Thursday, 30 May 2013

Keikhlasan dan Kesungguhan yang Berbuah Manis


Bingung harus mulai cerita dari mana.. :)

Well, tulisan saya kali ini terilhami dari kejadian yang cukup membahagiakan saya hari ini. Di akhir saya memberikan tutor Fisika Dasar II pada adik-adik kelas Kimia B, saya mendapatkan pelajaran yang sangat berarti. Pelajaran apakah itu? Ok, sepertinya saya ceritakan dulu awal perjalanan tutor semester ini.

Awalnya untuk semester ini saya tidak mendapatkan kesempatan untuk berbagi dan mempertajam ilmu dengan adik-adik mahasiswa baru. Ya wajarlah, karena semester genap itu lebih sedikit kelas yang belajar Fisika Dasar II, sehingga asisten dosennya terseleksi dengan ketat, sesuai dengan prestasinya. Namun ternyata, rencana Allah berbeda. Teman saya yang sangat pintar tidak ada jadwal yang cocok untuk mengisi tutor, sehingga dia menawarkan saya untuk menjadi penggantinya. Awalnya saya ragu, karena saya rasa saya kurang mumpuni untuk mengemban amanah tersebut. Tapi karena tidak ada pilihan lain, dan kasihan juga melihat anak-anak yang sering tidak mendapatkan tutor, akhirnya saya terima tawarannya. Dan ternyata, kelas yang saya tutor semester ini masih kelas yang sama dengan semester sebelumnya yang saya isi. Ya lumayan lah, biar tidak memakan waktu untuk menilai karekter anak-anak yang akan saya ajar.

Awal saya ngisi tutor bertepatan dengan seminggu sebelum mereka UTS. Dan ternyata banyak yang mereka tanyakan yang saya belum pelajari, alhasil saya merasa bersalah karena saya kurang optimal dalam menjawab persoalan mereka. Untuk membayar rasa bersalah saya, akhirnya saya menawarkan diri untuk membuat resume semua bab yang mereka pelajari untuk bahan UTS. Ceritanya seminggu berlalu, dan deadline saya ngasih rangkumannya tinggal sehari lagi, dan saya belum sedikitpun mengerjakannya, maklum banyak agenda, hehehe. Alhasil dalam sehari saya kebut membuat resume itu, tapi apa mau dikata, saya tidak mampu menyelesaikannya. Tinggal setengah bab lagi yang belum terangkum.

Beberapa bulan berlalu, saya terus melanjutkan tutor saya. Meski jadwalnya terkadang tidak rutin karena kesibukan masing-masing, tapi sudah cukup ada perbaikan dari semester sebelumnya. Tapi, saya masih merasa belum optimal mengisi tutor, terutama persiapan yang sangat minim. Keseringannya saya baru belajar beberapa jam sebelum ngisi, dan itu juga hanya beberapa menit saja. Pernah ada satu materi yang cukup lama persiapannya, apa lagi kalo bukan mengenai listrik yang sangat membuat puyeng. Bahkan teman saya yang KBK Instrumen pun, yang ahli di bidangnya butuh cukup waktu untuk mencernanya. Secara garis besar saya simpulkan selama saya tutor saya belum memberikan yang optimal bagi mereka. Bahkan di detik-detik terakhir pun, saya hanya mampu menjelaskan empat soal dalam waktu dua jam. Ckckck, sungguh ksihan mereka..

Melihat banyak kekurangan saya itu, saya memutuskan untuk menggunakan menit-menit terakhir yang ada untuk maaf-maafan dan meminta pesan-kesan serta kritik dan saran dari mereka bagi saya. Karena saya sadar saya banyak kekurangan dan saya ingin mengambil pelajaran bagi kebaikan di masa yang akan datang. Saya tekankan pada mereka, untuk menyampaikan kritik sebenar-benarnya dan tentunya tidak hanya kritik saja, tapi saran yang membangun untuk pelajaran saya nantinya.

Hasilnya ternyata membuat saya terharu.. T_T

1. Kesan: Terlalu baik 
  pesan: Teh, pas awal konsep-konsep dasar bener-bener dijelasin, jadi kita ngerti, soal bagaimanapun konsepnya ngerti. ^_^

Minta rangkuman lagi ya teh.. hehehe

Semangat ya teh u/ mengajar tutor kedepannya......

2. Kesan: sistematika dalam mengajarnya udah bagus, konsep jelas, dalam merangkum materi tepat.
   pesan: suaranya diperjelas teh, hehehe

3. Saran: Teteh suaranya lebih dikerasin aja.
   Kesan: --

4. Teh Tresna luar biasaa..
   Pesan: Sabar kunci kesuksesan

5. Makasih banyak teh udah mau men-tutor kita dengan sabar. hehehe... :D
   Sarannya: Lebih koordinasi aja dengan dosennya untuk materi-materi yang perlu dibahas. :) Maaf ya teh kalo kita suka nanya yang aneh-aneh dan pas tutor yang dateng cuma sedikit.

6. Pesan: Lanjutkan memberi manfaat ke orang-orang banyak, kalau ketemu sapa-sapa dan neraktir, hahaha, kalau nanya tentang fisika nanti bantu ya teh
   Kesan: seru, santai, gampang dimengerti, sabar mengajari kami

7. Teh maaf ya kalo sepi, soalnya pusing banget sama fisika :( jadi yang sabar aja ya teh kalo ngajar, pelan-pelan aja hehehe. Kadang-kadang juga suka ngerasa soalnya susah, engga sesuai sama yang diajarin ibunya, mungkin karena pusing ya teh :D Oya teh, nanti mending dari awal aja ada resume, jangan di akhir-akhir, hehehe

8. Jelas dan mudah dimengerti, Lebih banyak soal latihan teh, lebih tegas teh misal lagi jelasin tapi rame, dirutinin tutornya teh :)
Mohon maaf teh EDISI RAMADHAN

9. Teh Tresna itu baik, sabar banget ngadepin kita yang banyak tanya. Tetep sabar ya teh :)) Masukannya buat teteh suaranya agak dibesarin aja volumenya, soalnya yang di belakang kurang jelas. :)

10. Kesan: Peduli sama kita, Teh Tresna BAIK BANGET!, selalu berusaha memberikan yang terbaik ketika nerangin
   Pesan: Semangat teh :), suaranya lebih lantang lg :)

11. Ngajarnya enak, rangkumannya berguna banget, sering latihan soal, kalo bisa sebelum latihan ada bahas-bahas teori dulu hehehe <penjelasan tentang babnya>, over all tutornya OKE :)
THANKS YA TEH :) SEMANGAT KULIAHNYA!!! SUKSES Amin :)

12. Pesan: Jangan ngebahas soal terus ya teh.. dibahas juga teorinya
    Kesan: Kalau bahas soal, masih suka belum ngerti :(

13. Kesan: Teh Tresna baik, ramah, kalau ngajar suaranya pelan teh, hehe
Terkadang teteh kalo ngajar agak sulit dipahami, tapi seru kok teh, kitanya jadi sama-sama mikir, ngga cuma nerima aja. Makasih ya teh..
    Pesan: Sukses terus buat teh Tresna. Semoga kapan-kapan bisa ngajarin kita lagi :)

Waaah, terharu jadinya baca semuanya.. :(
Kita gak optimal aja, tapi berusaha sungguh-sungguh dan ikhlas menjalaninya, mendapatkan kebahagiaan tiada terkira dari kebaikan mereka menilai dan menghargai usaha kita. Apalagi ketika kita mampu optimal menjalankan amanah itu dan juga tentunya diiringi keikhlasan dan kesungguhan, kayaknya kebahagiaannya akan sangat luaarrr biasa.. :D

Terimakasih adik-adikku semua... Semoga ilmu yang teteh sharingkan berguna. Tunggu aja ya rangkuman sesi duanya, semoga kali ini teteh bisa lebih optimal lagi... :)

Monday, 27 May 2013

Siapa yang Lebih Kuat??


