terkagetkan dengan aksi seorang ayah yang rela menjual ginjalnya demi menebus ijazah sang anak. Tragedi bundaran HI lebih tepatnya. Dan Masih banyak ribuan bahkan jutaan kisah masyarakat kecil yang jatuh bangun hanya untuk dapat mengnyam manisnya pendidikan. Sungguh ironis, di saat bangsa ini membulatkan tekad untuk menjadikan pendidikan sebagai hak setiap warga negara sesuai yang termaktub dalam UUD pasal 31 ayat 1, tapi pemandangan ‘indah’ anak-anak putus sekolah pun sering kita jumpai. Tak hanya di satu daerah tertentu saja, tapi hampir di seluruh pelosok indonesia ada anak-anak yang putus sekolah.
            Karut marut pendidikan di Indonesia semakin keruh dengan adanya kebijakan baru mengenai sistem pembayaran perguruan tinggi negeri di wilayah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Terhitung ada 92 PTN yang sampai saat ini telah menetapkan kebijakan uang kuliah tunggal (UKT). Kebijakan Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) ini diberlakukan mulai tahun akademik 2013/2014 sebagaimana Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 55 Tahun 2013 tentang BKT dan UKT Pada Perguruan Tinggi Negeri di lingkungan Kemendikbud, khususnya pasal 5. 
            BKT merupakan besaran yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan pendidikan untuk setiap mahasiswa per semester. Setiap BKT memiliki besaran UKT yang berbeda, ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu indeks jenis program studi (K1), Indek mutu PT (K2) dan Indek kemahalan wilayah PT (K3). Besarnya BKT ditentukan oleh perhitungan BKT = C x K1 x K2 x K3, dimana C= Rp 5,08 JT = “ BIAYA KULIAH TUNGGAL BASIS” yang dihitung dari data yang ada di PTN. Melihat hal tersebut maka, semakin tinggi kualitas, akreditasi  dan nama PT, semakin tinggi pula BKT yang harus dikeluarkan.
            Sementara UKT adalah besaran biaya yang harus dibayarkan oleh mahasiswa pada setiap semester dengan tanpa biaya tambahan apapun selain yang telah ditentukan. Karena UKT itu merupakan selisih antara BKT dengan BOPTN (Bantuan Operasioanal Perguruan Tinggi Negeri), maka sudah barang tentu besanya UKT yang dikeluarkan siswa tiap PTN bahkan jurusan akan berbeda-beda.
            Sesuai pasal 2 dalam KemenDikBud Peraturan RI Nomor 55 Tahun 2013, dikatakan bahwa uang kuliah tunggal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) terdiri atas beberapa kelompok yang ditentukan berdasarkan kelompok kemampuan ekonomi masyarakat. Jadi, di setiap jurusan pun mahasiswa akan terbagi menjadi beberapa kasta sesuai dengan pendapatan kedua orang tuanya. Alhasil, semakin terlihat jelaslah antara ‘si miskin’ dan ‘si kaya’.
Memang, pro dan kontra menjadi suatu kealamiahan yang terjadi ketika kebijakan baru dicetuskan. Namun, kita sebagai masyarakat yang menjadi objek pelaksana kebijakan tersebut harus pandai menilai apakah kebijakan tersebut pro terhadap rakyat atau malah menyengsarakan rakyat. Berikut beberapa poin yang bisa kita kritisi dari kebijakan baru ini.
Pertama, kebijakan yang sama saja. Tercuat opini dari segelintir masyarakat bahwa adanya kebijakan baru ini akibat adanya ketidakpercayaan pemerintah kepada PTN yang bukan rahasia lagi kerap melakukan pungli semisal biaya praktikum, pengesahan/legalisir ijazah, adanya ‘hantu’ jalur Mandiri atau Jalur Non Subsidi bagi calon mahasiswa baru dan lain sebagainya. Namun jika kita teliti lebih dalam, sistem pembayaran ini sebetulnya sama saja dengan sistem sebelumnya. Jika pada jalur Swadana semua biaya disatukan di awal perkuliahan, lain halnya dengan UKT, biaya tektek bengek itu dibagikan ke delapan semester dengan asumsi itulah rata-rata jangka waktu masa perkuliahan dari awal sampai lulus. Dengan kata lain Swadana sistem dimuka, UKT sistem cicilan. Sama saja, tak ada beda.
Kedua, kebijakan yang tidak adil. Dengan adanya pengelompokkan tingkat kemampuan orang tua mahasiswa, otomatis setiap mahasiswa harus membayar sejumlah uang yang berbeda dengan fasilitas yang sama. Ini sungguhlah tidak adil bagi ‘si kaya’. Mereka terus dibebankan membiayai keperluan negara (biaya pendidikan) yang seharusnya ditanggung oleh negara. Namun sungguh disayangkan, kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanfaatkan oleh penguasa.
Ketiga, kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Meringankan beban mahasiswa merupakan salah satu dasar pertimbangan kebijakan UKT. Demikian ditegaskan pada poin pertimbangan (poin b) PermenDikBud tersebut. Namun benarkah faktanya UKT ini meringankan mahasiswa atau malah membebani mahasiswa? Dengan prinsip subsidi silang yang diberlakukan saat ini, nyatanya lebih cenderung membebani mahasiswa dan malah semakin banyak keuntungan yang didapat PTN dan negara. Misalnya saja untuk besar BKT jurusan fisika Unpad saat ini adalah Rp 6,499 JT. Di asumsikan paling banyak mahasiswa adalah golongan III (UKT = Rp 2,5 JT) dan IV (UKT = Rp 7 JT) maka besarnya biaya yang dikeluarkan selama delapan semester untuk golongan III dan IV adalah Rp 20 JT dan Rp 56 JT dari biaya normal Rp 51,992 JT (tanpa BOPTN). Jelas walaupun sudah dilakukan subsidi silang, akan ada uang berlebih untuk PTN karena sesuai UU yang berlaku, penerima golongan I (UKT = 0- Rp 500 ribu) hanya 5% saja, sisanya 95 % di dominasi oleh kalangan menengah ke atas.
Keempat, semakin individualis. Dengan adanya slogan “harga menentukan kualitas”, yakni semakin tinggi kualitas pendidikan, semakin mahal biaya yang harus dikeluarkan, semakin mengukuhkan ke individualisan masyarakat Indonesia. Pemahaman ini tertanam dalam di dalam benak masyarakat seolah-olah menjadi suatu kewajaran ketika kondisi saat ini untuk mendapatkan sesuatu yang ideal harus mengeluarkan biaya yang mahal. Mereka pada akhirnya hanya melihat kemampuan diri sendiri tanpa memikirkan orang selain mereka yang bahkan untuk sesuap nasi pun sangatlah sulit. Ini semakin melegalkan anekdot “orang miskin dilarang pintar”.
Masih banyak kiranya hal-hal yang perlu kita kritisi dari kebijakan UKT ini, di mulai dari sistem yang semakin rumit dari segi administrasi sampai dari keterkaitannya dengan negara adidaya dalam sebuah perjanjian negara anggota WTO tentang General Agreement on Trade in Services (GATS). Namun terlepas dari itu, ada satu poin penting yang harus kita ketahui bersama, yaitu sipakah biang kerok dari keterpurukkan wajah pendidikan di negeri ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah akibat sistem kapitalisme yang menjadikan semua aspek kehidupan  sebagai sumber keuntungan. Termasuk pendidikan yang kini telah dikomersialisasikan. Hal ini terlihat dari status PTN yang dulu berstatus badan hukum milik negara (BHMN), berubah menjadi BLU (Badan Layanan Umum) di mana tata kelola keuangan separuh disetor ke pemerintah masuk kas negara dan separuh masuk ke kas Perguruan Tinggi yang bersangkutan. Tata kelola pendidikan tinggi yang baik, yang selama ini kita nantikan tidak akan pernah terwujud selama komersialisasi menjadi jiwa tata kelola. Hanya saja kebijakan tata kelola yang liberalistik ini adalah niscaya dalam sistem politik demokrasi, yang menjadikan hawa nafsu manusia sebagai sumber aturan.

