Sunday, 19 May 2013

Jilbab Pertamaku


Cerpen ini yang pertama, kalo yang ke-2 kayak karangan anak SD, kalo yang pertama ini kayak anak TK. hehehe, masih sangat perlu belajar lagi..

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi itu ketika hari pertama aku masuk SMA..
       “Aduuuh,udah jam 06.30  lagi, aku belum sisir  rambut, pake bando, diiketin rambutnya… Mana rambuku susah diatur lagi!! Eeuuh….” Keluhku sambil menyisir rambut di depan cermin.
         “Ade! Ayo kita berangkat!” Kakakku berteriak dari depan rumah sembari membetulkan kerudungnya yang sangaattt lebar.
            Kakak perempuanku, Bionanda Ayu Lestari, sudah mengajakku untuk pergi bersama. Kebetulan dia sekolah di SMA yang sama dengan SMA yang baru aku masuki. Hanya saja sekarang dia kelas  XI, beda satu tingkat denganku.
            “Kok kakak cepet sih?? Padahal kan aku mandi duluan..” Tanya ku pada kak Bio sambil mengikat rambutku yang belum rapi.
            “Kan kakak pake kerudung… tinggal sisir, diikat, pake kerudung, beres deh!!” Kak Bio menjawab sambil memperagakan apa yang dibicarakanya.
            “Aaaahhhh…. Enak banget siiihhhh… Kakak curang!!!” Aku mengeluh sambil memakai sepatu.
            “Makanya, ade pake kerudung aja yuk??”, kata kakak sambil mengedipkan mata kirinya seraya tersenyum simpul.
            “Gak mau ah! Ribet! Gak bebas!” Elakku sambil berdiri siap untuk berangkat.
            “Yakin ribet? Gak bebas? Ya udah deh, gimana ade aja, tapi kakak yakin, nanti ade juga bakal ngikutin kakak.” Kata kakak dengan PD-nya.
            “Yakin banget sih kakak, liat aja nanti, kakak pasti salah!” Kataku sambil cemberut.
            “Yuk kak, kita berangat, aku udah siap!”
            Sejak saat itu aku dan kakak selalu berangkat bersama ke sekolah. Dan sejak saat itu pula, kakak selalu meyakinkanku untuk  memakai  kerudung  walau pun aku selalu “tidak” menggubrisnya, tapi kakak tetap sabar mengajakku tanpa memaksa.
            Namun suatu hari,  aku ada kerja kelompok mendadak, aku harus berangkat ke sekolah lebih awal tanpa kakak. Ketika aku berjalan melewati pangkalan ojek dekat rumahku, aku melihat ada seorang perempuan seusiaku yang sedang digoda tukang ojek. Tak heran ku pikir, perempuan itu memang berpenampilan sangat minim dan sangat ketat. Disisi lain, aku pun melihat seorang jilbaber melewati pangkalan ojek dengan anggunnya. Tak seperti yang aku lihat sebelumnya, perlakuan  yang sangat berbeda dari tukang ojek sangat jelas kentara. Anggukkan kepala dan senyum hormat mereka tujukan pada sang jilbaber. Bahkan mereka pun mengucapkan salam.
            Sesampainya di kelas, aku langsung menghampiri teman-temanku yang sudah berkumpul. Seperti biasa, mereka menungguku dengan pormasi yang selalu sama.
            The first, Berliana Salsabila. Duduk di atas meja dengan kaki kanan ditumpangkan di atas kaki kiri. Sisir di tangan kanannya dan tak lupa cermin di tangan kirinya. Dia sedang asyik bercermin sambil merapihkan poninya.
            Next, Beugenvile Ungu. Dara blasteran Sunda-Belanda ini sedang asyik membaca buku. Lembar demi lembarnya cepat sekali berlalu. Matanya selalu terfokus mengincar setiap kata dari bukunya. Seakan-akan ia tak mau kecolongan satu detik pun dari laju waktu. Dan sepertinya  buku yang ia baca kali ini komedian deh, dia terlihat cekikikan sendiri.