Besi itu kuat, tapi ia mampu dilelehkan oleh api..
Api itu kuat, tapi ia mampu dipadamkan oleh air..
Air itu kuat, tapi ia bisa disinari oleh matahari..
Matahari itu kuat, tapi awan mampu menutupinya..
Awan itu kuat, tapi angin mampu memindahkannya..
Angin itu kuat, tapi manusia bisa memanfaatkannya..
Manusia itu kuat, tapi ia dikalahkan oleh ketakutan..
Ketakutan itu kuat, tapi tidur mampu mengalahkannya..
Tidur itu kuat, tapi ternyata mati lebih kuat..

Maka, yang paling kuat itu adalah amal jariyah,
Yang tidak akan mati walaupun nanti kita mati..

by: Kemas Mahmud Al-Hanif
(Agar Usia Tak Sekedar Angka)

Never Give Up



Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kau belajar tentang ketulusan..
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau belajar tentang keikhlasan..
Ketika hatimu terluka, maka kau sedang belajar memaafkan..
Ketika kau lelah dan kecewa, maka kau sedang belajar tentang kesungguhan..
Ketika engkau merasa sepi dan sendiri, maka kau sedang belajar tentang ketangguhan..

Tetap semangat, tetap bersabar, tetap tersenyum, teruslah belajar dan berjuang!!
Karena kau sedang menimba ilmu di Universitas Kehidupan

Kemenangan tergantung dari usaha yang kita lakukan,
Kepuasan terletak pada usaha, bukan hasil
Berusaha dengan keras adalah kemenangan itu sendiri..

NEVER GIVE UP!!
TERUSLAH BERJUANG!!

Demi cita-cita agung..

MENJADI PRIBADI YANG BERMANFAAT DUNIA AKHIRAT..

by: Kemas Mahmud Al Hanif
(Agar Usia Tak Sekedar Angka)

Sunday, 26 May 2013

Salah Tingkah


Akhwat salah tingkah? Gimana cerita?!

Seringkali saya melihat seorang akhwat (bahkan yang sudah sangat mafhum) di mana pun, di Jurusan, di Fakultas, dan juga Universitas, dilanda salah tingkah (salting). Mayoritas penyebab salting tersebut bukan suatu hal yang besar, bisa dibilang sepele malah. Bukan pula suatu pelanggaran hukum syara, tapi kesalahan yang dia perbuat yang lebih cenderung suatu kekonyolan. Hal konyol tersebut semisal terpeleset, salah bicara, salah kirim sms, ketahuan phobianya, teriak-teriak gara-gara ulet, kecoa, atau kucing, dan lain-lain. Biasanya salting ini terjadi ketika si akhwat melakukan kekonyolannya di depan lawan jenisnya [baca: ikhwan]. Terutama apabila yang melihatnya itu adalah orang yang dikenalnya, seniornya, partner kerjanya, adik kelasnya serta orang yang tinggi ilmunya. Malu adalah alasan utamanya, menurunkan iffah adalah kekhawatirannya.

Salting juga pernah saya rasakan. Bahkan baru-baru ini kejadiannya. Betapa tidak? Di depan banyak orang saya melakukan suatu kebodohan, di depan dosen dan orang-orang lainnya. Semua kriteria orang yang saya sebutkan tadi (senior, partner kerja, adik kelas serta orang yang tinggi ilmunya) ada di tempat kejadian. Seketika itu saya merasa menjadi fokus perhatian. Secara otomatis pipi berubah memanas merah merona menahan malu. Kedua telapak tangan dengan cepat beruah suhu, dari panas menjadi dingin. Rasa-rasanya saya sudah tak memiliki lagi muka (hahaha, lebay). Tapi begitulah perasaan yang akhwat rasakan ketika mereka melakukan suatu kesalahan didepan orang yang tidak dia inginkan.

Sepanjang hari saya memikirkan dan merenungkannya. Jika dipikir-pikir, kekonyolan yang kita buat bukanlah hal yang begitu fatal. Cukup dengan menganggap semuanya tidak pernah terjadi, habislah perkara. Tapi, emang dasarnya perempuan perasa, hal sekecil apapun yang membuatnya malu akan selalu dia pikirkan dan dia besar-besarkan. Seolah-olah hal itu adalah hal yang sangat fatal, sangat besar, dan tak kan termaafkan. Lebay bukan? Padahal jika kita pikir lebih logis dan mendalam lagi, bisa jadi orang-orang disekitar kita tidak menyadari kekonyolan apa yang telah kita perbuat. Bahkan yang sadar pun belum tentu dia/mereka mempermasalahkannya, semenit kemudian mungkin dia/mereka melupakannya. Jadi, kekhawatiran kita itu hanyalah asumsi-asumsi belaka.

Maka dari itu, atas hasil pengamatan dan pengalaman saya, hal yang perlu kita lakukan ketika kita mengalami salting akibat kekonyolan kecil yang kita perbuat setidaknya ada tiga. 

Pertama, bersikap tenang dan biasa. Detik pertama ketika kita menyadari kita telah melakukan kekonyolan adalah berusaha untuk bersikap tenang dan biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apa pun. Mengapa demikian? Karena kawan-kawan, jika kita tidak tenang, malah gugup, bisa jadi timbul kecerobohan dan kekonyolan lain yang kita lakukan. Yang ada bukannya meyelesaikan masalah tapi malah membuat masalah baru. So, tenanglah dan bersikap biasalah.

Kedua, lupakan dan jangan terus dipikirkan. Salah satu kekurangan perempuan adalah dia selalu terus-menerus memikirkan masalah yang dia hadapi. Masalah kecil pun seolah menjadi besar karena terus dia pikirkan. Ya jangan heran, kalo ada perempuan yang memiliki penyakit hypertensi dia pasti akan sangat mudah naik tekanan darahnya, karena segala hal selalu dia pikirkan. Boleh memikirkan sesuatu, bahkan harus malah, ya tapi jangan dibesar-besarkan dan lebay. Tapi disini saya juga tidak bisa mengeneralisir semuanya, bergantung kasus, adakalanya kita juga harus serius memikirkan sesuatu. Namun yang jelas, untuk konteks kekonyaolan yang kita perbuat yang membuat kita salting, janganlah terlalu kita pikirkan lebih lanjut. Itu akan menyiksa kita, pikiran kita akan pusing. Setiap kali kita berjumpa dengan orang yang melihat kekonyolan kita, kita pasti merasa malu. Mengapa? Karena kita terus memikirkannya. Jadi, untuk kasus salting ini, janganlah kita terus-terusaan memikirkannya. Toh yang kita lakukan bukan suatu pelanggaran hukum syara. Dan belum tentu juga orang yang melihat kekonyolan kita masih mengingatnya dan mempermasalahkannya. 

Ketiga, belajar dari kesalahan. Setelah dua hal diatas kita lakukan, hal terakhir yang mesti kita lakukan adalah mengambil pelajaran atas kekonyolan/kesalahan yang telah terjadi. Hal tersebut harus menjadi pelajaran agar kita tidak mengulangi hal yang sama dilain waktu. Ingat kan kata Rasulullah? Seorang muslim tidak akan jatuh pada lubang yang sama sebanyak dua kali. Jadi, berhati-hatilah.. :)

Sekian cerita saya tentang ini, semoga dapat menjadi pelajaran dan bermanfaat bagi pembaca semua.. :)

Wallohu'alam bi ashowab..

Friday, 24 May 2013

Kontes Miss World, Menjatuhkan Martabat Kaum Muslim




Sejak April 2013 beramai-ramai ormas islam dan juga majelis ulama tingkat kabupaten atau daerah tertentu menyuarakan penolakan diadakannya Miss World di Indonesia. Perhelatan akbar dunia ini direncanakan akan dilaksanakan pada September 2013 di Bali dan Bogor. Mungkin masyarakat Bali tak ambil pusing dengan rencana ini, karena mayoritas penduduknya beragama non muslim, namun bagi Bogor, salah satu kota agamis di Jawa Barat ini sontak menjadi persoalan tersendiri.

