Monday, 21 April 2014

Melipat Baju


Pagi itu Resa sedang asyik menonton kartun kesukaannya. Biasa, jika hari minggu tiba, sejak pagi hingga siang hari gadis berumur 10 tahun itu sudah siap-siap di depan TV. Banyak sekali kartun favoritnya yang akan tayang. Mulai dari Doraemon sampai Dragon Ball, semua ia suka. Jika saluran yang satu sedang iklan, maka ia dengan cepat akan beralih ke saluran yang lain untuk mencari kartun lainnya. Begitu seterusnya.

Namun, hari ini sepertinya ia tak mungkin menonton sesukanya. Ada banyak sekali tugas rumah yang menantinya. Menyapu rumah, menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan kaca jendela, mencuci piring, menjemur baju dan membantu nenek memasak. 
 
“Resa! Jangan malas! Ayo beres-beres dulu rumah!” Kata pamannya sambil menekan tombol off di TV.
“Aduuhh, hampir tiap hari beres-beres. Resa kan pengen istirahat, pengen nonton, hari ini kan hari minggu, hari libur tahu!” Katanya dalam hati.

Memang, sejak kelas empat SD dia pindah sekolah ke kampung untuk menemani neneknya. Di sana ia hanya tinggal bersama nenek dan seorang pamannya. Akibatnya, sebagai seorang gadis ia telah dibiasakan untuk membantu pekerjaan rumah terutama oleh pamannya yang super galak. 

Akhirnya Resa pun bangkit dari duduknya. Walau sedikit kesal, tapi ia tetap melaksanakan tugasnya. Rumah neneknya cukup luas, ada empat kamar tidur, satu ruang tamu dan satu ruang TV, ditambah lagi satu dapur yang juga luas. Hanya sekedar menyapu, mungkin ia mampu, tapi ketika sampai pada tugasnya mengepel lantai, rasanya semua tulang punggungya remuk. Maklum, dia masih menggunakan kain pel biasa yang tanpa tongkat, sehingga dia harus mengepel lantai dalam posisi jongkok. Kondisi lantai yang sudah tua kadang membuatnya sedikit frustasi. Seringkali masih terlihat kusam meski telah dipel berkali-kali.  

Keadaan itu terus berulang sepanjang hari, terutama di hari libur. Hampir pekerjaan rumah dikerjakan olehnya. Wajar memang, neneknya sudah sangat tua, ditambah lagi tangan kanannya yang telah mati akibat penyakit stroke yang menimpanya membuat sang nenek tak mampu berbuat banyak. Mau tak mau Resa memang harus membantu neneknya. Sedangkan pamannya masih terhitung seorang pemuda. Kerjaannya hanya bermain bersama teman-temannya. Kalau pun pulang hanya untuk tidur, makan dan meminta uang. 

Suatu hari, sang nenek jatuh sakit. Bebannya semakin bertambah. Pekerjaan rumah, memasak, mengurusi nenek, semua ia lakukan seorang diri. Cucian baju kian menumpuk. Baju yang sebelumnya telah dijemur kian menggunung. Hampir setengah hari itu waktunya habis untuk sekedar melipat baju. Sambil melipat baju, tak terasa air matanya jatuh. Karena takut ketahuan nenek dan pamannya, ia tutup pintu kamarnya. Ia terisak dalam keheningan. Tak ingin mengeluarkan suara tangis, hanya mampu menahannya dalam dada.

“Mamah, Resa ingin pulang.. Resa cape, tapi Resa juga kasihan sama nenek...” bisiknya.

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Untung saja ia sempat mengusap air matanya. Terlihat pamannya menghampirinya.
            “Resa, lihat baju paman gak yang warna biru? Paman mau memakainya.” ujarnya.
            “Yang ini bukan, paman?” jawabnya.
          “Iya itu. Wah, kok lipatannya gini, sih! Ini salah, Resa. Harusnya begini, bajunya digelarin, jangan dibagi dua, tapi lipat sedikit bagian  kanan dan kirinya. Setelah itu baru dibagi dua dari atas ke bawah. Kalau tangannya pendek, bagian tangannya dilipat lurus, tapi kalo tangannya panjang, bagian tangannya dilipat miring ke bawah.” Panjang lebar pamannya menjelaskan.
           
Dalam hati Resa sedikit bersyukur, ternyata masih ada kebaikan yang ada pada pamannya itu.

          “Kok malah ngelamun? Ayo ulangi lagi kerjaannya, biar rapi dan bagus!” Titahnya membuyarkan lamunan Resa.
         “Baru aja dipuji sedikit, taunya galak lagi. Iiiih, paman jahat! Gak tau apa ngerjain ini semua tuh cape! Coba deh rasain kerjain semuanya sendiri, tau rasa deh!” Lagi-lagi dia hanya mampu mengomel dalam hati sambil cemberut.
           
Ujung-ujungnya semua kerjaan telah selesai dikerjakan. Dia cukup bangga, ternyata hasilnya melipat baju memang rapi.