Hal ini berbeda dengan sistem islam. Islam sangat menekankan kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, untuk mencari ilmu. Maka, menjadi hal yang mutlak bagi negara dengan sistem islam di dalamnya untuk memfasilitasi setiap kewajiban yang dibebankan kepada muslim, termasuk pendidikan. Negara berkebijakan setiap individu masyarakat dijamin aksesnya oleh Negara terhadap pelayanan pendidikan gratis berkualitas, tanpa membayar sepserpun. Selain itu, strategi pelayanan harus mengacu pada tiga aspek.  Yaitu kesederhanaan aturan, kecepatan memberikan pelayanan, dan dilaksanakan oleh individu yang mampu dan profesional. Maka hanya dengan islamlah keidealan pendidikan itu akan di dapatkan, bukan selainnya.

Monday, 29 July 2013

Kudeta Mursi: Cermin Kebobrokan Demokrasi


         Tumbang sudah kekuasaan Mohammed Mursi Issa, presiden ke-5 Mesir. Tepatnya tanggal 3 Juli 2013 dini hari, presiden yang lebih dikenal dengan sebutan Mursi ini di berhentikan atau lebih tepatnya dikudeta oleh militer Mesir. Angkatan Bersenjata Mesir mengkudeta Mursi dengan alasan Mursi telah gagal menenangkan bentrokan antara penentang dan pendukungnya padahal peristiwa tersebut telah merongrong negerinya selama berhari-hari. Mursi menolak penggulingannya dan menyebutnya sebagai "kudeta total militer". Meski memang masih banyak perdebatan antara oposisi dan pendukung rezim Mursi mengenai penyebutan “kudeta” ataukah “pemberhentian kekuasaan”. Namun, Barak Obama, presiden Gedung Putih ini pun sampai sekarang masih harus mengkaji ulang masalah pelik dan rumit yang terjadi di Mesir, dan belum menentukan sikap dan menyatakan bahwa yang terjadi di Mesir adalah kudeta. Berbeda dengan negara yang tergabung dalam Uni Eropa, setelah melakukan diskusi dan audiensi bersama Menteri Turki urusan Uni Eropa, Egemen Bagi, dengan tegas mereka mengatakan kasus Mesir bukan kasus kudeta.
            Jika kita kembali mengingat proses pemilihan Mursi tahun lalu, pada 24 Juni 2012, Komisi Pemilihan Umum Mesir mengumumkan bahwa Mursi memenangkan Pemilu Presiden dengan mengalahkan Ahmed Shafik, Perdana Menteri terakhir di bawah kekuasaan Hosni Mubarak. Komisi Pemilihan menyatakan Muorsi memperoleh 51,7 persen suara, sedang Shafiq mendapatkan 48,3 persen. Jelas ini adalah kemenangan mutlak di dalam demokrasi. Lantas mengapa sampai terjadi kudeta oleh militer? Memang, terpilihnya Mursi merupakan kali pertama proses pemilihan presiden Mesir dengan melalui proses yang demokratis, tapi mengapa banyak negara-negara asal pencetus demokrasi (USA dan Uni Eropa) tidak menganggap penurunan Mursi sebagai kudeta, yang nyata-nyata sangat bertentangan dengan asas demokrasi yang mereka agung-agungkan? Inilah cerminan dan bukti nyata bahwa demokrasi hanya sistem cacat yang penuh dengan kepentingan kalangan elit politik tertentu, bukan mengedepankan kepantingan rakyat.
            Presiden pertama Mesir yang hafal 30 zuz Alqur’an dan telah menjabat sejak 30 April 2011 sebagai Ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), sebuah partai politik yang didirikan oleh Ikhwanul Muslimin setelah Revolusi Mesir 2011 ini kini ditahan di Kantor Garda Republik. Militer Mesir mengangkat Kepala Mahkamah Tinggi Konstitusional, Adly Mansour sebagia pengganti sementara Mursi. Kemudian, tiga hari pasca kudeta itu, Mohamed el-Baradei ditunjuk menjadi Perdana Menteri Mesir. Siapakah dia? Mohamed el-Baradei adalah tokoh liberal dan sekuler yang tentu saja ide dan pemikirannya sesuai dengan visi misi demokrasi. Dengan terpilihnya tokoh libersal dan sekuler tersebut akan semakin mengokohkan cengkraman kepentingan Amerika terhadap Mesir. Lagi-lagi ini adalah bukti yang tak dapat dipungkiri bahwa demokrasi hanya sistem cacat yang penuh dengan kepentingan kalangan elit politik tertentu, bukan mengedepankan kepantingan rakyat.