Sebenarnya di provinsi manapun Miss World itu digelar, menjadi suatu permasalahan bagi muslim. Karena dunia melihat Negara penyelenggaranya, bukan wilayah penyelenggaranya. Otomatis Indonesian lah yang jadi sorotan, bukan Bali dan juga bukan Bogor. Sedangkan kita tahu bahwa, Indonesia merupakan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Maka secara tidak langsung, Indonesia menjadi representatif kaum muslim di dunia. Apapun yang Indonesia lakukan akan selalu dikaitkan dengan islam. Hal ini lah yang mengindikasikan bahwa jika Miss World ini berhasil digelar di Indonesia, maka akan menjatuhkan martabat kaum muslim. Kemuliaan yang selama ini dijanjikan islam terhadap wanita sirna sudah dalam pandangan dunia.

Mengapa Miss World akan menjatuhkan martabat kaum muslim? Setidaknya ada tiga faktor penyebab terjadinya hubungan linier antara Miss World dengan jatuhnya martabat muslim.

Pertama, inkonsistensi Islam. Itulah kiranya hal pertama yang ada dibenak non muslim ketika Miss World digelar di Indonesia. Islam yang dalam kitabnya, Al-Qur’an, dengan sangat jelas memerintahkan wanitanya (baca: muslimah) untuk menutup auratnya dari ujung rambut sampai ujung kaki sangat kontradiktif dengan ajang Miss World. Di satu sisi memerintah harus menutup seluruh tubuhnya, di sisi lain membuka hampir semua tubuhnya dalam kontes bikini yang menjadi icon dan daya tarik utama pengkonsumsi Miss World. Memang, islam berbeda dengan muslim. Namun, orang non islam, apalagi musuh besar islam tidak melihat apakah itu islam, apakah dia muslim. Yang jelas dalam benak mereka apa yang dilakukan muslim maka itu akibat dogma islam. Maka, jika hal ini terjadi semakin menguatkan rasa kebencian musuh islam terhadap islam akibat ajaran islam yang mereka nilai inkonsisten.

Kedua, Miss World bentuk eksploitasi perempuan. Orang awam mungkin merasa bangga dengan diadakannya acara kelas dunia di Negaranya. Namun, bagi orang yang mampu menganalisa lebih mendalam dan berpikiran politis, hal ini justru merupakan bentuk eksploitasi terhadap perempuan. Hal ini senada dengan pernyataan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan , Dr.Daoed Joesoef dalam memoarnya “Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran” (Jakarta: Kompas, 2006).

”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak a priori anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara,” tulis Daoed Joesoef.

Lagi-lagi, ketika Miss World disahkan digelar di Indonesia, sesuai dengan pernyataan di atas akan semakin mengukuhkan kebencian kalangan tertentu, terutama pemerhati nasib perempuan (misal aliran feminis) terhadap islam. Mengapa? Karena yang memiliki kuasa dalam mengizinkan pergelaran ini adalah penguasa-penguasa yang notabene beragama islam. Sehingga lagi-lagi mereka menyimpulkan suatu premis yang salah, ‘muslim’ (penguasa islam) sama dengan ‘islam’. Maka, islam sama dengan membisniskan dan mengeksploitasi perempuan.

Ketiga, diskriminasi Perempuan. Miss World yang rajin diselenggarakan tiap tahunnya kerap mendulang keuntungan yang membludak tiap tahunnya. Miss World yang berpusat di London ini membuat waralaba (franchise) ajang tersebut dan sudah dibeli di 130 negara. Konon pemirsa acara ini mencapai puncak ketika ada 27,5 juta pasang mata di Inggris yang menontonnya. Itu hanya di Inggris, bisa dibayangkan jika 130 Negara menayangkan ini, berapa banyak orang yang menikmati pesona keindahan tubuh perempuan? Dan dapat dipastikan, mayoritas penontonnya adalah kaum adam. Hal ini dikarenakan kecantikan adalah poin pentingnya. Meski memang dikatakan tidak hanya kecantikan yang menjadi kriteria penilaian, tapi juga termasuk kecerdasan, kepiawaian dalam bersosialisasi, danlainnya. Namun tetap saja, kecantikan adalah alasan utama orang beramai-ramai menonton acara ini. Kecantikan adalah magnet penyebab Miss World laku di pasaran dan mendunia. Sedang semua orang tahu, cantik adalah suatu hal yang relatif. Ketika cantik didefinisikan sebagai wanita berkulit putih, berhidung mancung, berperawakan tinggi, bertubuh langsing, dan standar-standar duniawi lainnya, lantas bagaimana dengan nasib perempuan yang cacat, berperawakan pendek, dan segudang kekurangan lainnya?

Ketika dunia men-judge cantik itu adalah ‘ini’ dan ‘ini’, maka akan timbul dibenak wanita bahwa ‘Tuhan tidak adil, karena telah menakdirkan saya menjadi wanita jelek’. Padahal, islam menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara manusia satu dengan yang lainnya, yang membedakan adalah ketakwaannya. Maka, cantik dalam islam adalah muslimah yang bertakwa, yang menjalankan seluruh perintah Allah, dan menjauhi seluruh larangan Allah. Jika standar cantik itu takwa, maka setiap orang bisa menggapainya, namun jika standar cantik  adalah fisik, maka orang tidak mampu merubahnya selain dengan beroperasi plastik, menyalahi qada’ Allah, membahayakan diri sendiri, dan tentu hanya orang berduit saja yang bisa melakukannya. Tidak adil!

Ini semakin mengukuhkan wajah islam di muka dunia yang kejam dan tak adil. Padahal kemerosotan moral serta kemunduran yang terjadi pada dunia islam saat ini bukan karena ajaran islamnya, tapi karena orangnya yang tidak menjadikan islam sebagai pedoman hidupnya. Sadarlah saudaraku semua, kita memegang tanggung jawab besar di pundak kita. Bukan hanya citra diri kita saja, atau keluarga kita, atau almamater kita, tapi yang paling berat adalah ada islam di pundak kita. Kita, kaum muslim di Indonesia menjadi cerminan dan sampel islam di mata dunia. Maka, sudah selayaknya kita menjunjung tinggi ajaran islam ini, karena jika sedikit saja muslim di Indonesia melakukan sesuatu yang salah, maka dengan pasti islam pun menjadi salah di mata internasional.

Sadarlah saudaraku, Miss World dan ajang ratu-ratu-an lain itu tidak sesuai dengan islam. Kontes ini berasal dari dunia Barat yang jauh dari ajaran-ajaran luhur islam. Kontes ini pertama kali dilangsungkan tahun 1951 di Inggris. Kontes ini diselenggarakan pertama kali oleh Eric Morley. Sebutan kontes itu awalnya adalah ‘Bikini Contest Festival’, sebelum media kemudian menyebutnya sebagai Miss World. Jelas! Ini tidak sesuai dengan islam. Maka, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menolak ajang kemaksiatan ini.

Wallohu’alam bi ashowab.

Wednesday, 22 May 2013

Syukuri Sehatmu


Terkadang kita sombong dengan kekebalan tubuh kita. Saya kuat, saya kebal, saya hebat, semuanya serba saya. Melihat orang sakit, yang tak nampak sakitnya, entah sakit kepala atau lemah fisik, berpikiran buruklah kita. "Mengapa, sih, kok dia sakit terus?", "Kok gampangan, sih, dia?" dan keluhan-keluhan lainnya. Baru sekarang saya merasakan apa yang dulu mereka rasakan. Badan lemas, tak ada semangat, serasa tak ada tulang dan daging-daging tak memiliki tumpuan. Rasa-rasanya akan ambruk. Jika sudah seperti ini, segalanya terhambat. Melakukan aktifitas apapun tak maksimal, dakwah tak maksimal, kuliah tak maksimal, semuanya mengalami kekrisisan.

Maka benar kiranya hadits Rasulullah yang mengatakan, Ingat lima perkara sebelum lima perkara: sehat sebelum sakit, tua sebelum muda, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati. Terkadang kita melalaikan kelima hal yang dirasa anugerah bagi kita, padahal bisa jadi kelima hal itu merupakan ujian bagi kita.