Malam hari tiba, ia tak lupa mempersiapkan keperluan sekolahnya. Dilihatnya jadwal pelajaran esok hari. Matematika, Indonesia dan kesenian. PR matematika sudah selesai, itu semua mudah bagi dia, dia memang ahli matematika. B. Indonesia tidak ada PR minggu ini. Kesenian? Ia lupa, ternyata besok ada tes praktek melipat baju! Langsung saja ia masukkan baju kaos dan kemeja tangan panjang yang gurunya instruksikan untuk ia bawa ke dalam tas birunya. Dalam hati ia bersyukur, tadi siang ia sudah berlatih melipat baju dari pamannya.

Malam berlalu, pagi pun tiba. Subuh sekali ayam telah berkokok. Resa bangun dan kemudian berjalan ke kamar mandi dengan sempoyongan. Lalu ia mandi dan kemudian sholat. Ia sempatkan untuk membuka tirai jendela dan mematikan lampu yang tak dipakai lagi. Waktu menunjukkan pukul 06.10 WIB. Ada waktu kurang lebih 20 menit sebelum dia berangkat ke sekolah. Dibacanya lagi pelajaran yang diajarkan guru sebelumnya.

“Resaa...a...a...a...” temannya memanggil.
“Iya Leha, bentar ya, aku pakai sepatu dulu.” Jawabnya sambil bergegas merapihkan tas sekolahnya dan memakai sepatu satu-satunya.

Perjalanan dari rumah ke sekolah memakan waktu 10 menit, kurang lebih ada sisa waktu 20 menit menuju bel sekolah. Teman-teman sekelasnya ternyata sudah banyak yang datang lebih dulu darinya. Kebanyakan dari mereka adalah murid perempuan. Mereka terlihat sibuk berkelompok. Ternyata mereka sedang latihan cara melipat baju yang baik. Ada yang terlihat pandai sekali, sehingga dia menjadi magnet teman-teman lainnya, ada juga yang sama sekali tidak tahu. Mungkin ia tipikal anak manja yang malas. Kembali ia bersyukur berada di keluarga yang memberikan banyak pelajaran untuknya.

Teng...teng...teng...

Bel masuk berbunyi. Semua murid berlari-lari merapihkan tempat duduknya. Pak Adi, guru kesenian kelas IV seperti biasa datang tepat waktu. Guru berkumis tipis ini tampak rapi dengan seragam dinasnya. Senyumnya selalu dipasang di depan murid-murid kesayangannya. 

“Assalamu’alaikum anak-anak...” sapa beliau.
“Wa’alaikum salam Pak Guru...” jawab mereka serempak.
“Ayo KM-nya pimpin do’a dulu.” Ujarnya.
“Sebelum kita belajar, mari kita berdo’a dulu. Berdo’a, mulai!” Teriak Ginta, ketua murid kelas IV.

Semua murid berdo’a dengan khusyuk. Setelah selesai, Pak Adi lalu mengabsen satu persatu muridnya. Kemudian Pak Adi menjelaskan aturan main tes praktek melipat bajunya. 

“Bapak akan mengabsen satu persatu semua murid untuk maju ke depan meja guru sambil membawa dua baju yang telah masing-masing siapkan. Komponen penilaiannya adalah kerapihan dan ketepatan cara.” Jelasnya.
“Ada yang ingin bertanya terlebih dahulu? Jika tidak, kita langsung mulai dari Leha.” Panggilnya.
“Jajang.”
“Teguh.”
“Ajeng.”
“Resa.”

Akhirnya tiba giliran Resa untuk maju. Dibawanya dua baju yang telah ia siapkan. Rasa gugup sedikit menghampirinya. Tetapi, lambat laun semuanya bisa ia kendalikan.

“Hm..m..m.. ok, bagus.” Komentar sang guru sambil mengangguk-angguk.

Setelah semua murid selesai praktek, Pak Adi langsung mengumumkan nilainya. Mula-mula beliau mengumumkan dua orang yang memiliki nilai terbaik.

“Mohon perhatiannya anak-anak. Alhamdulillah praktek hari ini berjalan dengan lancar. Bapak lihat, semuanya sudah cukup baik. Ada dua orang teman kalian yang nilanya paling besar, yang pertama Teti dengan perolehan nilai 85, dan Resa dengan perolehan nilai 90. Kedua-duanya sudah tepat dalam melipat dan juga rapi. Resa lebih unggul dari pada Teti karena Resa tau perbedaan cara melipat tangan panjang dan pendeknya. Ok, bapak rasa, hari ini cukup sekian ya! Assalamu’alaikum.” Pamit Pak Adi.
“Wa’alaikum salammmm...” jawab semua murid serentak.
“Alhamdulillah, ternyata nasehat paman emang benar. Terima kasih ya Allah” bisiknya dalam hati.

Mulai saat itu, Resa tak pernah mengeluh ketika mengerjakan tugas rumah. Beres-beres kini menjadi kebiasaannya. Ia sadar bahwa tidak rugi ketika kita menjadi orang yang rajin. Suatu saat nanti pasti akan ada hikmahnya. Apalagi Allah dan Rasulullah menyukai keindahan, termasuk keindahan tempat tinggal kita, dan keindahan itu akan didapatkan jika kita rajin menata dan merapihkan tempat tinggal kita.


by: Tresna Mustikasari

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.