Monday, 4 March 2013

Rasulullah sebagai Modulator dan Demodulator



Pernah mikir gak, gimana ya caranya kok bisa misalnya huruf "a" yang kita ketik di hp trus kita kirim ke temen kita, dan temen kita pun akhirnya menerima pesan hurup "a" tersebut? Apakah hurup "a" yang kita ketik itu melayang-layang di udara trus ditangkap oleh hp teman kita? Kalo gitu harusnya dalam satu waktu banyak dong angka-angka bahkan suara yang melayang di udara, karena yang berkomunikasi di dunia ini tidak hanya satu dua orang saja? hehehe, bingung ya?

Gak usah bingung. Inilah bukti kecanggihan teknologi sekarang. Dengan adanya kemajuan di bidang pengolahan sinyal dan elektronika, kita dapat meninkmati kemudahan berkomunikasi. Trus apa hubungannya dong sama modulasi dan demodulasi? Logikanya sih gini, misal hurup "a" yang kita ketik dalam hp akan memiliki kode biner tertentu. Karena kode biner itu hanya memiliki dua jenis (yaitu 0 dan 1) maka akan mudah untuk merubah kode biner tersebut kedalam sinyal tertentu. Misalnya jika 0=tenggelam, 1=muncul, maka akan terbacalah sebuah sinyal kotak. Perubahan kode biner tersebut ke dalam suatu bentuk sinyal di sebut modulasi. Sedangkan nanti sinyal tersebut akan diterima oleh hp komunikan dalam bentuk sinyal lagi, dan akan kembali dirubah kedalam kode biner, kemudian terbacalah dalam layar hp teman kita sebagai hurup “a” juga. Proses tersebut disebut demodulasi.

Masih bingung? Logika paling sederhananya gini. Misal kita kuliah di Unpad. Sedang orang tua kita tinggal nun jauh di sana, sebut saja suatu desa terpencil di Garut Selatan. (Hehehe, memisalkan diri sendiri aja). Trus suatu ketika ibu kita ingin mengirimi kita uang. Ya maklum lah kampung, disana tidak ada ATM, jadinya mesti dititip ke mobil kan. Bisa gak kira-kira kalo uang itu diletakkan begitu aja di mobilnya? Kira-kira nyampe ke tangan kita gak? Ya gak dong, yang ada malah dipungut orang dikira dia nemu uang. Ya kan? Jadi, gimana dong caranya?

Caranya simpel aja. Ibu beli amplop. Uangnya masukin ke amplop. Amplopnya titipin ke supir. Supir jalan (bukan jalan kaki, tapi jalan bawa mobil maksudnya, hehehe) dari rumah ibu ke tempat kita kuliah. Tuh sopir akhirnya nyempe di tempat kita dan ngasih amplopnya ke tangan kita. Kita buka amplopnya, dapet deh uangnya. Nah proses perubahan kemasan uang ke amplop itu di sebut modulasi, sedangkan amplopnya sendiri disebut modulator. Si mang sopir disebutnya carier (sinyal pembawa). Nah proses kita membuka amplop itu disebut demodulasi. Alat pembukanya disebut demodulator. Kitanya sendiri disebut komunikan. Udah faham sekarang? Alhamdulillah…

Sekarang lanjut pada sesi terpenting. Kenapa sih saya bahas modulasi dan demodulasi? Sebenarnya saya teringat saja pada Rasulullah, sang kekasih Allah. Jika kita cermati baik-baik. Ternyata Rasulullah adalah modulator sekaligus demodulator. Bener gak? Coba kita pikirkan. Rasulullah itu kan sebagai penyampai pesan. Pesan dari siapa? Pesan dari Allah Sang Pencipta kita. Pesan yang disampaikan berupa Al-Qur’an. Kemudian Rasulullah menyampaikan wahyu yang beliau terima kepada ummatnya. Kira-kira bisa dibayangkan gak jika tidak ada Rasulullah di dunia ini? Udah ancur aja kayaknya dunia ini. Karena kita tidak memiliki pedoman hidup.