Jadi, pesan saya hari ini, syukuri sehat kita hari ini. Jaga ia, jangan sampai kita lalai terhadapnya. Sekali saja kita sakit, maka segala hal yang hendak kita lakukan tak kan sempurna. Apalagi saat ini kita hidup di zaman kapitalisme, kesehatan mahal. Kalau sudah sakit repot, susahlah kita untuk memulihkannya. Kasihan keluarga kita, mereka akan sedih melihat kondisi kita.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. So, mulailah hidup sehat mulai hari ini. Tidak ada alasan kita aktivis lah, kita tak punya waktu lah, atau kita tak ada rezeki. Jangan pelit dan terlalu irit, sudah sakit biayanya lebih banyak daripada yang kita irit. Namun bukan boros juga, tapi harus proporsional, penuhi asupan gizi badan kita. Allah tidak suka pada orang yang mendzalimi dirinya sendiri.

Wallohu'alam bi ashowab..

Sunday, 19 May 2013

Jilbab Pertamaku


Cerpen ini yang pertama, kalo yang ke-2 kayak karangan anak SD, kalo yang pertama ini kayak anak TK. hehehe, masih sangat perlu belajar lagi..

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi itu ketika hari pertama aku masuk SMA..
       “Aduuuh,udah jam 06.30  lagi, aku belum sisir  rambut, pake bando, diiketin rambutnya… Mana rambuku susah diatur lagi!! Eeuuh….” Keluhku sambil menyisir rambut di depan cermin.
         “Ade! Ayo kita berangkat!” Kakakku berteriak dari depan rumah sembari membetulkan kerudungnya yang sangaattt lebar.
            Kakak perempuanku, Bionanda Ayu Lestari, sudah mengajakku untuk pergi bersama. Kebetulan dia sekolah di SMA yang sama dengan SMA yang baru aku masuki. Hanya saja sekarang dia kelas  XI, beda satu tingkat denganku.
            “Kok kakak cepet sih?? Padahal kan aku mandi duluan..” Tanya ku pada kak Bio sambil mengikat rambutku yang belum rapi.
            “Kan kakak pake kerudung… tinggal sisir, diikat, pake kerudung, beres deh!!” Kak Bio menjawab sambil memperagakan apa yang dibicarakanya.
            “Aaaahhhh…. Enak banget siiihhhh… Kakak curang!!!” Aku mengeluh sambil memakai sepatu.
            “Makanya, ade pake kerudung aja yuk??”, kata kakak sambil mengedipkan mata kirinya seraya tersenyum simpul.
            “Gak mau ah! Ribet! Gak bebas!” Elakku sambil berdiri siap untuk berangkat.
            “Yakin ribet? Gak bebas? Ya udah deh, gimana ade aja, tapi kakak yakin, nanti ade juga bakal ngikutin kakak.” Kata kakak dengan PD-nya.
            “Yakin banget sih kakak, liat aja nanti, kakak pasti salah!” Kataku sambil cemberut.
            “Yuk kak, kita berangat, aku udah siap!”
            Sejak saat itu aku dan kakak selalu berangkat bersama ke sekolah. Dan sejak saat itu pula, kakak selalu meyakinkanku untuk  memakai  kerudung  walau pun aku selalu “tidak” menggubrisnya, tapi kakak tetap sabar mengajakku tanpa memaksa.
            Namun suatu hari,  aku ada kerja kelompok mendadak, aku harus berangkat ke sekolah lebih awal tanpa kakak. Ketika aku berjalan melewati pangkalan ojek dekat rumahku, aku melihat ada seorang perempuan seusiaku yang sedang digoda tukang ojek. Tak heran ku pikir, perempuan itu memang berpenampilan sangat minim dan sangat ketat. Disisi lain, aku pun melihat seorang jilbaber melewati pangkalan ojek dengan anggunnya. Tak seperti yang aku lihat sebelumnya, perlakuan  yang sangat berbeda dari tukang ojek sangat jelas kentara. Anggukkan kepala dan senyum hormat mereka tujukan pada sang jilbaber. Bahkan mereka pun mengucapkan salam.
            Sesampainya di kelas, aku langsung menghampiri teman-temanku yang sudah berkumpul. Seperti biasa, mereka menungguku dengan pormasi yang selalu sama.
            The first, Berliana Salsabila. Duduk di atas meja dengan kaki kanan ditumpangkan di atas kaki kiri. Sisir di tangan kanannya dan tak lupa cermin di tangan kirinya. Dia sedang asyik bercermin sambil merapihkan poninya.
            Next, Beugenvile Ungu. Dara blasteran Sunda-Belanda ini sedang asyik membaca buku. Lembar demi lembarnya cepat sekali berlalu. Matanya selalu terfokus mengincar setiap kata dari bukunya. Seakan-akan ia tak mau kecolongan satu detik pun dari laju waktu. Dan sepertinya  buku yang ia baca kali ini komedian deh, dia terlihat cekikikan sendiri.
             The last, Bunga Pertiwi. Gadis betawi tulen ini mondar-mandir tak karuan. Sambil berkacak pinggang dan dengan raut muka yang tampak kesal ia terus bergumam. Kakinya tak pernah berhenti melangkah, bahkan lem ampuh sekalipun mungkin tak kan mampu menghentikannya. Haduuuhhh.. Aku harus menyiapkan mental untuk menerima ocehannya!
            Langkahku yang tergesa-gesa akhirnya berujung di sekumpulan anak hawa tadi. Dengan nafas yang ngos-ngosan dan peluh keringat yang mulai jatuh di keningku, aku duduk mengambil posisi di samping Evi yang dari tadi tak melepaskan pandangannya dari buku yang ada di tangannya.
            “Biofani Indah Syahraniiiii…. Kamu lama banget sih???” , ocehan pertama mulai keluar dari mulut Bunga.
            “Maafin aku ya teman-teman… Tadi aku harus jalan kaki dulu, jadi agak telat dehhhh…”, dengan kedua tangan dirapatkan di dada, aku memelas pada mereka. Tak lupa pasang muka yang paling menyedihkan, jurus ampuh yang ku punya.. hehehe
            “Aduh Fani… udah deh, aku gak tega lihat muka kamu yang memelas itu. Kita udah maafin kok. Ya kan Bunga? Evi?”, kata Liana sembari menghampiriku dan kemudian memegang pundakku.
            “Iya, Neng! Santai aja kali! Udah biasa si Bunga mah, kalo ada tugas mendadak, pasti suka riweuh”, kata Evi sambil melipat halaman bukunya, tanda ia mengakhiri bacaannya.
            “Enak aja riweuh, aku kan cuma gak tenang aja kalo ada tugas ngedadak kayak gini”, bela Bunga.
            “Emangnya ada tugas apaan sih? Kok kayaknya penting banget???”, tanyaku penasaran.
“Gini, Fan, sekarang kan minggu terakhir kegiatan pesantren kilat Rohis sekolah kita, nah panitia bilang setiap kelompok harus ikut lomba karya seni. Baik itu berupa puisi, drama, nasyid, ato apalah yang berbau seni”, tutur Liana panjang lebar.
“Temanya harus mengenai keagamaan dan kalo bisa untuk akhwatnya tentang jilbab”, sambung Evi.
“Dan kita hanya diberi waktu sampai hari sabtu. Itu artinya dead line nya tinggal dua hari lagi Fan”, Bunga ikut menimpali.
“Owh..”, aku ngangguk-ngangguk mulai mengerti..
“So, gimana nih friends, ada ide?”, tanya Evi dengan alisnya yang terangkat.
Sesaat hening serasa di kuburan…
Sepi serasa sendiri…
Yang terdengar hanya ketukan jari di atas meja, detakkan jantung dan hembusan nafas…
Tiba-tiba, lampu-lampu di atas kepala kami menyala…
“Puisi!”, kata Evi seraya menjentikkan jarinya.
“Lukisan?”, kata Bunga dengan kedua alisnya yang terangkat.
“Music!”, Liana tak mau kalah.
“Dan kita kolaborasikan semuanya!”, kataku semangat ’45.
Semuanya saling berpandangan tersenyum puas dan langsung menyatukan tangan kanan seraya meneriakkan yel-yel kebanggaan.
“EMPAT BEEEE… Ist The Best!!!, teriak kami gembira.
KRIIIIINGGGGGGGGGGG….
Bel tanda masuk berbunyi…
Kami pun langsung bubar, duduk di bangku masing-masing dan bersiap mengikuti pelajaran sampai usai. Jam-jam telah berlalu, tiga guru bergantian masuk untuk mengajar. Mereka selalu tidak lupa memberi kami oleh-oleh untuk di rumah. Saking banyaknya, aku sampai kelabakan mengerjakan semua PR itu. Waktu untuk kumpul bareng keluarga jadi semakin sedikit. Jadi, ada waktu luang sedikit pun aku selalu memanfaatkannya untuk kumpul bersama keluarga, Ayah, Ibu, Kakak dan Ade.
Sekarang aku mulai mengerti mengapa kakak juga dulu jarang kumpul bareng keluarga, saat-saat SMA memang sangat sibuk. Mulai dari tugas yang menumpuk, sampai amanah-amanah dari ekskul yang kita minati.
Tapi, ada satu dari kakak yang sampai sekarang belum  aku pahami. Kakakku yang dulu supel dalam bergaul, dengan siapa saja ia gampang nyambung, baik perempuan maupun laki-laki. Tapi sekarang, dia jadi terlihat pilih-pilih, ramah di hadapan perempuan, tapi terlihat jaga jarak dengan teman laki-lakinya, bahkan kadang-kadang dia malah terlihat ketus.