            Lantas, siapakah yang dirugikan? Masyarakat sipil yang tak tau apa-apa menjadi korban utama dalam skenario besar Amerika ini. Bahkan pengamat politik pun melansir bahwa akan ada kemungkinan terjadinya perang saudara di Mesir. Perang antara front Anti Mursi semisal Front Pembela Nasional (NSF) dan kelompok Tamarod yang menyatakan bahwa kasus yang terjadi bukan kudeta melainkan perlawanan rakyat Mesir melawan pemimpin tiran, dengan pihak pro Mursi, Partai Kebebasan dan Keadilan. Sampai saat ini sudah banyak ratusan anggota Partai Kebebasan dan Keadilan yang ditangkap, bahkan tragedi ‘pembantaian’ Senin kemarin telah menewaskan sedikitnya 52 orang tewas dan ratusan orang luka-lukan. Ditambah lagi keberadaan oposisi terancam pecah dengan ditunjuknya tokoh liberal dan sekuler Mohamed el-Baradei menjadi Perdana Menteri Mesir yang mendapat penolakan dari faksi Islam terbesar kedua di Mesir. Partai Islam an-Nour menegaskan penunjukkan itu tidak sesuai dengan rule map bersama antara sesama oposisi.
Jika sudah terjadi seperti ini, patut kita pertanyakan kepada para pengusung demokrasi, kemanakah HAM yang selama ini didewakan? Masih teringat dengan kasus Bom Boston dengan segudang keganjalannya yang hanya menewaskan segelintir orang saja. Bagaimana reaksi dunia? Semua mengecam pelaku yang diduga adalah ‘teroris islam’. Lantas bagaimana dengan puluhan rakyat Mesir yang dibantai bagitu saja tanpa sebab dengan pelaku pembantaian yang jelas terlihat? Apakah demokrasi dan HAM hanya berlaku untuk barat dan tidak berlaku untuk muslim? Sungguh tidak adilnya hidup ini. Dimanakah keadilan yang selama ini demokrasi janjikan? Omong kosong, itu semua hanya konsep emas belaka, tapi sama sekali utopis dan tak mampu direalisasikan.
Perlu kita sadari bahwa sedemokratis apa pemilihan presiden terjadi, tidak hanya Mursi tapi presiden siapa pun itu, jika kekuatan besar di negara tersebut, dalam hal Mesir adalah militer, masih pro dan bahkan menjadi boneka dan antek Amerika, tidak akan mampu membelenggu riak-riak pemberontakan. Tidak akan selesai menuai permasalahan. Begitu pula seberapa besar pendukung presiden tepilih dari proses demokrasi, ketika pendukung itu tidak memiliki satu arah pandang, satu metode perubahan yang sama, satu misi visi pergerakan yang sama dengan pihak terpilih, tidak akan mampu menjamin ketidak adanya permaslahan yang timbul dalam negara. Ketika mereka dihadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan, bukan hal yang tidak mungkin yang mulanya mendukung berubah haluan menjadi menolak, dan revormasi yang diinginkan pun gagal sudah.
Lantas bagaimanakah perubahan besar dan fundamental itu akan bisa terwujud? Kuncinya hanya dua, pertama, perlu adanya opini umum dan kesadaran umum yang satu antara seluruh elemen masyarakat dengan pemimpin. Kedua, perlu adanya dukungan penuh dari pemegang kekuatan di negara tersebut serta negara-negara tetangga terhadap pemimpin. Dan jelas kedua kunci utama perubahan itu tidak akan mampu terwujud dalam sistem demokrasi yang hanya memperhatikan banyaknya suara, tapi kunci tersebuta akan mampu terwujud dalam sistem islam yang berasaskan pada hukum Al-Qur’an dan As-sunnah yang tak sedikit pun terdapat kecacatan di dalamnya.