Maka sudah sangat jelas, kita itu sangat membutuhkan Rasulullah. Mengapa? Karena ada dua fungsi Rasulullah yang paling utama yang berkaitan erat dengan kita. Pertama,  Rasulullah adalah sebagai modulator dan demodulator. Artinya rasulullah sebagai penerima wahyu dan penyampai wahyu. Bayangin aja kalo Rasulullah dulu mengonsumsi wahyu hanya untuk diri beliau sendiri, mana kenal kita dengan islam? Tapi itulah mulianya Rasulullah, beliau memiliki sifat tablig, artinya menyampaikan, sehingga tak satu wahyu pun yang luput darinya. Kedua, Rasulullah sebagai juklak. Tahu kan juklak? Itu loh kalo dalam suatu organisasi atau perlombaan pasti ada juknis (petunjuk teknis) dan ada juklak (petunjuk pelaksana). Jika AL-Qur’an adalah juknisnya, maka Rasulullah adalah juklaknya. Dari mana kita tahu cara sholat? Dari mana kita tahu cara ibadah haji? Apa disebutkan di dalam al-Qur’an secara terperinci? Tentu tidak. Mungkin kalau segala sesuatunya dituliskan dalam Al-Qur’an secara terperinci, pastilah membutuhkan berjuta-juta lembaran Al-Qur’an. Tapi Allah sungguh sangatlah pemurah dalam memudahkan hamba-Nya. Allah mengutus Rasulullah sebagai suri tauladan, sebagai contoh dari bangsa kita sendiri. Ya kebayang aja kalo Allah mengutus Jin sebagai suri tauladan, yang ada bukannya kita bisa nyontoh, tapi malah bingung, orang kita gak bisa melihat jin. Ya kan? hehehe

Jadi sungguhlah beruntung kita memiliki Rasulullah. Rasulullah dengan segenap jiwanya memberikan yang terbaik untuk ummatnya. Bisa kita bayangkan, dengan pemikiran jahiliyah yang serba mementingkan nafsu belaka, Rasulullah datang menyampaikan wahyu Allah tanpa kena lelah. Kira-kira kalo kita datang pada seorang pencuri (yang pada saat itu mencuri adalah kebiasaan yang lumrah) untuk menyampaikan bahwa mencuri itu haram dan menyuruh mereka berhenti mencuri, apa kira-kira tanggapan si pencuri itu? Ya langsung di keroyok lah. Paling ringan mungkin ditertawain, diolok-olok. Sedih gak kira-kira? Mau ngulangi lagi gak kira-kira? Ah paling juga kita nangis terus bersumpah gak akan coba-coba ngelakuin gitu lagi, ya kan?

Tapi Rasulullah tidak seperti itu kawan. Coba tengok sirah Nabawiyah, disana digambarkan dengan jelas bagaimana Rasulullah berkorban, mengorbankan segenap jiwa dan raganya, harta dan waktunya, bahkan nyawanya hanya untuk menyadarkan ummatnya dan menyampaikan pesan dari Rabbnya. Rasulullah pernah diludahi, pernah diolok-olok, dikatakan penyihir lah, majnunlah, dilempari kotoran unta, dilempari batu, dan banyak lagi. Tapi Rasulullah tidak pernah menyerah sampai pada akhirnya banyak para sahabat yang mengikuti jejaknya. Menyampaikan islam keseluruh penjuru dunia, sampai islam berhasil menguasai dua per tiga dunia. Sekarang setelah Rasulullah dan para sahabatnya wafat apakah kita rela membiarkan islam hancur begitu saja? Apakah kita rela menyia-nyiakan pengorbanan dan perjuangan Rasulullah dan sahabatnya dulu? Tentu tidak!

Lalu apa yang harus kita perbuat? Tentu saja kita pun harus mencontoh beliau sebagai penyampai wahyu Allah. Dalam bahasa yang mudah tidak lain adalah dakwah. Maka dengan berdakwah kita dapat membuktikan kecintaan kita terhadap Rasulullah, kekasih Allah yang sangat kita rindukan perjumpaan dengannya kelak di syurganya Allah. Jadi marilah kita terus berdakwah, dengan begitu, kita melayakkan diri kita untuk dapat bertemu Rasulullah di akhirat kelak.

Wallohu’alam bi ashowab..