Dulu kalo kita curhat, pasti topik yang paling mengasyikkan adalah tentang percintaan. Tapi sekarang, kakak udah kayak ustadzah, selalu aja agama yang dibicarakan. Kalo diajak ke Mall, dia paling bersemangat. Shopping bareng, nonton ke bioskop, makan di café. Tapi sekarang, jangankan ke Mall, ada di rumah aja dia jarang. Dia lebih suka ikut kajian di mesjid. Baju-bajunya pun lebar-lebar semua, kayak ibu-ibu, pake  gamis terus. Malahan seragam sekolah pun disambung kayak gamis. Jauh deh kakakku yang dulu gaul sama sekarang.
Jika aku tanya kenapa dia berubah sangat drastis, dia tersenyum dan menjawab dengan tenang, “Kelak adeku tersayang ini pasti merasakannya”. Huuuhhh… selalu aja kayak gitu. Kesel deh kalo kakak udah bicara kayak gitu.
Tapi memang dari lubuk hati ku yang paling mendalam, aku mengakui bahwa perubahan kakak adalah perubahan yang baik. Kakakku yang sekarang adalah kakak yang lemah lembut, penyayang, sopan santun, penyabar, selalu bersifat tenang dalam menghadapi permasalahan dan yang paling mengagumkan, kakak selalu mampu berpikir kritis, punya prinsip yang kuat dan bahkan sangat beridiologi Islam. Terkadang aku pun suka penasaran, apa sih yang bisa merubahnya seperti ini? Hingga suatu hari ketika kakak pergi kajian ke Mesjid, aku diam-diam masuk ke kamarnya, berharap mendapatkan sesuatu yang bisa menjawab segala pertanyaan yang ada di otakku.
Subhanallah…. Benar-benar ajaib!
Poster Edward Cullen yang sedang memeluk Isabella Swan kini tergantikan dengan kaligrafi yang sangat indah. Sya’ir-sya’ir cinta dari Khalil Gibran kini terhapus oleh kata-kata penyemangat dari Hasan Al-Banna. Rak-rak buku yang dulu terisi penuh oleh novel-novel dan tips percintaan kini telah pensiun dan tergantikan oleh buku-buku keislaman.
Dan ada satu hal yang sangat menarik perhatianku, tulisan di pintu lemari yang berbunyi “SANGAT RAHASIA, KEKASIHKU TERCINTA”.
Inilah yang aku cari! Jawaban dari semua kepenasaranku. Jangan-jangan sekarang kakak punya pacar baru dan merahasiakannya kepadaku!
HAHAHAHAHA…
Dalam hati aku tertawa bahagia. Akhirnya aku akan segera mengetahui rahasia terbesar kakak.
Tanpa berpikir panjang, aku mengendap-endap menuju lemari itu.
Celinguk kanan… celinguk kiri…
Yakin situasi aman terkendali, aku pun segera membuka lemari itu. Pelan-pelan tapi pasti…
SATU… Aku memegang pegangan pintu lemarinya…
DUA… Aku membuka lemari itu dengan detak jantung yang semakin dag dig dug tak karuan…
TIGA… Aku sangat yakin aku akan mendapatkan sesuatu yang ku cari. Sambil merem melek, aku mengintip isi lemari itu. Tapi aku sangat penasaran, aku buka saja mataku lebar-lebar, dan…
Tara….
“Heuh???”
Kok isinya cuma kerudung sama jilbab-jilbab (gamis) kakak sih?
Harapanku musnah… Benar-benar musnah… Aku tertunduk lesu, energi dalam tubuhku hilang tak bersisa… Tiba-tiba sudut mataku melihat kotak yang aneh. Mencurigakan! Kotak itu benar-benar mencurigakan. Dan secara serentak seluruh kekuatanku terkumpul kembali. Tanpa kenal ampun, aku rampas kotak itu, dengan menggunakan jurus tenaga dalam ku yang aku pelajari saat di bangku TK, aku buka kotak itu… Hiyaaaatttt!!!!
“Hmm? Novel?”, lagi-lagi aku dibuat terheran-heran..
“Assalamu’alaikum…”, tiba-tiba pintu kamar terbuka.
“Ww..ww..wa’alaikum salam ka..”, jawabku terbata-bata.
“Wah! Ade udah nemuin rahasia kakak ya?”, tanya kakak sambil melangkah menghampiriku.
Aku tertunduk malu. Tanganku memegang erat novel berjudul Aku dan Kekasihku itu. Lalu perlahan-lahan aku sodorkan novel itu pada kakak.
“Maaf kak, Fani belum baca kok isinya..”, seperti biasa, aku memelas dengan muka yang sangat menyesal. Bedanya kali ini kau benar-benar menyesal, bukan sekedar ekspresi menyesal yang penuh kesandiwaraan.
“ Iya sayang …kakak gak marah kok. Kakak malah seneng Fani bisa nemuin novel itu, kakak lupa nyimpen. Kan Fani tau sendiri kakak ini orangnya pelupa berat! Hehehehe..”, kata kakak sambil nyengir kuda.
“Ya syukur deh kalau begitu. Nih kak, novelnya Fani kembaliin”, kata ku sambil menyimpan novelnya di paha kakak.
“Gak pa pa Fan, justru kakak nyari novel ini buat dikasihin ke kamu. Dibaca yak!”, kakak balik menyodorkan.
“Oke deh kalo gitu. Aku ke kamar dulu ya kak! Ntar aku pasti baca novel ini”, kataku sambil melangkah meninggalkan kamar kakak.
Dalam hati aku sangat bersyukur kakak tidak marah pada ku, justru dia malah memberikan rahasia terbesarnya padaku secara cuma-cuma. Setelah beres mandi, makan dan mengerjakan tugas-tugasku, aku pun langsung membacanya. Lembar demi lembar terus aku lalui. Tak terasa malam pun semakin larut, dan aku tiba di halaman terakhir.
….
Seorang muslimah yang sejati bukanlah dilihat dari kecantikan dan keayuan paras wajahnya semata-mata. Wajahnya hanyalah satu peranan yang teramat kecil saja. Tetapi, muslimah yang sejati dilihat dari kecantikan dan ketulusan hatinya yang tersembunyi. Itulah yang terbaik.
Muslimah sejati juga tidak dilihat dari bentuk tubuh badannya yang mempersonakan, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya yang mempersona itu. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari sebanyak manakah kebaikan yang diberikannya, tetapi dari keikhlasan ketika ia memberikan segala kebaikan itu. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan. Muslimah sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara dan berhujjah kebenaran.
Muslimah sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian trand tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya melalui apa yang dipakainya. Muslimah sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di tepi jalanan tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang lain jadi tergoda. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa ridha dan kehambaan kepada TUHAN-nya. Dan ia sentiasa bersyukur dengan segala karunia yang diberikan.
Itulah muslimah sejati, yang ia senantiasa menerima konsekuensi keimanannya. “Sami’na wa atho’na” , ketika ia mendengar suatu kebenaran yang datangnya dari Rabb dan Rasullnya, maka ia melaksanakannya.
Alhamdulillah.. ternyata begadangku ini tidak sia-sia. Aku mendapatkan banyak pembelajaran dari novel ini. Aku bisa tahu bagaimana perjuangan muslimah di Rusia sana dalam mempertahankan jilbabnya ketika kediktatoran Reza Pahlevi melarang keras wanita berjilbab dan berkerudung. Sedangkan aku, seorang muslimah Indonesia, yang diberikan kebebasan berjilbab dan berkerudung oleh pemerintah malah menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku sudah termasuk pada orang-orang yang tidak bersyukur. Bahkan lebih dari itu. Aku telah melanggar konsekuensi keimananku sebagai muslimah. Wanita islam yang wajib memakai jilbab dan kerudung. Astaghfirullah… Ampuni aku Ya Rabb..
Tak terasa bulir-bulir bening mulai basah mengalir lembut di pipiku. Aku yang sedari dulu tahu tentang wajibnya seorang wanita islam berkerudung, menutup aurat, tapi aku malah berpaling dari kebenaran itu. Mataku buta, telingaku tuli, mulutku kelu. Aku terus memohon ampunan kepada Allah, sampai akhirnya mataku tertutup terbawa ke alam mimpi.
Akhirnya tiba saatnya penampilan karya seni kami. Performance kami sudah sangat dipersiapkan dengan matang. Kami akan memakai jilbab berwarna biru bermotifkan bunga-bunga kecil berwarna putih dan kerudung berwarna biru. Sebelumnya kami pun bahkan sempat belajar berkerudung dulu pada ka Nanda. Bunga memang desainer yang bisa diandalkan. Di belakangnya ada background buatan Evi dan Liana bergambar lukisan seorang jilbaber asal Rusia yang  menjadi inspirasi kami dengan tulisan besar “Kekasihku dan Kekasihmu” serta tidak lupa sound effeck yang menggetarkan hati.
Sekarang saatnya aku bekerja. Membacakan sebuah pisi buah karyaku sendiri. Dengan penuh percaya diri, aku yang berada di tengah-tengah Evi, Liana dan Bunga maju dua langkah ke depan dan dengan lantang membacakan bait demi bait syair puisiku.

