Minggu, 25 Agustus 2013

Ilmu: Kunci Kesuksesan Dunia dan Akhirat



            Pernah gak, sih, kita berpikir, “buat apa kita sekolah sejak kecil hingga dewasa?”. OK lah, mungkin ilmu kelas satu SD dulu -membaca, menulis dan menghitung- sungguh sangat bermanfaat hingga kita dewasa. Tapi, bagaimana dengan pelajaran IPA SD kita? IPS kita? Biologi, Kimia, Matematika, Fisika, dan yang lainnya, seringkah kita amalkan? Ada sebagian orang yang berpikir, “ya kita menuntut ilmu agar kita pintar, kalo kita pintar kita bisa dapat kerja yang bagus, terus nanti kita kaya deh!” Sesempit itu kah? Kalau memang hasil akhir dari kita menuntut ilmu hanya untuk sekedar mendapatkan ijazah, kerja dan kaya saja, sungguh buang-buang waktu. Toh orang lain juga ada yang lebih kaya, padahal dia gak menempuh pendidikan yang tinggi. Mau contoh? Bill Gates, pendiri dan ketua umum perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft. Siapa sangka dia ternyata di DO dari Harvard dan sebelumnya pernah bekerja sebagai Office Boy. Kemudian Mark Zuckerberg, dia mengembangkan sebuah situs penghubung mahasiswa Harvard menjadi Facebook. Dan tahukah teman? Dia pun di DO dari Harvard sebagaimana Bill Gates. Dan banyak lagi contoh yang dia sukses tapi dia tak sempat berpendidikan tinggi.
            Memang, jika kita hanya berpikir urgensi dari menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan kesuksesan duniawi saja, itu merupakan pemikiran yang keliru. Mengapa? Karena hakikat menuntut ilmu yang sesunggunya adalah untuk menabur kebaikan. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, ia berkata: “Kebaikan anak Adam adalah dengan iman dan amal shalih, dan tidaklah mengeluarkan mereka dari kebaikan, kecuali dua perkara: Pertama, Kebodohan, kebalikan dari ilmu, sehingga orang-orangnya akan menjadi sesat. Kedua, Mengikuti hawa-nafsu dan syahwat, yang keduanya ada di dalam jiwa. Sehingga orang-orang akan mengikuti hawa-nafsu dan dimurkai (oleh Allah)”. (Majmu’ Fatawa 15/242)
            Kebodohan adalah salah satu sebab utama seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kefasikan, bahkan ke dalam kemusyrikan atau kekafiran. Kebodohan bisa menuntun seseorang pada kerugian yang teramat besar bahkan akan membuatnya celaka. Misalnya saja, seseorang yang tak mampu berhitung. Bisa jadi dia ditipu orang ketika dia berjual beli dan parahnya dia tidak tahu dirinya sedang ditipu orang.  Seorang yang buta hurup akan kesulitan dalam membaca setiap petunjuk. Berbeda halnya dengan orang yang berilmu, dia tak mudah tertipu oleh orang. Ia dihargai oleh semua orang. Ia memiliki harkat martabat tersendiri di mata masyarakatnya. Lihat bagaimana kecerdasan nabi Ibrahim yang bisa menghalau kekufuran dan kecongkakan raja Namrud. Lihat pula bagaimana dimuliakannya sahabat nabi, Ali bin Abi Thalib ra. akibat kecerdasannya. Lihat pula bagaimana kecerdikan Salman Alfarisi yang mampu menjadi kunci kemenangan tatkala terjadi perang Parit atau Khondak atau Ahjab.
            Sungguh islam memberikan perhatian yang mendalam terhadap ilmu. Banyak bukti sejarah yang menunjukkan bagaimana dunia islam mengunggulkan ilmu. Banyak ilmuan besar yang terlahir dari dunia islam. Al Khoarizmi, dia adalah ilmuan islam penemu angka nol. Bisa dibayangkan jika sampai saat ini kita menggunakan cara penulisan angka romawi, butuh berapa panjang karakter untuk menunjukkan harga satu juta? Ibnu Sina, atau dunia Barat kenal dengan Avi Cena. Dia adalah bapak kedokteran di dunia. Kitabnya menjadi rujukan seluruh fakultas kedokteran di dunia. Siapakah dia? Dia adalah ilmuan dunia islam. Semua teknologi yang ada sekarang asal muasalnya dari hasil temuan ilmuan islam. Lensa kamera, kapal terbang, mesin tenun, kompas, globe, dan masih banyak lagi. Bagaimana tidak, seorang muadzin saja harus mampu menguasai ilmu perbintangan agar bisa adzan tepat pada waktunya.
            Hal tersebut menunjukkan bahwa, betapa penting kita dalam menuntut ilmu. Bahkan menuntut ilmu itu sangatlah wajib. Sebagaimana sabda Rasulullah “Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim. [HR. Ibnu Majah, no:224, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Ibni Majah]