Wallohu’alam bi ashowab

Thursday, 11 July 2013

BBM Naik, BLSM Turun: Pencitraan Politik Penguasa


Kenaikan BBM kini bukan hanya wacana. Sejak tanggal 22 Juni 2013, pemerintah secara resmi telah menaikkan harga BBM dengan kenaikan kurang lebih 33% dari biaya sebelumnya. Kurang lebih sepekan BBM dinaikan, namun dampak yang begitu besar telah dirasakan seluruh rakyat Indonesia. Tak hanya biaya transfortasi yang mengalami kenaikan harga, harga sembako pun berangsur-angsur melonjak tak mau ketinggalan. Ditambah lagi dalam waktu dekat bulan Ramadhan akan tiba, dapat dipastikan kenaikan harga di semua aspek melambung tinggi. Tak hanya itu, peralihan tahun pelajaran di semua jenjang penididikan semakin mencekik rakyat. Lantas benarkah rakyat miskin aman dari dampak kenaikan BBM hanya dengan iming-iming kompensasi BBM dalam bentuk Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), Bantuan Siswa Miskin (BSM), Beras Miskin (Raskin), serta segudang program lainnya?

Analisis sederhana dari salah satu ormas islam di Indonesia bisa sedikit menjawab pertanyaan di atas. Ormas tersebut melakukan perhitungan sederhana yang mampu dicerna oleh semua kalangan masyarakat. Jika kita asumsikan setiap kepala keluarga memiliki 4 orang anggota, dengan dana BLSM Rp 150.000 perbulan, maka setiap anggota keluarga tersebut mendapatkan subsidi Rp 37.500 perbulan atau Rp 1.250 perhari. Dengan kenaikan BBM hingga 33%, menurut ketua Organisasi Angkutan Darat, Organda DKI, Soedirman, paling tidak jasa angkutan umum harus menaikkan 35% dari tarif biasanya. Jika misalnya tarif angkotan umum yang berlaku berkisar Rp 2.000, maka tarif pasca kenaikan BBM menjadi Rp 2.500 – Rp 3.000. Dengan jumlah subsidi tersebut, hanya mampu menutupi kurang lebih dua kali naik angkot. Lalu bagaimana dengan biaya untuk menutupi kanikan lainnya?  Jelas subsidi tersebut sangat-sangat tidak cukup untuk menanggulangi dampak dari kenaikan BBM.
            Bukan hanya itu, polemik kurang tepatnya penerima BLSM tersebut menjadi perbincangan hangat setiap orang. Bukan hanya masalah si ‘kaya’ dapat si ‘miskin’ tidak, tapi yang ‘mati’ dapat yang ‘hidup’ tidak pun terjadi di lapangan. Bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi setelah sebelumnya pemerintah melakukan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tak jauh berbeda dengan BLSM? Dapat dicerna dengan logika-kah ketidak valid-an data pemerintah tersebut? Jelas tidak. Seharusnya pemerintah memiliki data yang akurat tentang data penduduk miskin di negaranya sendiri. Pun seharusnya pemerintah bisa banyak mengambil pelajaran dari masalah-masalah yang terjadi pada program BLT sebelumnya.

Dari sana, jelaslah terlihat bahwa BLSM adalah program asal-asalan pemerintah untuk meredam kemarahan masyarakat. Bukan hanya meredam, tapi lebih tepatnya menyogok rakyatnya sendiri. Hemat saya, ada kepentingan politik di balik program kompensasi kenaikan BBM ini. Terlebih kasus-kasus yang belakangan terjadi pada kebanyakan kader partai penguasa memberikan citra negatif bagi partai. Bahkan beberapa lembaga survey nasional mengatakan kasus korupsi yang menimpa partai penguasa mengakibatkan turun drastisnya pendukung partai tersebut, alhasil perlu strategi jitu untuk mengembalikan suara rakyat di ‘pesta demokrasi’ tahun 2014 nanti. Salah satunya dengan sogokan BLSM dan program lainnya.

Bukankah kenaikan BBM menuai banyak penolakan? Jika demikian, berarti pemerintah di mata rakyat semakin buruk? Memang banyak kebijakan kenaikan BBM ini mendapat banyak penolakan, tapi suara siapa yang paling keras melakukan penolakan? Dari data BPS-RI, Susenas 2003-2012 yang dikutip oleh Badan Pusat Statistik dalam situsnya melansir bahwa berdasarkan umur, pada tahun 2012 penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan adalah 7-12 tahun 97.99% , 13-15 tahun 89.76%, 16-18 tahun 61.42%, dan 19-24 tahun 16.13%. Dari data tersebut jelaslah bahwa penduduk dengan taraf pendidikan rendah lebih banyak dari pada penduduk yang mengenyam pendidikan di atas rata-rata. Mayoritas mereka yang teguh dengan penolakannya adalah rakyat yang mampu menempuh jenjang pendidikan di atas rata-rata, sedangkan rakyat kecil yang notabene tingkat pendidikannya rendah dapat dialihkan kemarahannya dengan BLSM dan sejenisnya yang terkesan pro rakyat.

Jadi subsidi BBM yang katanya membebani rakyat dan juga tidak tepatnya sasaran subsidi tersebut merupakan alasan klasik yang dibuat-buat pemerintah untuk membohongi rakyat dalam rangka mencapai visi politik 2014. Karena pada faktanya, dari total APBN yang ada, biaya belanja birokrasi menduduki nilai yang tidak kalah banyak dengan subsidi BBM (Rp 193,8 triliun), bahkan melampauinya, yakni sebesar Rp 400,3 triliun. Selain itu, porsi pembayaran cicilan pokok hutang ditambah bunganya juga sangat besar, totalnya mencapai Rp 171,7 triliun. Padahal jika kita analisa lebih lanjut, sasaran penikmat subsidi BBM lebih banyak ketimbang anggaran belanja birokrasi serta pembayaran hutang Negara. Tapi ternyata, pemerintah lebih mementingkan kepentingan sebagian kelompok tertentu saja dibandingkan dengan kebutuhan semua rakyat Indonesia. Selama dia berkewarganegaraan Indonesia, kaya ataupun miskin, dia tetap rakyat Indonesia, tidak boleh ada perbedaan perlakuan dari pemberian fasilitas umum Negara. Terlebih rakyat yang katanya ‘kaya’ pun sudah menyumbangkan hartanya dalam bentuk pajak, sumber dana APBN. Mereka juga punya hak menikmati APBN yang ada, termasuk dalam bentuk subsidi BBM.