             The last, Bunga Pertiwi. Gadis betawi tulen ini mondar-mandir tak karuan. Sambil berkacak pinggang dan dengan raut muka yang tampak kesal ia terus bergumam. Kakinya tak pernah berhenti melangkah, bahkan lem ampuh sekalipun mungkin tak kan mampu menghentikannya. Haduuuhhh.. Aku harus menyiapkan mental untuk menerima ocehannya!
            Langkahku yang tergesa-gesa akhirnya berujung di sekumpulan anak hawa tadi. Dengan nafas yang ngos-ngosan dan peluh keringat yang mulai jatuh di keningku, aku duduk mengambil posisi di samping Evi yang dari tadi tak melepaskan pandangannya dari buku yang ada di tangannya.
            “Biofani Indah Syahraniiiii…. Kamu lama banget sih???” , ocehan pertama mulai keluar dari mulut Bunga.
            “Maafin aku ya teman-teman… Tadi aku harus jalan kaki dulu, jadi agak telat dehhhh…”, dengan kedua tangan dirapatkan di dada, aku memelas pada mereka. Tak lupa pasang muka yang paling menyedihkan, jurus ampuh yang ku punya.. hehehe
            “Aduh Fani… udah deh, aku gak tega lihat muka kamu yang memelas itu. Kita udah maafin kok. Ya kan Bunga? Evi?”, kata Liana sembari menghampiriku dan kemudian memegang pundakku.
            “Iya, Neng! Santai aja kali! Udah biasa si Bunga mah, kalo ada tugas mendadak, pasti suka riweuh”, kata Evi sambil melipat halaman bukunya, tanda ia mengakhiri bacaannya.
            “Enak aja riweuh, aku kan cuma gak tenang aja kalo ada tugas ngedadak kayak gini”, bela Bunga.
            “Emangnya ada tugas apaan sih? Kok kayaknya penting banget???”, tanyaku penasaran.
“Gini, Fan, sekarang kan minggu terakhir kegiatan pesantren kilat Rohis sekolah kita, nah panitia bilang setiap kelompok harus ikut lomba karya seni. Baik itu berupa puisi, drama, nasyid, ato apalah yang berbau seni”, tutur Liana panjang lebar.
“Temanya harus mengenai keagamaan dan kalo bisa untuk akhwatnya tentang jilbab”, sambung Evi.
“Dan kita hanya diberi waktu sampai hari sabtu. Itu artinya dead line nya tinggal dua hari lagi Fan”, Bunga ikut menimpali.
“Owh..”, aku ngangguk-ngangguk mulai mengerti..
“So, gimana nih friends, ada ide?”, tanya Evi dengan alisnya yang terangkat.
Sesaat hening serasa di kuburan…
Sepi serasa sendiri…
Yang terdengar hanya ketukan jari di atas meja, detakkan jantung dan hembusan nafas…
Tiba-tiba, lampu-lampu di atas kepala kami menyala…
“Puisi!”, kata Evi seraya menjentikkan jarinya.
“Lukisan?”, kata Bunga dengan kedua alisnya yang terangkat.
“Music!”, Liana tak mau kalah.
“Dan kita kolaborasikan semuanya!”, kataku semangat ’45.
Semuanya saling berpandangan tersenyum puas dan langsung menyatukan tangan kanan seraya meneriakkan yel-yel kebanggaan.
“EMPAT BEEEE… Ist The Best!!!, teriak kami gembira.
KRIIIIINGGGGGGGGGGG….
Bel tanda masuk berbunyi…
Kami pun langsung bubar, duduk di bangku masing-masing dan bersiap mengikuti pelajaran sampai usai. Jam-jam telah berlalu, tiga guru bergantian masuk untuk mengajar. Mereka selalu tidak lupa memberi kami oleh-oleh untuk di rumah. Saking banyaknya, aku sampai kelabakan mengerjakan semua PR itu. Waktu untuk kumpul bareng keluarga jadi semakin sedikit. Jadi, ada waktu luang sedikit pun aku selalu memanfaatkannya untuk kumpul bersama keluarga, Ayah, Ibu, Kakak dan Ade.