Aku dan Kekasihku
Wahai kaum Hawa
Telah tersuguhkan kepadamu seulas senyum manis
Yang selalu singgah dimatamu
Itulah senyum modern
Terdengar pula olehmu
Alunan suara merdu selembut beledu
Yang selalu singgah di telingamu
Itulah suara zaman
Manis? Ya,memang manis..
Indah? Ya,memang indah..
Tapi..
Ada apa dibalik kemanisan itu?
Ada apa dibalik keidahan itu?
Hanyalah hiasan la’natullah!!
Dengan nada-nada syetan mereka berkata
Jilbab itu bukan zaman
Kerudung itu kampungan
Hai remaja anti busana Islam!
Tubuhmu itu bukan bahan obralan
Rambut itu mahkota keindahan
Wahai mujahidin Islam!
Janganlah kau terbawa arus zaman
Anjing menggonggong kafilah berlalu
Keindahan rambutmu, kehalusan kulitmu, kesempurnaan tubuhmu
Bukanlah untuk dijadikan tontonan
Bukanlah untuk di iklankan
Bukanlah untuk diperjual belikan
Jilbab mu adalah perisai baja
Keredungmu adalah tirai-tirai emas
Kelengkapan busana, perisai tubuhmu
Jangan kau tanggalkan dia
Jangan kau jauhi dia
Cintailah dia
Karena dia
Kekasihku dan kekasihmu..

Tepukan tangan membahana di seantero sekolah. Aku sangat terharu, karena hari ini adalah hari jilbab dan kerudung pertamaku. Mudah-mudahan aku bisa istiqomah dengan keputusan yang aku pilih. Terima kasih kakakku tercinta. Kau memang benar, aku akan merasakan dan mengikuti jejakmu. Semoga nanti kita disatukan bersama mujahidah islam di kehidupan yang sesungguhnya, syurga. Amiin..

Tak Sekedar Fatamorgana


Cerpen ini pernah diikut sertakan dalam lomba: Menulis Cerpen Nasional Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi Fakultas TAR

Cerpen kedua saya ini sebenarnya masih jauh dari bagus, maklum masih belajar. Kemenangan bukan tujuan, tapi pengalaman dan proses belajarnya yang paling berharga. :) Masih kayak karangan anak SD, hehehe
Kritik dan saran sangat ditunggu.. :)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