Dari sedikit analisis diatas, jelaslah bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah sama sekali bukan untuk kepentingan seluruh rakyat, namun untuk kepentingan elit politik saja. Dan hal tersebut akan terus berlangsung jika tidak ada tindakan dan tuntutan keras dari seluruh elemen masyarakat kepada pemerintah secara langsung. Maka, sudah selayaknya lah kita kembali berpikir dan bersikap kritis terhadap segala sesuatu yang diputuskan pemerintah, karena kebijakan tersebut bukan hanya berdampak pada sebagian orang saja, tapi seluruh masyarakat Indonesia. Bukan hanya berdampak pada satu generasi manusia saja, tapi mencakup generasi kita di masa yang akan datang. Sampai kapan kita akan melihat rakyat terhimpit hidupnya? Jika jawabannya sampai detik ini saja, maka marilah kita bersama-sama menyatukan suara untuk kebaikan Negara ini. Namun sesungguhnya kebaikan itu hanya akan didapat dari aturan yang sempurna, aturan yang dibuat Sang Maha Pencipta. Jadi, tidak ada solusi fundamental lain untuk menyelesaikan karut marut negeri kita ini kecuali hanya dengan mengganti aturan yang ada dengan aturan milik sang Pencipta.

Wednesday, 26 June 2013

Everyday is PE DE Day!


Waah, setelah selesai UAS, rindu rasanya untuk menulis kembali. Meski sebenarnya banyak ide-ide berkeliaran dalam otak, tapi kali ini saya hanya akan kembali membuat resume dari bucil karya Izzatul Jannah yang pernah saya baca dulu. Setelah sebelumnya teman-teman diberikan resume tentang Easy Goinger dan The Winner or The Loser, dan saatnya sekarang ditempa oleh sebuah ulasan tentang bagaimana menjadikan dirimu sesosok orang yang selalu pe-de setiap hari..
1. What is PD?
PD merupakan kependekan dari percaya diri. Penulis mengatakan bahwa, semakin tinggi iman seseorang, semakin tinggi pula tingkat kepercaya diriannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Fushilat ayat 30 yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu." 

Jadi, sesuai ayat tersebut dapat diambil sedikit kesimpulan bahwa, kita akan senantiasa percaya diri ketika kita berpegang teguh pada aturan yang Allah berikan. Gimana mau gak pe-de, orang kita pakai aturan dari Sang Maha Pencipta yang jelas mustahil aturan tersebut salah. :)

Dr. Akrim Ridha dalam bukunya, Menjadi Pribadi Sukses mengatakan: "Kepercayaan kepada diri sendiri (al tsiqoh bi al nafs) adalah sumber potensi utama seseorang dalam hidupnya. Jika seseorang sudah tidak lagi percaya diri (al iman bi dzatihi), maka hilanglah seluruh sumber potensi diri mereka."

Orang yang pe-de adalah orang yang tahu kemampuan dirinya, dia bergerak karena keimanan yang ia miliki. Oleh karenanya ia akan memposisikan dirinya sesuai kemampuannya.

"Memang pe-de jadi orang penting, tapi lebih penting jadi orang pe-de"

2. Percaya Diri = Banyak Peluang
Menurut Paul Q. Stoltz, kepercayaan diri dapat menghasilkan tiga cara pandang seseorang ketika memandang persoalan. 

a. Mereka yang berhenti (Quitters)
Mereka adalah orang yang tidak percaya diri, memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur, dan berhenti ketika menemukan persoalan hidup atau suatu yang tidak diharapkan.

Performance Quitters:
- Menunda kepuasan: pemarah, frustasi dan menyalahkan orang lain atas pilihan-pilihan yang mereka pilih sendiri. Dengan kata lain mereka selalu mencari kambing hitam dari segala kegagalan yang mereka lakukan. Ingat, definisi kegagalan yang saya maksud seperti yang saya ceritakan sebelumnya: baca di sisni

- Mereka terbiasa mengatakan "Seandainya.." 
John Greenleaf Whittier mengatakan: Dari semua kata sedih yang terucap atau tertulis, kata-kata paling menyedihkan adalah kata "Seandainya dulu.."
Bahkan Rasulullah pun bersabda:
"Bersungguh-sungguhlah kamu untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah. Dan jika sesuatu musibah menimpamu janganlah kamu katakan, "Seandainya". Aku melakukan sesuatu pasti dulu begini dan begitu, tetapi katakanlah ia adalah takdir Allah dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi karena sesungguhnya kata "Seandainya" akan membuka aktivitas setan".

b. Mereka yang berkemah (Campers)
Yaitu mereka yang cepat puas dengan pencpaian yang mereka raih, padahal mereka mampu lebih dari itu.

Performance Campers:
- Mereka selalu berkata "ini sudah cukup baik"
- Merasa senang dengan ilmunya sendiri tentang "apa yang sudah ada"
- Mengorbankan kemungkinan untuk melihat atau mengalami "apa yang masih mungkin terjadi"

c. Para pendaki (Climbers)
Yaitu mereka yang seumur hidupnya terus hidup untuk membaktikan dirinya pada "pendakian" tanpa menghiraukan latar belakang, keuntungan, atau kerugian, nasib buruk, maupun nasib baik, dia terus mendaki. Tentu dia mendaki setelah memiliki petunjuk yang pasti, dari siapa lagi jika bukan dari Allah Sang Pemberi Petunjuk.