Sekarang aku mulai mengerti mengapa kakak juga dulu jarang kumpul bareng keluarga, saat-saat SMA memang sangat sibuk. Mulai dari tugas yang menumpuk, sampai amanah-amanah dari ekskul yang kita minati.
Tapi, ada satu dari kakak yang sampai sekarang belum  aku pahami. Kakakku yang dulu supel dalam bergaul, dengan siapa saja ia gampang nyambung, baik perempuan maupun laki-laki. Tapi sekarang, dia jadi terlihat pilih-pilih, ramah di hadapan perempuan, tapi terlihat jaga jarak dengan teman laki-lakinya, bahkan kadang-kadang dia malah terlihat ketus.
Dulu kalo kita curhat, pasti topik yang paling mengasyikkan adalah tentang percintaan. Tapi sekarang, kakak udah kayak ustadzah, selalu aja agama yang dibicarakan. Kalo diajak ke Mall, dia paling bersemangat. Shopping bareng, nonton ke bioskop, makan di café. Tapi sekarang, jangankan ke Mall, ada di rumah aja dia jarang. Dia lebih suka ikut kajian di mesjid. Baju-bajunya pun lebar-lebar semua, kayak ibu-ibu, pake  gamis terus. Malahan seragam sekolah pun disambung kayak gamis. Jauh deh kakakku yang dulu gaul sama sekarang.
Jika aku tanya kenapa dia berubah sangat drastis, dia tersenyum dan menjawab dengan tenang, “Kelak adeku tersayang ini pasti merasakannya”. Huuuhhh… selalu aja kayak gitu. Kesel deh kalo kakak udah bicara kayak gitu.
Tapi memang dari lubuk hati ku yang paling mendalam, aku mengakui bahwa perubahan kakak adalah perubahan yang baik. Kakakku yang sekarang adalah kakak yang lemah lembut, penyayang, sopan santun, penyabar, selalu bersifat tenang dalam menghadapi permasalahan dan yang paling mengagumkan, kakak selalu mampu berpikir kritis, punya prinsip yang kuat dan bahkan sangat beridiologi Islam. Terkadang aku pun suka penasaran, apa sih yang bisa merubahnya seperti ini? Hingga suatu hari ketika kakak pergi kajian ke Mesjid, aku diam-diam masuk ke kamarnya, berharap mendapatkan sesuatu yang bisa menjawab segala pertanyaan yang ada di otakku.
Subhanallah…. Benar-benar ajaib!
Poster Edward Cullen yang sedang memeluk Isabella Swan kini tergantikan dengan kaligrafi yang sangat indah. Sya’ir-sya’ir cinta dari Khalil Gibran kini terhapus oleh kata-kata penyemangat dari Hasan Al-Banna. Rak-rak buku yang dulu terisi penuh oleh novel-novel dan tips percintaan kini telah pensiun dan tergantikan oleh buku-buku keislaman.
Dan ada satu hal yang sangat menarik perhatianku, tulisan di pintu lemari yang berbunyi “SANGAT RAHASIA, KEKASIHKU TERCINTA”.
Inilah yang aku cari! Jawaban dari semua kepenasaranku. Jangan-jangan sekarang kakak punya pacar baru dan merahasiakannya kepadaku!
HAHAHAHAHA…
Dalam hati aku tertawa bahagia. Akhirnya aku akan segera mengetahui rahasia terbesar kakak.
Tanpa berpikir panjang, aku mengendap-endap menuju lemari itu.
Celinguk kanan… celinguk kiri…
Yakin situasi aman terkendali, aku pun segera membuka lemari itu. Pelan-pelan tapi pasti…
SATU… Aku memegang pegangan pintu lemarinya…
DUA… Aku membuka lemari itu dengan detak jantung yang semakin dag dig dug tak karuan…
TIGA… Aku sangat yakin aku akan mendapatkan sesuatu yang ku cari. Sambil merem melek, aku mengintip isi lemari itu. Tapi aku sangat penasaran, aku buka saja mataku lebar-lebar, dan…
Tara….
