Saturday, 30 November 2013

Posisi Australia: Kawan atau Lawan?



            Layaknya seorang anak kecil yang mudah bertengkar dan kemudian berbaikan kembali, itulah kiranya hubungan antara Indonesia dan Australia.  Wajar saja jika antara keduanya telah lama menjalin hubungan diplomatis, karena secara geografis Australia adalah negara tetangga yang berada di sebelah selatan Indonesia, dan bagi Australia, Indonesia adalah negara tetangga terdekat.
Sepanjang sejarah, kedua negara ini memiliki hubungan yang panjang dan fluktuatif. Tak jarang keduanya pun terlibat konflik yang cukup sengit. Ketika terjadinya konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia, Australia turut campur dengan berpihak kepada Malaysia. Militer Australia yang ketika itu mendukung Malaysia, terlibat pertempuran dengan militer Indonesia di Borneo (Kalimantan). Muncul anggapan pula bahwa Australia turut campur atas kejadian pemisahan Timor Timur (sekarang Timor Leste) dari Indonesia pada 1999. Pernah pula sebagian kongres Australia membiarkan masuknya gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) ke wilayah Australia.
Kini hubungan Indonesia-Australia semakin memanas. Harian Inggris The Guardian dan harian Australia, Sydney Morning Herald  Senin (18/11) menulis soal praktik Badan Intelijen Australia yang menyadap komunikasi pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  dan beberapa pejabat Indonesia lainnya termasuk Ibu Negara Ani Yudhoyono. Aksi penyadapan intelijen Australia terhadap Presiden SBY disebut terkait dengan peristiwa pengeboman Hotel JW Marriot pada 17 Juli 2009. Aksi penyadapan Australia terhadap SBY diketahui berlangsung selama 15 hari pada Agustus 2009. Hal ini mengindikasikan ketidak percayaan pemerintah Australia terhadap pemerintah Indonesia. Bahkan pengamat terorisme Australia, Greg Barton, seperti dikutip ABC, Senin (18/11) mengatakan timbul pertanyaan ketika JW Marriot dihantam bom untuk kedua kalinya. Apakah ini ulah Noordin Top atau bagian dari sebuah rencana yang lebih besar.
Tindakan Australia agaknya tak sejalan dengan ucapannya. PM Australia, Tony Abbott mengatakan Indonesia adalah salah satu teman terbaik yang dimiliki Australia. Namun, tindakan penyadapan ini ternyata menjadi bukti nyata bahwa ada ketidakpercayaan Australia terhadap “teman terbaiknya”. Meskipun memang Greg Barton mengatakan “intelijen Australia mungkin merasa ada petunjuk-petunjuk yang disembunyikan pihak Indonesia. Meskipun kami percaya Indonesia, bukan berarti kami mempercayai kemampuan Indonesia mengungkap kasus terorisme. Kami ingin melihat bukti-buktinya secara langsung”. Ini menunjukkan bahwa ada keraguan Australia terhadap kinerja Indonesia. Jika memang “teman terbaik”, seharusnya bukan malah menguntit, tapi menjalin kerja sama yang lebih baik untuk mengungkap terorisme yang ada.
Dari fakta-fakta diatas kita bisa melihat Australia tak pernah bersikap sebagai teman. Ibarat kata, dalam perpolitikan itu tidak ada kata teman atau musuh abadi, namun yang ada hanyalah kepentingan abadi. Itulah yang sedang dipraktikan Australia. Indonesia bukanlah teman terbaiknya, hanya saja Indonesia memiliki sesuatu yang Australia inginkan. Ketika mereka baik, bukan berarti mereka teman baik, tapi itu menunjukkan ada satu kepentingan yang mereka inginkan. Jadi, sebagai apakah posisi Australia, kawan atau lawan? Semoga kita bisa semakin cermat dalam melihat fakta, mengaitkan antar satu kejadian dengan kejadian yang lain. Sehingga kita bisa mengambil langkah dan sikap yang tepat dalam menghadapi permasalahan bangsa kita.

Wallohu’alam bi ashowab..

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.