            Pertanyaannya, ilmu apakah yang wajib kita tuntut? Apakah hanya sekedar ilmu dunia saja? Mari kita renungi sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah jalankan dia di atas jalan di antara jalan-jalan surga. Dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi (pencari ilmu agama). Dan sesungguhnya seorang ‘alim itu dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan oleh ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama daripada seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Baramngsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak. [HR. Abu Dawud no:3641, dan ini lafazhnya; Tirmidzi no:3641; Ibnu Majah no: 223; Ahmad 4/196; Darimi no: 1/98. Dihasankan Syeikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin 2/470, hadits no: 1388]
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan keutamaan menuntut ilmu pada awal kalimat, dan keutamaan ‘alim (orang yang berilmu) pada pertengahan kalimat, lalu pada akhir kalimat beliau menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksudkan adalah ilmu yang diwariskan para Nabi, yaitu ilmu agama yang haq. Ini bukan berarti bahwa ilmu dunia itu terlarang atau tidak berfaedah. Bahkan ilmu dunia yang dibutuhkan oleh umat juga perlu dipelajari dengan niat yang baik, karena itu dapat menunjang kehidupan kita di dunia.
            Ilmu dunia dan ilmu agama biasanya dianaloikan bagaikan setetes air dalam luasnya samudera. Ketika kita mencelupkan jari kita ke tengah-tengah samudra, kemudian kita angkat jari kita, maka akan ada setetes air yang tersisa. Setetes air itu ialah ilmu dunia, sedang samudera luas yang membentang adalah ilmu agama. Atau orang pun sering menganalogikannya dengan pasir. Ketika kita berada di tengah-tengah luasnya padang pasir, kemudian kita menggenggam butiran pasir di tangan kita, kita tahu dan merasa butiran pasir itu sangat banyak. Namun ternyata, banyaknya butiran pasir dalam genggaman itu tak seberapa dibandingkan dengan luasnya pasir yang kita pijak. Itulah perbandingan ilmu dunia dan ilmu agama. Hal ini dipertegas lagi dengan suatu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang kurang lebih berkata bahwa, “Ketika seluruh ranting yang ada di dunia ini menjadi pena dan samudra menjadi tintanya, maka tidak akan mampu menuliskan luasnya ilmu Allah (ilmu agama)”.
Bisa dibayangkan betapa luasnya ilmu Allah. Lantas, seberapa banyak waktu yang kita gunakan untuk mencari ilmu Allah? Logikanya, jika kita menggunakan lima hari dalam seminggu, setiap pukul 08.00-16.00 (rata-rata jam perkuliahan) untuk mencari ilmu dunia yang hanya secuil, maka kita selayaknya meluangkan waktu kita lebih banyak untuk ilmu agama bukan? Namun, di zaman ini rasanya itu menjadi suatu ketidak mungkinan. Bayangkan, ketika di sekolahan saja kita hanya mempelajari dua jam pelajaran agama dalam seminggu. Lebih parah lagi di perkuliahan, kita hanya mempelajari rata-rata dua SKS saja dalam delapan semester kita kuliah. Kita tidak bisa mengharapkan banyak mendapatkan ilmu agama dalam sistem pendidikan kita saat ini. Lalau, bagaimana solusinya? Tidak lain dan tidak bukan kita harus mencari dan memburu kajian-kajian keagamaan. Salah satunya adalah dengan aktif di organisasi keagamaan. Maka dari itu, LDK DKM Unpad mengajak teman-teman untuk sama-sama menambah tsaqofah dan hazanah islam.
Mari kita menuntut dan beruru ilmu kapan pun waktunya, karena kata Rasulullah kita wajib mencari ilmu semenjak kita dilahirkan sampai kita dimakamkan. Mari kita menuntut dan beruru ilmu dimana pun kita berada. Seperti hadits Rasulullah, “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina (simbol peradaban ilmu zaman Rasulullah)”.  Mari kita menuntut dan beruru ilmu dengan siapa pun.

“Mau sukses di dunia? Raih IPK tinggi di Unpad.
Mau sukses di akhirat? Gabung aja dengan DKM Unpad J

(Tresna Mustikasari, Kepala Departemen Pembinaan dan Kaderisasi Akhwat LDK DKM Unpad)   



            

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.