Monday, 14 October 2013

Mengembalikan Peran Penting Pemuda Sebagai Harapan Bangsa


            Oktober merupakan bulan yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Setiap tahunnya di setiap tanggal 28 Oktober menjadi momen penting untuk mengenang kebangkitan para pemuda zaman dulu. Bermula pada tahun 1908 kaum muda bertekad menyatukan seluruh Nusantara dengan sebutan Indonesia. Mereka berkumpul dengan menyebut dirinya sebagai Perhimpunan Indonesia. Perhimpunan Indonesia adalah organisasi yang didirikan oleh pelajar-pelajar Indonesia di negeri Belanda. Organisasi ini awalnya bernama Indische Vereeniging. Namun, pada tahun 1922 nama itu diganti menjadi Indonesische Vereeniging, tetapi pada tahun yang sama namanya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia.
Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia. Namun ternyata sumpah pemuda yang mejadi simbolis kebangkitan pemuda itu menjadi penyemangat ‘temporal’ kaum muda saat ini. Semua pemuda terutama mahasiswa gencar menyuarakan ‘kebangkitan’ yang mereka usung di tanggal tersebut. Hanya sehari itu saja. Berbeda dengan pemuda zaman dulu yang hanya untuk mengopinikan kata ‘Indonesia’ saja memerlukan tempo 10 tahun.
Pemuda sejatinya adalah kaula muda yang selalu terdepan dalam memperjuangkan hak hidupnya. Raja dangdut, Rhoma Irama mengatakan bahwa darah muda adalah darah yang berapi-api. Bahkan Ir. Soekarno pun mengatakan seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia. Artinya pemuda merupakan tonggak utama yang bisa memprakarsai kebangkitan suatu bangsa. Pemuda merupakan generasi penerus sebuah bangsa, kader bangsa, kader masyarakat dan kader keluarga. Pemuda selalu diidentikan dengan perubahan.
Sejarah membuktikan bahwa berbagai hal menyangkut perubahan dan pembangunan, selalu identik dengan adanya campur tangan pemuda. Di berbagai belahan dunia perubahan sosial politik menempatkan pemuda di garda depan. Peranannya besar, dan mendasar. Pengaruhnya kuat dan mengakar. Hampir dipastikan di setiap revolusi besar dunia berawal dari gerakan pemuda. Misalnya saja ketika terjadinya perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah Belanda sebagian besar pemprakarsa awalnya adalah kaum muda. Lalu ketika terjadi kemerdekaan RI, pencetusnya sebagian besar adalah pemuda. Pencetus revormasi pengguling rezim Orde Baru adalah mahasiswa alias pemuda. Di dunia internasional, Robespierre dan Napoleon Bonaparte menjadi pemuda yang memiliki peran penting dalam revolusi Perancis.
 Gambaran pemuda sebagai sosok unggul, pilihan, bergairah, bergelegak dan bergelora secara fisik, psikis, intelektual, serta yang terpenting sikapnya itu ternyata berbeda dengan gambaran pemuda saat ini. Pemuda sebagai sosok superior, progresif, revolusioner dengan api berkobar-kobar, dan bara spirit yang menyala-nyala kini sudah jarang nampak bahkan lenyap sama sekali. Secara etimologi pun pemuda dari masa ke masa mengalami degradasi dan penyempitan makna. Seperti yang disampaikan oleh Bennedict Anderson, misalnya, menyebut bahwa definisi “pemuda” sejak revolusi kemerdekaan  sampai menjelang orde lama mereka selalu dikaitkan dengan “dimensi politik”. Akan tetapi setelah Orde Baru berkuasa bukan hanya terjadi degradasi makna bahkan dekadensi. Pergesaran makna “Pemuda” menjadi “Remaja”. Artinya hasil dari depolitisasi pemerintah Orde Baru, Pemuda mengalami pergeseran makna yang dulunya memuat dimensi politis, menjadi “Remaja” yang berkaitan dengan soal gaya hidup. Disinilah pemuda menjadi massa yang mengambang (floating mass). Pemuda menjadi kalangan yang seringkali “galau”. Lebih jauh lagi, makna “Remaja” pun semakin bergeser menjadi “ABG”, yang sangat identik dengan sesosok kaula muda yang lemah.
Jika dulu para pemuda gemar memperjuangkan hak-hak rakyat, berkutat dengan politik, bergulat dengan problem sosial, tapi kini pemuda atau remaja lebih sering disibukkan dengan kehidupan pribadi. Kebanyakan mereka sibuk dengan urusan cinta, sibuk dengan mencari harta dan jabatan semata, sibuk dengan hiburan dan hura-hura, hidup hanya untuk memenuhi hasrat yang sekejap mata. Gaya hidup yang penuh dengan pesta, dugem, ada genk motor, gila bola, dan club club lainnya yang isinya penuh dengan kesenangan dunia. Kemudian ditambah dengan kondisi yang penuh dengan nafsu syahwat. Dalam sebuah survei komnas anak di 12 provinsi dengan responden 4500 remaja (2010) didapatkan data bahwa 21.2 % anak SMA pernah aborsi, 62.7 % anak SMP sudah tidak perawan, 93.7 % pernah berciuman, 93-97 % pernah melihat porno. Lalu bagaimana dengan nasib pemuda intelektualnya? Menurut survei yang dilakukan Bank Mandiri, sebanyak 900.000 lulusan sarjana dari berbagai  Perguruan Tinggi (PT) yang tersebar di seluruh Indonesia masih menganggur alias tidak mempunyai pekerjaan tetap.
Lantas bagaimana peran mahasiswa sekarang dalam pembangunan bangsa? Bagaimana arah pergerakan mereka di zaman demokratis ini? Ternyata mereka seakan-akan mandul. Jika saat orde baru potensi pemuda sebagai agent of change dan agent of control mass sengaja dimatikan oleh rezim yang ada, namun sekarang meski dengan berbagai kebebasan yang ada, pemuda khususnya mahasiswa malah semakin apolitis. Hal ini diakibatkan oleh semakin individualisnya setiap masyarakat yang hidup dalam naungan demokrasi. Ini mengakibatkan tidak pekanya dia terhadap sekitarnya. Kemudian gaya hidup yang hedon dan tuntutan hidup mewah menjadi penyebab para intelektual muda menyibukkan dirinya dengan mencari harta, jabatan dan tahta. Mereka tak peduli apakah itu baik untuk bangsanya atau malah meruntuhkan bangsanya, yang penting dia memiliki segudang manfaat dari apa yang dilakukannya. Pantaskah kita berharap banyak pada gambaran pemuda yang seperti ini?
Oleh sebab itu, selayaknya kita kembali merekonstruksi kaula muda ini. Menimbulkan kesadaran bahwa dia hidup tidak hanya untuk kesenangan dunia semata, menyadarkan bahwa dia hidup di dunia hanya sementara, serta menyadarkan bahwa dia akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak menjadi satu poin penting yang mesti dilakukan agar jiwa sejati pemuda kembali hadir. Dengan begitu dia akan kembali peduli terhadap keadaan masyarakat sekitarnya. Ia tidak akan tinggal diam dengan kedzaliman yang meraja rela. Ia tidak akan mudah dibohongi para pemilik kepentingan.

Wallohu’alam bi ashowab..