Performance Climbers:
- Selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan
- Sangat bergairah dalam menghadapi tantangan-tantangan yang terjadi
- Selalu mengingat-ingat semua "kekuatan" yang diperolehnya saat perjalanan
- Tidak ada kata "berhenti" dan "menyerah" dalam kamus hidupnya
- keyakinan mereka begitu besar

3. Performance si PD
a. Berani tampil beda
Si PD adalah seseorang yang hampir pasti memahami dirinya sendiri, lebih baik dari pada orang lain. Tapi jelas, lagi-lagi kita berani beda atas dasar tuntutan hukum syara' juga

b. Berani menerima tantangan
Henny Ford mengatakan:
"Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eight. Anyone who keeps learning stays young. The greatets thing in life is keep your mind young"

berani menerima tantangan = berani belajar suatu hal yang baru

c. Asertif
Asertif berarti tegas, punya pendapat yang argumentatif, serta berani berkata tidak.

d. Mandiri
Seorang yang PD adalah seorang yang mandiri. Ia percaya pada kemampuan dan kekuatan dirinya dalam mengatasi permasalahan.

4. Mengapa ada yang PD ada yang tidak?
Konsep diri adalah gagasan tentang diri, yang terdiri dari bagaimana kita melihat gambaran diri sendiri, bagaimna kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia tertentu yang kita harapkan.
Orang-orang yang berperan dalam menentukan konsep diri kita adalah:
a. Orang tua dan orang lain yang berperan sebagia orang tua
b. Saudara kandung
c. Sekolah
d. Teman sebaya
e. Masyarakat
f. Pengalaman

5. How to be PD?
a. Belajar tentang islam lebih serius
b. Berpikir positif --> you will become whatever you consistenly think about yourself
Cara untuk berfikir positif:
- Jujur pada diri sendiri
- Sadar akan keunikan diri sendiri
- Menyadari bahwa hidup ini menyenangkan dan diciptakan banyak peluang bagi seluruh makhluk Allah.

Its about believing, it is in our mind!

c. Jadilah sahabat bagi dirimu
If you don't prize yourself, who will? If you don't think well of yourself why would anyone else?
Caranya:
- buat daftar keberhasilan
- bersikap optimis
- berubah sikap terhadap kegagalan, "No pain, no gain"
- tidak lagi melihat kegagalan

6. Ketika si PD Jadi Gak PD?
a. Merasa bersalah
Janganlah kita terlalu larut dalam kesalahan yang kita buat, sehingga kita terus merasa bersalah dan gak move on. Allah berfirman dalam surat Al-Muthafifin ayat 14 yang artinya:

"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang mereka udahakan itu menutup hati mereka"

b. Tidak siap 
Makanya, dalam melakukan segala sesuatu itu perlu diperhatikan persiapannya. Harus matang!

c. Sama sekali tidak mengenal medan
Ini juga tak kalah penting dengan persiapan. Bahkan justru sebelum persipan kita harus tau dulu medan kita seperti apa agar persiapannya sesuai.

7. Tips 'n Trik for PD
a. Menerima takdir dengan jiwa besar
b. Berani membuat kesalahan untuk kemudian memperbaikinya. Tentu kesalahan disini adalah kesalahan yang tidak melanggar syara'
Thomas Alva Edison berkata:
"Sesungguhnya aku tidak gagal, melainkan telah menemukan beribu-ribu cara yang salah untuk membuat bola lampu"

c. Berani belajar
d. Siap menerima kesalahan
e.  Menyukai tantangan

Itulah sekelumit catatan yang saya buat tentang "Pe-De". Semoga bermanfaat.. :)

Friday, 21 June 2013

Impian yang Tertunda


Tempo hari saya tak sengaja melihat sebuah iklan Einstein Speedy, program dari speedy yang bertujuan mencari tiga unggulan fisika untuk dapat bergabung dengan lima finalis lain dari Surya Institut dan mewakili bangsa ini ke pagelaran Asean Physic Olympiade. Tak terasa air mata menetes begitu saja. Saya merasa bangga tercampur iri. Bangga atas prestasi anak bangsa, terutama di bidang fisika, yang bahkan tidak jarang mengantongi mendali emas di ajang tingkat internasional. Iri karena saya sendiri tidak mampu mewujudkan impian saya [dulu] untuk dapat bergabung menjadi bagian dari mereka .

Saya dulu tak pantang menyerah. Meski tak tercapai oleh diri sendiri, tapi saya bertekad untuk dapat menjadi seorang guru yang nanti akan meloloskan muridnya mencapai olimpiade fisika sekurang-kurangnya tingkat nasional. Itukah obsesi? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Yang jelas, niat saya tulus murni ingin memajukan pendidikan bangsa. Atau setidaknya, ketika saya tak mampu menjadi tenaga pendidik, saya masih memiliki harapan dari anak saya kelak [insya Allah jika Allah mempercayakan kepada saya untuk memiliki anak]. 