“Heuh???”
Kok isinya cuma kerudung sama jilbab-jilbab (gamis) kakak sih?
Harapanku musnah… Benar-benar musnah… Aku tertunduk lesu, energi dalam tubuhku hilang tak bersisa… Tiba-tiba sudut mataku melihat kotak yang aneh. Mencurigakan! Kotak itu benar-benar mencurigakan. Dan secara serentak seluruh kekuatanku terkumpul kembali. Tanpa kenal ampun, aku rampas kotak itu, dengan menggunakan jurus tenaga dalam ku yang aku pelajari saat di bangku TK, aku buka kotak itu… Hiyaaaatttt!!!!
“Hmm? Novel?”, lagi-lagi aku dibuat terheran-heran..
“Assalamu’alaikum…”, tiba-tiba pintu kamar terbuka.
“Ww..ww..wa’alaikum salam ka..”, jawabku terbata-bata.
“Wah! Ade udah nemuin rahasia kakak ya?”, tanya kakak sambil melangkah menghampiriku.
Aku tertunduk malu. Tanganku memegang erat novel berjudul Aku dan Kekasihku itu. Lalu perlahan-lahan aku sodorkan novel itu pada kakak.
“Maaf kak, Fani belum baca kok isinya..”, seperti biasa, aku memelas dengan muka yang sangat menyesal. Bedanya kali ini kau benar-benar menyesal, bukan sekedar ekspresi menyesal yang penuh kesandiwaraan.
“ Iya sayang …kakak gak marah kok. Kakak malah seneng Fani bisa nemuin novel itu, kakak lupa nyimpen. Kan Fani tau sendiri kakak ini orangnya pelupa berat! Hehehehe..”, kata kakak sambil nyengir kuda.
“Ya syukur deh kalau begitu. Nih kak, novelnya Fani kembaliin”, kata ku sambil menyimpan novelnya di paha kakak.
“Gak pa pa Fan, justru kakak nyari novel ini buat dikasihin ke kamu. Dibaca yak!”, kakak balik menyodorkan.
“Oke deh kalo gitu. Aku ke kamar dulu ya kak! Ntar aku pasti baca novel ini”, kataku sambil melangkah meninggalkan kamar kakak.
Dalam hati aku sangat bersyukur kakak tidak marah pada ku, justru dia malah memberikan rahasia terbesarnya padaku secara cuma-cuma. Setelah beres mandi, makan dan mengerjakan tugas-tugasku, aku pun langsung membacanya. Lembar demi lembar terus aku lalui. Tak terasa malam pun semakin larut, dan aku tiba di halaman terakhir.
….
Seorang muslimah yang sejati bukanlah dilihat dari kecantikan dan keayuan paras wajahnya semata-mata. Wajahnya hanyalah satu peranan yang teramat kecil saja. Tetapi, muslimah yang sejati dilihat dari kecantikan dan ketulusan hatinya yang tersembunyi. Itulah yang terbaik.
Muslimah sejati juga tidak dilihat dari bentuk tubuh badannya yang mempersonakan, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya yang mempersona itu. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari sebanyak manakah kebaikan yang diberikannya, tetapi dari keikhlasan ketika ia memberikan segala kebaikan itu. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan. Muslimah sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara dan berhujjah kebenaran.
Muslimah sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian trand tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya melalui apa yang dipakainya. Muslimah sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di tepi jalanan tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang lain jadi tergoda. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa ridha dan kehambaan kepada TUHAN-nya. Dan ia sentiasa bersyukur dengan segala karunia yang diberikan.
Itulah muslimah sejati, yang ia senantiasa menerima konsekuensi keimanannya. “Sami’na wa atho’na” , ketika ia mendengar suatu kebenaran yang datangnya dari Rabb dan Rasullnya, maka ia melaksanakannya.
