Tuesday, 12 November 2013

Mengagumi Hanya Karena Allah


Kagum merupakan kata sifat yang dalam kamus besar bahasa Indonesia di definisikan sebagai perasaan heran (dengan rasa memuji); takjub; atau tercengang. Rasa kagum identik dengan sesuatu yang positif bagi seorang yang melihat/mengetahuinya. Misalnya, jika ada orang mengagumi seseorang karena penampilannya yang selalu rapih, maka menurut orang itu penampilan rapih adalah hal yang positif. Tapi berbeda dengan orang yang mengagumi seseorang karena penampilannya yang modis [meski terkadang tak rapih], maka menurut orang itu penampilan yang modis adalah hal yang positif.

                Rasa kagum merupakan rasa alamiah yang dimiliki setiap manusia. Rasa kagum merupakan salah satu bentuk ekspresi dari naluri at-tadayun [mengkultuskan sesuatu]. Sebagimana kata seorang pembicara dalam acara PAM FIGHTER [DKM Unpad] , beliau mengatakan rasa kagum adalah tingkatan pertama [sebelum takjub dan takdis] dalam naluri at-tadayun. Karena rasa kagum itu merupakan bentuk ekspresi dari naluri at-tadayun, maka dia akan muncul ketika ada dorongan luar selain dirinya. Kali ini, saya akan memfokuskannya pada dorongan manusia, bukan benda. (Baca Selengkapnya)
               Biasanya seseorang merasa kagum pada orang lain terhadap sesuatu yang dia tak bisa melakukannya. Misal, ketika saya mengagumi orang yang bisa bermain gitar [baik laki-laki ataupun perempuan], itu artinya saya tak bisa bermain gitar, atau setidaknya saya tidak bisa bermain gitar sebaik dia. Contoh lain misalnya jika saya kagum terhadap orang yang hafalan qur’annya banyak, itu artinya saya tidak memiliki hafalan sebanyak dia.

                Saya yakin banyak juga dari teman-teman yang pernah merasa kagum terhadap orang lain. Termasuk pun saya. Saya tergolong orang yang mudah mengagumi orang lain, bahkan terhadap hal yang sepele. Apalagi terhadap sesuatu yang menyangkut bakti seorang anak terhadap orang tuanya. Rasanya, jika melihat ada orang yang begitu menyayangi kedua orang tuanya dengan berbagai macam cara baktinya, saya merasa orang itu the best lah.  Rasanya jika seorang itu punya sifat cela, selalu ada pembelaan bahwa dia baik jika sikap dia terhadap orang tuanya baik. Tapi bukan berarti saya tidak bakti terhadap orang tua, ya. Hanya saja, saya merasa tak se-wah dia, dan ini menjadi dorongan positif agar saya semakin berbakti terhadap orang tua.

                Dewasa ini, saya melihat banyak orang yang tidak tepat dalam menyalurkan rasa kagumnya. Terutama kaum muslim, yang lebih utamanya lagi remaja dan pemuda pemudi muslim. Mereka mengagumi hal-hal yang mubah, bahkan dilarang oleh islam. Mereka lebih mengagumi orang yang pandai bernyanyi gak karuan, rock n roll, tapi pada orang yang pandai mengaji? Kayaknya mereka anggap kolot. Mereka lebih memahami para selebritis, sampai-sampai mungkin beranjak pada takdis. Bahkan ketika orang yang dikaguminya telah melakukan maksiat pun rasa kagumnya tak pernah luntur. Lebih dari itu, mereka pun bahkan lebih mengagumi orang kafir daripada manusia mulia, Rasulullah Muhammad shallallohu ‘alaihi wassalam.. Selain itu, mereka yang katanya intelektual pun lebih mengagumi pemikiran barat, pemikiran asing di luar islam dibandingkan pemikiran atau tsaqofah islam. Mereka lebih meyakini sistem lain dan meragukan sistem islam.

                Saya jadi teringat pada sebuah hadits Rasul yang kurang lebih bunyinya “di akhirat kelak kita akan bersama orang yang kita cintai”. Tentu saja, bukan berarti ketika kita mengagumi seseorang itu sama artinya dengan kita mencintai orang itu. Hanya saja, biasanya rasa kagum itu bisa menghantarkan pada rasa cinta. Bisa terbayangkan oleh kita, jika seorang muslim kagum dan akhrinya mencintai orang kafir, maka bisa dipastikan kita diakhirat kelak pun bersama dengan orang kafir itu. Kalo orang kafir itu dia masuk surga atau neraka ya? Ya karena dia tidak beriman kepada Allah, maka dapat dipastikan dia tak kan masuk surga, alias akan masuk neraka. Mau masuk neraka? Na’udzubillahimindzalik..

                Seharusnya, sebagai seorang muslim kita hanya boleh mengagumi terhadap sesuatu yang baik menurut Allah. Tentu saja kita harus tahu terhadap apa-apa saja yang baik menurut Allah, dan mana yang buruk menurut Allah. Itu artinya kita mesti semakin banyak mengetahui ilmu Allah, harus banyak mengkaji islam kembali. Dan jika pun kita sekarang telah banyak mengagumi seseorang karena hal yang baik menurut Allah, itu artinya kita masih harus perlu belajar dan belajar terus. Mengapa? Karena, seperti yang saya ungkapkan di atas, biasanya seseorang merasa kagum pada orang lain terhadap sesuatu yang dia tak bisa melakukannya.

Semoga Allah memudahkan kita dalam proses pembelajaran menuju umat yang terbaik..

Wallohu’alam bi ashowab..

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.