Mengingat salah satu fungsi ibu yang utama adalah sebagai madrosatul ula, pendidik pertama, maka sungguh besar tanggung jawab kita sebagai seorang ibu kelak. Nasib baik buruk anak kita ditentukan dari bagaimana didikan kita terhadap mereka. Lihatlah Imam Syafi'i, dibalik kecerdasannya, ada seorang ibu yang begitu tegar menyemangati dan mendidiknya. Pasti, dibalik siapapun orang yang luar biasa, selalu ada wanita yang tak kalah luar biasa dibelakangnya. Maka, itu pula yang sekarang harus kita siapkan [bagi yang belum berkesempatan menggenapkan setengah agamanya] untuk menjadikan diri kita sebagai sesosok perempuan dan seorang ibu yang cerdas, kuat, dan penuh semangat. Dengan demikian, setidaknya kita mampu membentengi anak-anak kita dari kejamnya dunia kapitalis yang terus merusak moral anak. Jangan lelah menuntut ilmu, meski banyak orang bilang "setinggi apapun pendidikan perempuan, ujung-ujungnya dapur, sumur, kasur juga", tapi toh ilmu kita bisa kita transfer untuk anak kita nanti. Sehingga, bukan hal yang tak mungkin kita dapat mewujudkan impian kita dahulu dari anak kita. Ya tentu bukan atas dasar paksaan, tapi dengan pemahaman. 

Semoga kelak saya dapat menjadi seorang ibu yang luar biasa, sehingga mampu mencetak generasi islam yang polymath. Tak hanya ahli ibadah, ahli perjuangan, namun juga ahli ilmu dunia. Tentu, perlu upaya dan pengorbanan besar untuk dapat mewujudkannya. Do'a, Usaha, Ihtiar dan Tawakal adalah kuncinya. Semoga impian tertunda ini akan mampu terwujud lewat anak saya kelak, baik anak didik maupun anak kandung. Amiin ya Rabb..

Monday, 17 June 2013

Me-Refresh Bucil "Easy Going, No Way!"






Tulisan ini didedikasikan untuk hari pertama UAS saya yang kelabu.  Kok bangga ya UASnya fail? Bukan bangga, tapi hanya ingin berbagi cerita, barangkali bisa diambil hikmahnya. Atas kecerobohan dan kesalahan saya pribadi, UAS di hari pertama berjalan lancar menuju kegagalan. Berawal dari kemalasan belajar diperlengkap dengan ingatan yang salah mengenai jadwal UAS yang seharusnya jam 8 tapi muncul di ingatan jam 10. Dan sayangnya saya baru tersadar akan kekeliruan saya setelah setengah jam berlalu. Itu pun karena ada teman yang sms [thanks a lot my friend]. Kira-kira tiba di ruang ujian dengan sisa waktu 60 menit. Hahaha, dramatis sekali.

Its Ok, tak masalah. Dalam waktu yang singkat itu saya hanya mampu mengisi sebagian saja, itu pun tak selesai. Maklum, saya belajar di kost untuk menurunkan rumus dengan soal yang sama butuh lembar jawaban yang banyak, 2 lembar alias 4 halaman! Bayangkan! (o_o) Tapi saya tetap mencoba untuk ber-positif thinking. Mengingat usaha saya di UTS terbilang gemilang, dan tugas-tugas saya tak ada aral melintang. Bahkan bisa dibilang saya egois, tak memberikan kesempatan pada orang lain membuat tugas. Atau apa mungkin lebih tepatnya orang lain tak mau peduli dengan tugas kelompoknya? Ya sudah, apa pun itu yang jelas saya sudah memberikan yang terbaik bagi tugas-tugasnya. Terlebih dosen mata kuliah ini adalah wali dosen saya sendiri. Semoga beliau dapat memaklumi. Syukur-syukur dapat kesempatan remidi, apa lagi kalau bapak terlampau baik hati, nilai bagus tanpa ujian diperbaiki. Xixixixix :P [keinginan hati]

Mengingat pemaparan masalah di atas [hehehe, kayak makalah aja kata-katanya, #efek angkatan tua yang mikirin TA], terbitlah tulisan ini. Sesuai dengan judul, tulisan ini bertujuan untuk merefresh kembali sebuah bucil yang pernah saya baca sewaktu duduk di bangku putih abu-abu. Sebenarnya sebelumnya saya pun pernah menulis mengenai diri sendiri yang menjadi faktor terbesar kegagalan diri [baca disini] serta mengenai Easy Goinger [baca disini]. Memang benar apa kata Ust. Felix Siauw, untuk menjadi habits perlu repetition dan  practice. Jadi, untuk mengingat teori pun tak cukup hanya membaca sekali, tapi perlu berulang kali. Dalam resume bucil dari Izzatul Jannah ini, teman-teman akan dapat membuat hidup lebih terencana. Menagapa kita harus merencanakan hidup kita? Ingat aja kata Hasan Al Bana, kewajibanmu lebih banyak dari waktu yang tersedia. So, tata hidupmu agar lebih bermakna.

1. Easy Gong Is..
Easy going berarti suka menggampangkan alias nggak mau repot. Pokoknya hidup itu santailah, gak perlu dibikin sulit. Kalau kata Ust. Felix [lagi-lagi mengutip kata beliau :P] kumaha engke, lain engke kumaha. Artinya gimana nanti, bukan nanti gimana. Jadi, dia berpikir bahwa hidup itu mengalir bagaikan air, gak bisa diapa-apain. Padahal itu salah besar!