Alhamdulillah.. ternyata begadangku ini tidak sia-sia. Aku mendapatkan banyak pembelajaran dari novel ini. Aku bisa tahu bagaimana perjuangan muslimah di Rusia sana dalam mempertahankan jilbabnya ketika kediktatoran Reza Pahlevi melarang keras wanita berjilbab dan berkerudung. Sedangkan aku, seorang muslimah Indonesia, yang diberikan kebebasan berjilbab dan berkerudung oleh pemerintah malah menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku sudah termasuk pada orang-orang yang tidak bersyukur. Bahkan lebih dari itu. Aku telah melanggar konsekuensi keimananku sebagai muslimah. Wanita islam yang wajib memakai jilbab dan kerudung. Astaghfirullah… Ampuni aku Ya Rabb..
Tak terasa bulir-bulir bening mulai basah mengalir lembut di pipiku. Aku yang sedari dulu tahu tentang wajibnya seorang wanita islam berkerudung, menutup aurat, tapi aku malah berpaling dari kebenaran itu. Mataku buta, telingaku tuli, mulutku kelu. Aku terus memohon ampunan kepada Allah, sampai akhirnya mataku tertutup terbawa ke alam mimpi.
Akhirnya tiba saatnya penampilan karya seni kami. Performance kami sudah sangat dipersiapkan dengan matang. Kami akan memakai jilbab berwarna biru bermotifkan bunga-bunga kecil berwarna putih dan kerudung berwarna biru. Sebelumnya kami pun bahkan sempat belajar berkerudung dulu pada ka Nanda. Bunga memang desainer yang bisa diandalkan. Di belakangnya ada background buatan Evi dan Liana bergambar lukisan seorang jilbaber asal Rusia yang  menjadi inspirasi kami dengan tulisan besar “Kekasihku dan Kekasihmu” serta tidak lupa sound effeck yang menggetarkan hati.
Sekarang saatnya aku bekerja. Membacakan sebuah pisi buah karyaku sendiri. Dengan penuh percaya diri, aku yang berada di tengah-tengah Evi, Liana dan Bunga maju dua langkah ke depan dan dengan lantang membacakan bait demi bait syair puisiku.

Aku dan Kekasihku
Wahai kaum Hawa
Telah tersuguhkan kepadamu seulas senyum manis
Yang selalu singgah dimatamu
Itulah senyum modern
Terdengar pula olehmu
Alunan suara merdu selembut beledu
Yang selalu singgah di telingamu
Itulah suara zaman
Manis? Ya,memang manis..
Indah? Ya,memang indah..
Tapi..
Ada apa dibalik kemanisan itu?
Ada apa dibalik keidahan itu?
Hanyalah hiasan la’natullah!!
Dengan nada-nada syetan mereka berkata
Jilbab itu bukan zaman
Kerudung itu kampungan
Hai remaja anti busana Islam!
Tubuhmu itu bukan bahan obralan
Rambut itu mahkota keindahan
Wahai mujahidin Islam!
Janganlah kau terbawa arus zaman
Anjing menggonggong kafilah berlalu
Keindahan rambutmu, kehalusan kulitmu, kesempurnaan tubuhmu
Bukanlah untuk dijadikan tontonan
Bukanlah untuk di iklankan
Bukanlah untuk diperjual belikan
Jilbab mu adalah perisai baja
Keredungmu adalah tirai-tirai emas
Kelengkapan busana, perisai tubuhmu
Jangan kau tanggalkan dia
Jangan kau jauhi dia
Cintailah dia
Karena dia
Kekasihku dan kekasihmu..

Tepukan tangan membahana di seantero sekolah. Aku sangat terharu, karena hari ini adalah hari jilbab dan kerudung pertamaku. Mudah-mudahan aku bisa istiqomah dengan keputusan yang aku pilih. Terima kasih kakakku tercinta. Kau memang benar, aku akan merasakan dan mengikuti jejakmu. Semoga nanti kita disatukan bersama mujahidah islam di kehidupan yang sesungguhnya, syurga. Amiin..

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.