            Fajar menyingsing di ufuk timur menjadi awal suatu perjuangan. Perjuangan dalam menggapai cita-cita mulia yang tiada bandingan. Meski lelah mengejar waktu, namun semangat itu tak mampu terbendungkan. Tak jarang olok-olokan menjadi nyanyian pengisi hari. Namun tekadnya tak pernah roboh dan tetap kokoh. Demi satu senyum indah yang ia ingin lihat dari wajah sang Ibu, demi mata penuh binar bangga dari sang Ayah.
            Ya, Sari adalah sosok perempuan yang tak kenal lelah. Ia tak pernah menyerah dengan keadaan. Ia tak pernah kalah dengan medan. Dalam pikirannya hanya ada satu tujuan, kesuksesan demi kebahagiaan dan kebanggaan kedua orangtua yang teramat dia cintai. Ia selalu membayangkan, suatu saat nanti ia akan mempersembahkan sebuah toga, topi kebesaran kaum intelektual. Meski sebenarnya ia baru duduk di kelas IX sekolah menengah pertama, namun pikirannya jauh menatap masa depan yang gemilang.
            “Sari..Sari.. kalau mimpi tuh jangan tinggi-tinggi, lihatlah realita yang ada. Kita tuh cuma orang kampung, Neng, mana bisa kita kuliah sampai ke luar Negeri. Jangankan ke LN, bisa kuliah ke Bandung aja kayaknya kita gak mungkin, kita kan orang kampung, orang udik! Apalagi orangtua kita bukan orang kaya, mau bayar kuliah pake apa? Pake uang hasil jualan combro?!”.
            Sontak semua teman-teman sekelasnya menertawakan Sari selepas mendengar ocehan Hari. Begitulah kehidupan sehari-harinya. Teman-teman sekelasnya terkadang meragukan impian Sari untuk dapat kuliah, bahkan bercita-cita sampai ke Jerman, seperti Pak Habiebie. Ia selalu saja diragukan karena memang keadaan keluarganya yang sederhana. Tidak cukup kaya, tapi juga tidak bisa disebut melarat. Cukuplah sebidang tanah warisan kakek neneknya yang dijadikan sumber kebutuhan hidup keluarganya. Dari singkong yang ditanam Ayahnya, Ibunya mengolahnya menjadi combro, makanan dari tanah sunda. Orang bilang combro itu singkatan dari oncom dijero (bahasa Sunda untuk di dalam), karena memang begitulah wujud makanan itu. Memang singkat-menyingkat adalah salah satu kebiasaan orang sunda. Misalnya saja gehu, toge jeung tahu (toge dan tahu), misro, amis di jero (manis di dalam), cimol, aci di gemol (kanji di emut), batagor, baso tahu goreng, dan lain-lain. Dari combro yang dibuat sang Ibu, lalu ia sering menitipkannya ke warung-warung, dan sebagiannya lagi ia bawa sendiri ke sekolah untuk dijual di kelasnya.
            “Hari bener tuh Sari. Biaya kuliah kan mahal, jangan jauh-jauh mikirin kuliah, SMA aja belum tentu kita bisa lanjutin. Walaupun kamu anak pinter, tapi kita juga harus lihat orangtua kita, buat makan sehari-hari aja susah, apalagi buat biayain kita sekolah. Adik-adik kita aja belum tentu bisa sampe SMP. Haduh, nasib…nasib…”.
            Mendengar keluahan Lina, ia sedikit termenung. Ia teringat pada kedua adik-adiknya. Khusaeri, adik pertamanya yang laki-laki masih duduk di bangku SD kelas 5, sedang Faisal, adiknya yang bungsu sama sekali belum sekolah. Ia bingung, jika ia mengejar cita-citanya, bukan hal yang tidak mungkin ia akan sangat menguras biaya dari kedua orangtuanya. Ia malah jadi berfikir, betapa tidak adilnya hidup ini. Di satu sisi dia melihat orang-orang kaya yang bisa sekolah setinggi apa pun, mau jadi guru bisa, mau jadi astronot bisa, mau jadi dokter juga bisa. Sedangkan dia dan kawan-kawan senasibnya di kampung tidak bisa. Jangankan punya cita-cita tinggi seperti itu, memimpikannya pun sepertinya tak pantas. Terlalu sayang rasanya waktu yang digunakan untuk mengkhayal sesuatu yang tidak mampu dicapai. Dari pada banyak mengkhayal, rasanya lebih baik waktunya digunakan untuk menolong orangtua mereka yang susah payah bekerja hanya demi sesuap nasi. Ada yang menjaga adik-adiknya di rumah, sementara kedua orangtuanya sibuk di sawah. Ada yang menjaga warung, sementara ibu dan bapaknya sibuk di dapur, ada yang pergi ke ladang, ikut menyangkul tanah pertanian orangtuanya, dan banyak lagi.
            “Sari! Ngelamun aja, tuh dipanggil bu Asri di kantor. Katanya mau ada yang dikasih.”
            “Oh, iya maaf, gak ngelamun kok, cuma lagi mikir doang. Makasih ya udah ngingetin”, ujarnya pada Wati.
            Sesampainya di kantor ia langsung menuju meja bu Asri. Guru yang satu ini terbilang dekat dengannya. Selain karena bu Asri kenal dengan ibunya, kedekatan itu juga terjalin akibat kepintaran Sari dalam pelajaran matematika, pelajaran yang diajarkan bu Asri.
            “Eh Sari udah dateng, nih buku ‘Sang Pemimpi’ yang ibu janjikan. Sok aja kalau mau dipinjem”, kata bu Asri.
            Ia teringat, seminggu yang lalu ia meminjam buku-buku motivasi dari guru matematikanya itu. Ya meskipun Sari anak pinter, penuh semangat, dekat dengan semua gurunya, tetap saja ia membutuhkan motivasi lebih untuk mencapai cita-citanya. Dan ternyata buku yang gurunya pinjamkan itu sangat tepat. Dengan cerita tak putus asa dari Arai, Ikal dan Jimbron (tokoh dari novel ‘Sang Pemimpi’), ia semakin mantap dengan pilihannya. Ia bertekad bulat untuk mengejar cita-citanya di kota.
            Selepas pengumuman kelulusan, ia memberanikan diri meminta untuk sekolah di kota kepada kedua orangtuanya. Namun tidak disangka, ternyata keinginannya itu didukung penuh oleh orangtuanya. Bukan hanya mereka, guru-gurunya di SMP pun sangat mendukung, bahkan segala urusan administrasi pendaftarannya pun diurusi oleh pihak sekolah. Jelas saja Sari mendapat banyak dukungan, karena ia adalah bintang di sekolahnya. Meski SMP 9 Pakenjeng baru berdiri empat tahun saat kelulusannya, namun ia berhasil menorehkan prestasi sampai tingkat kabupaten untuk sekolahnya itu. Dengan kepintaran, pribadi yang santun, serta agama yang bagus, ia menjadi anak emas di sekolahnya.
            “Neng, Alhamdulillah, Neng keterima di SMA yang Neng impikan”, kata pak Udin, guru Fisikanya.
            Dalam hati, ia sedikit tak percaya. Keraguan-keraguan yang selama ini orang lontarkan ternyata mampu terbantahkan. Berkat do’a dan kerja kerasnya, akhirnya dia mampu melangkah demi mengejar cita-citanya. SMA 11 Garut yang diimpikan, kini di depan mata. Bukan lagi fatamorgana, itu nyata.
            Minggu pertamanya di sekolah, sungguh menguras banyak tenaga. Biasalah, budaya pendidikan di Indonesia yang selalu diawali oleh MOS (masa orientasi siswa), yang seharusnya dijadikan ajang perkenalan seluk-beluk tentang SMA, tapi beralih fokusnya menjadi ajang unjuk gigi seniornya, ada juga yang menjadikannya sebagai ajang balas dendam, pembulian tingkat tinggi. Setiap hari dibebani dengan berbagai tugas, sampai-sampai banyak yang terkena penyakit kanker, alias kantong kering. Mending kalau tuganya bermanfaat, ini tugasnya kadang-kadang gak masuk akal. Seperti membuat puisi cinta untuk senior yang sama sekali tidak dikenalnya. Sari, yang sama sekali belum pernah pacaran, dan sedikit pun tidak terbersit dari dirinya untuk pacaran, jelas merasakan beban yang sangat berat. Berkali-kali ia memutar otak, menumpahkan tinta di atas kertas, tapi tak mampu ia selesaikan dengan baik. Sampai akhirnya setelah lima jam waktu berlalu, dan ia terkapar dengan nafas panjang.
            “Fuuhhhh… Akhirnya selesai juga puisi cinta nya..”, lirihnya seiring tarikan nafas panjang.
            Keesokan harinya sampailah ia pada sesi pembacaan puisi cinta. Dari sekian ratus puisi cinta yang ada, akan dipilih satu saja secara acak untuk dibacakan di depan semua siswa baru. Semua siswa harap-harap cemas, berharap bukan milik dirinya yang terpilih, karena akan sangat malu rasanya kalau puisi cintanya dibacakan di depan umum.
            “Mohon perhatian semuanya, saya sudah memilih satu puisi, dan akan saya bacakan segera. Tolong dengarkan baik-baik”, kata Sidik, senior tingkat tiga yang cukup menjadi sorotan publik karena ketampanannya.
...........................................
...........................................
............................................
            Deg! Sontak jantung Sari berdetak kencang. Makin lama ia mendengar puisi yang dibacakan seniornya itu, makin tidak asing rasanya.
            Astaghfirullah.. Itu kan puisi Sari.., lirihnya dalam hati.