2. Ciri-Ciri Easy Goinger
Sebelum masuk pada ciri-ciri easy goinger, coba telaah dulu nih kata-kata fisikawan yang satu ini [kalo kata dosen saya sih dia pemulung yang ulung. heheh kenapa pemulung? Karena rumus-rumus yang dia temukan atas ramuan dari rumus yang ada sebelumnya, kalo gak salah rumus dari Faraday, Ampere dan Gauss]
John Maxwell:
“Hard work is the accumulation of easy things you didn’t do when you should have”
-kerja keras adalah kumpulan dari hal-hal mudah yang tidak kau kerjakan saat seharusnya kau kerjakan-
Kata-kata itu juga yang sering dosen elektronika saya ucapkan di perkuliahan. Emang bener sih. Makanya ketika UTS/UAS kita merasa kesulitan patut dipertanyakan, habis belajar di kelas buku materinya langsung diulang dipelajari atau ditumpuk nunggu ujian? [jawab sendiri :P]

Apa aja sih performance dari Easy Goinger?
a. Suka menunda pekerjaan
Padahal Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia merugi dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia bodoh”

Diperlengkap sama pribahasa yang mengatakan: “The past is dead, the future is imaginary, happiness can only be in the eternal now moment” –masa lalu itu sudah tidak berlalu (mati), masa mendatang masih dalam angan-angan, sedangkan hanya pada masa sekarang itulah kebahagiaan akan didapatkan-

So, jika kita bisa MELAKUKANNYA sekarang, mengapa harus MENUNDANYA besok???

b. Ogah Disiplin
Disiplin itu dalam bahasa Yunani artinya menggenggam erat, kalo dalam bahasa Arab artinya aturan. Ya bisa disimpulkan disiplin itu mengenggam erat, komitmen, dan konsisten pada aturan yang telah ditetapkan. Kalo kata seseorang sih “Disiplin itu beratnya berons-ons, tapi penyesalan beratnya berton-ton”. Hayo mau pilih yang mana? Menanggung berat dalam satuan ons atau ton? [jawab sendiri :P]

Allah pun berfirman dalam surat Ad-Dukhan ayat 13:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata : Rabb kami adalah Allah kemudian mereka istiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula berduka cita”
Istiqomah == konsisten

Kata John Maxwell [lagi :P]:
“Disiplin berarti sebuah pilihan dalam hidup, untuk memperoleh sesuatu yang kadang kita inginkan, dengan melakukan sesuatu yang kadang tidak kita inginkan”

artinya, disiplin itu sulit, tapi mungkin untuk dilakukan. --> cara berpikir the winner, masih ingat kan? kalo lupa baca lagi ja disini

c. Malas Mengembangkan Keterampilan
Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Kalo ingin lebih jelas baca buku How to Master Your Habits karya Ust. Felix Siauw. Makanya aneh ketika kita menginginkan sesuatu, misal ingin jadi penulis, tapi sehari-harinya jarang bikin tulisan. Atau misal kita ingin menjadi peneliti di bidang nuklir, tapi buat baca materi tentang nuklir ja ogah, dan sebagainya. Ingat, kita bisa karena biasa!

Kalo kata Mr. Stephen R. Copey:
“Kebiasaan (habit) adalah titik temu dari pengetahuan (knowlage), keterampilan (skill), dan keinginan (desaire). Pengetahuan adalah apa dan mengapa harus dilakukan, sedangkan keterampilan adalah bagaimana melakukannya, dan keinginan adalah kemauan untuk melakukannya.”

d. Tidak memahami prioritas
Prioritas adalah mendahulukan yang utama. Jelas sebagai seorang muslim sudut pandang prioritasnya adalah hukum syara’, wajib, sunah, mubah, makruh, haram. Biasanya kalau menyangkut kebutuhan hidup, patokannya adalah primer, skunder, dan tersier.

3. Bagaimana Menjadi by Planner?
a. Punya visi-misi dalam hidup
Itu merupakan upaya untuk berikhtiar mengusahakan agar hidup kita menjadi lebih berkualitas, bermutu, dan berprestasi hingga akhir hayat. Tentunya target yang kita buat harus targetan yang terukur dan mampu dicapai. Dan jelas juga harus ada usaha untuk mencapainya, tidak hanya ditulis saja.
Berikut contoh target kecil saya sewaktu SMA:
Jangka Pendek: Rangking 1 di kelas, atau paling tidak rangking 2. Masuk tiga besar juara umum --> setengahnya tercapai
Jangka Menengah: Prestasi selalu meningkat sehingga diterima PMDK/SNMPTN --> melebihi target :D
Jangka Panjang: Bisa kuliah di jurusan sains khususnya Matematika. Menjadi guru MTK yang berkualitas dan dapat merasakan pendidikan di luar negeri, khususnya Jerman --> sedang dalam pencapaian. Dan saya rasa sekarang ada kenaikan penargetan. 

Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang dipersiapkan untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (TQS. Al-Hisyr: 18)

b. Tentukan sasaran kita
Step one: hitunglah biayanya
Step two: Tuliskan
Step three: Laksanakan --> Take it or live it!
Step four: Gunakan momentum yang tepat
Step five: Ikat dirimu dengan orang lain yang shalih
Kenapa butuh orang lain? “No matter how intelligent and talented you are, you can’t do it by yourself alone.” --> Harvey Mckay
Menjalin hubungan dengan orang lain adalah cerdas untuk menjadi orang cerdas, sebab kita tidak bisa hidup sendirian.
Tak ada nanti, tak ada esok hari, yang ada hanya hari ini: Untuk apa kita ada??

c. Mengatur prioritas hidup

4. Wise Man Saya
Jangan tunda sampau besok, apa yang bisa kita kerjakan lusa!

Sesungguhnya dibalik kesukaran ada kemudahan (Al-Insyiroh:6)

Permulaan adalah separuh dari segala amalperbuatan, so MULAILAH!

Hiduplah sesuka hatimu, sesungguhnya kamu pasti akan mati.
Cintai siapa saja yang kamu sayangi, sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya.
Lakukan apa saja yang kamu kehendaki, sesungguhnya kamu akan memperoleh balasannya.


-THE END-

Semoga kegagalan ini awal dari kesuksesan. So berjuanglah!