            Mukanya merah padam. Serasa semua mata tertuju padanya. Rasanya ia ingin berlari jauh dari sekolahnya yang baru itu. Pikirannya melayang jauh. Ia berfikir bagaimana kalau dia jadi bulan-bulanan selama dia sekolah? Ia  menjadi bahan gunjingan setiap orang. Ia jadi bahan tertawaan semua orang.
            Eh lihat deh, itu kan si Sari, anak baru yang ngasih puisi cinta buat si Amin.. PD banget tuh anak, jelek juga!
            Eh cewe genit! Godain gue dong.. Hahahahahahahah
                “Sari?! Kamu kenapa? Kok mukanya pucet sih?”
            Teguran Lati membuat Sari terhenyak dari lamunannya yang liar.
            “Mmh, ggkk.. gak apa-apa kok.. Kok kamu biasa aja sih ngedenger puisi itu? Kamu gak malu ya deket-deket aku?”
            “Kenapa harus malu Sari?”
            Ia terheran, apakah teman barunya itu tidak menyadari kalau puisi yang dibacakan itu puisi punya Sari? Ia terus berpikir. Sampai akhirnya dia teringat bahwa seniornya menugaskan hanya mencantumkan tujuannya saja, tanpa mencantumkan pengirimnya. Ia pun menghela nafas sebagai tanda syukurnya.                       
            Dua minggu berlalu, berlalu juga penderitaannya sebagai siswa baru. Kini ia bisa menjalani hari-harinya sebagai seorang siswa SMA normal tanpa ada tekanan dari seniornya lagi. Hari-harinya ia jalani dengan penuh semangat. Selain serius menjalani bidang akademiknya, ia pun tidak mau menyia-nyiakan masa SMA-nya begitu saja, alhasil dia menjadi seorang aktivis. Dia aktif di berbagai ekstra kulikuler sekolah. Di tahun kedua sekolahnya, dia bahkan mendapatkan amanah sebagai pradana (ketua pramuka tingkat penegak) putri  di ambalan sekolahnya. Selain Pramuka, ia juga aktif di organisasi rohani islam (rohis) yang sebenarnya lebih membuat dirinya nyaman ketimbang di ekskul yang lain.
            Masa-masa SMA-nya ia jalani dengan penuh hambatan dan tantangan. Terlebih karena asalnya yang dari kampung nun jauh di sana. Malah sempat ia terkena virus minder, kurang percaya diri, merasa dirinya tak sepintar teman-temannya dari kota. Tapi ternyata perasaannya itu mampu ia halau, dan malah dijadikan sebagai motivasi terbesar hidupnya. Ia mampu menonjol di antara teman-teman sekelasnya. Semester pertamanya di kelas sepuluh, ia mendapat peringkat ke dua, namun di semester keduanya ia mampu menjadi unggulan kelasnya.
            Tantangan yang paling berat ia rasa tatkala masuk di tingkat dua. Di kelas IPA nya yang baru, ia merasakan banyak pesaing yang lebih tangguh darinya. Dari empat semester yang ia jalani, tiga diantaranya ia tetap bertahan di peringkat dua, namun di akhir masa sekolahnya, akhirnya dia mampu menyaingi rival sekelasnya. Perjuangan yang sangat panjang baginya. Namun, perjuangan yang berujung bahagia, dan setimpal dengan pengorbanannya.
            “Sari, udah ada rencana kuliah ke mana nih?”, tanya Zain, soulmatenya selain Lati.
            “Belum tau nih Zain, pengennya sih ke UPI, tapi kalau gak salah gak ada beasiswa langsung dari awal kalau ke UPI. Kalau bukan beasiswa, takutnya orangtua aku gak menyanggupi biayanya. Kalau kamu senidri gimana?”
              “Aku sih pengennya jurusan HI di UI. Kan enak bisa jadi Dubes Indonesia keluar negeri, hehehe. Kalau enggak, aku mau ke STAN aja, katanya langsung kerja, dan biaya kuliahnya gratis. Kalau Lati gimana?”
            “Wah, aku bingung nih teman, belum ada rencana apa-pun, hehehe. Bukan karena apa-apa sih, tapi aku juga mikirin orangtua aku, aku punya tiga orang adik yang semuanya masih sekolah, aku bingung biayanya gimana.”
            Mendengar keluhan Lati barusan, ia pun juga jadi teringat adik-adiknya di rumah. Sama dengan Lati, ia juga mempunyai adik-adik yang masih sekolah. Ia bertanya dalam hatinya, apakah ia mampu kuliah ataukah tidak? Untuk semesteran sekolahnya saja ia sering menunggak, apalagi untuk kuliah, di luar kota lagi. Bagaimana dengan biaya tempat tinggalnya? Bagaimana dengan biaya hidupnya? Bagaimana dengan biaya akademiknya? Ia bimbang, antara mengejar cita-citanya dengan mengurangi beban orangtuanya. Kebimbangannya memuncak setelah ia gagal mendapatkan PMDK (Program Penelusuran Minat dan Kemampuan) ke UPI. Rasa-rasanya dia sudah mulai putus asa dan hanya berharap setidaknya dia mampu kuliah di kotanya saja.
            Keesokan harinya secara tidak disangka-sangka guru BK (bimbingan konseling) disekolahnya memanggil lima orang siswa-siswi berprestasi di kelasnya. Beliau menawarkan beasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi yang cukup ternama di Jawa Barat, Universitas Padjadjaran (Unpad). Awalnya dia tidak berniat sedikit pun untuk ikut. Selain dia tidak tertarik ke universitas tersebut, dia pun merasa was-was, karena dari info-info yang dia dapat dari temannya, mahasiswa Unpad itu gaul-gaul, trendy, cantik-cantik, dan hal-hal modern lainnya. Karena ketidak percaya dirian itu serta rasa takut terbawa arus pergaulan bebas, ia sempat tak melirik Unpad. Namun karena keinginan kuliahnya yang kuat, ia pun tergerak untuk mengikutinya. Ia pun mulai mengumpulkan segala persyaratan yang dia butuhkan untuk beasiswa tersebut.
            “Bu ini berkas-berkas persyaratan beasiswa saya”
            “Eh Sari, simpan di sini aja Sar. Untung aja ngumpulnya hari ini, Sari pengumpul yang terakhir loh.”
            “Hehe, maaf ya bu, soalnya saya nunggu persyaratan yang dikirim orangtua saya di kampung, jadinya agak telat”
            Sehari dua hari, seminggu dua minggu, waktu terus berlalu, namun kabar kepastian beasiswa yang dia ikuti tak kunjung tiba. Hingga timbul kegelisahan yang memuncak pada diri Sari. Dia yang diam-diam masih mengharapkan dapat kuliah di UPI, merasa ciut hatinya setelah mendengar kabar saudaranya yang juga ikut mendaftar masuk ujian mandiri ke UPI tidak lulus. Hati dan semangatnya kian mengkerut setelah mendapat kabar teman-temanya pun banyak yang berguguran dalam perjuangan seleksi ke universitas yang mereka tuju. Sampai tibalah waktunya perpisahan di sekolahnya. Graduasi tersebut cukup membuatnya terharu. Ia sama sekali tak menyangka  bisa menjadi lulusan dari salah satu sekolah terbaik di kotanya. Pidato-pidato perpisahan dari perwakilan seangkatannya cukup membuatnya mengurai air mata. Begitu banyak kenangan yang ada. Susah, senang, sedih, bahagia, suka, duka, semuanya ia alami. Terutama kenangan bersama dua orang sahabatnya, Lati dan Zain. Ia berharap, setelah kelulusan ini mereka masih bisa sedekat masa SMA-nya dulu.
            “Sari! Ngelamun aja deh, Lati mana? Perasaan aku gak ngeliat Lati dari tadi..”
            “Iya Zain, aku juga gak ngeliat. Kita sibuk sama masing-masing kelas sih..”
            “Owh ya Sar, kamu udah liat hasil beasiswanya belum? Aku udah, dan gak lulus”, ujar Zain yang juga ikut seleksi beasiswa yang sama dengannya.
            “Belum Za, emangnya udah ada pengumumannya ya? Lihat di mana?”, tiba-tiba saja ia was-was, Zain aja yang tidak kalah pintar darinya tidak lulus, apa lagi dirinya.
            “Ada di web, coba kamu liat aja Sar, nanti kabar-kabari aku ya hasilnya!”
            Semenjak percakapannya itu hatinya tak pernah tenang. Setelah acara graduasinya selesai, ia tidak banyak membuang-bunang waktu. Sesampainya di rumah, ia hanya mengganti kebayanya dengan baju biasa dan langsung menuju warnet terdekat di rumah bibinya. Tak lama ia berada di warnet, setelah hasilnya ia ketahui, ia langsung pulang lagi.
            “Kok cepet Sar, udah ada pengumumannya?”
            “Udah Om, Alhamdulillah, jadinya gak harap-harap cemas lagi.”
            “Gimana teh hasilnya?”
            “Alhamdulillah, teteh lulus bi, jurusan Fisika”, dengan muka sumringah dia menceritakan segalanya.
            Hari itu merupakan hari paling bahagia dalam hidupnya. Sungguh Allah telah banyak memberikan kemudahan terhadap segala asanya. Memori-memorinya yang dulu kini berputar lagi diingatannya. Bagaimana perjuangannya dalam mempertahankan cita-citanya. Bagaimana komentar-komentar pedas dari orang-orang yang iri terhadapnya. Bagaimana keraguan yang timbul dari keluarga jauhnya. Hanya orangtuanya lah orang yang menjadi pemicu semangatnya. Orangtuanya yang mampu membuat dia bertahan dalam setiap hambatan, tantangan dan rintangan yang datang menghadang. Keinginan menyekolahkan kedua adik-adiknya pun menjadi kekuatan tersendiri baginya. Kini, masa depan di depan mata. Tak ada lagi fatamorgana, semuanya nyata baginya.