Friday, 19 December 2014

Potret Buram Pendidikan Indonesia

Sumber: Google

Pendidikan kerap menjadi polemik di negeri katulistiwa ini. Betapa tidak, sudah 69 tahun negeri ini ‘merdeka’, namun tak ada perubahan signifikan dalam dunia penididikan kita. Setiap tahun ada saja kebijakan yang berubah. Bak kelinci percobaan, para pelajar dicocoki dengan berbagai kebijakan yang kabur, tak memiliki tujuan jelas. Misalnya saja kita tilik kurikulum pendidikan di Indonesia yang sering berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan. Perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2012 dan yang terbaru 2013. Tak heran jika mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan banyak memiliki ketertinggalan dibandingkan negara lainnya.

Menurut versi Pearson, perusahaan pendidikan dan penerbitan yang berbasis di London, dari 40 negara yang memiliki kategori pendidikan terbaik di dunia Indonesia menempati posisi terbawah. Laporan dibuat berdasarkan penggabungan hasil tes internasional serta data pendidikan milik Learning Curve Data Bank (LCDB) yang dikompilasi sejak tahun 2012 hingga awal tahun 2014. Data yang dikumpulkan tersebut mencakup indikator dan perkembangan setiap negara yang terdiri dari hasil tes interasional seperti ternational Reading Literacy Study (PIRLS), Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), Programme for International Student Assessment (PISA), serta Programme for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC).
Lebih mendetail Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Anies R. Baswedan, PhD memaparkan 75% sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan. UNESCO pada 2012 menyebut minat baca orang Indonesia hanya 0,001 atau hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia memiliki minat baca serius. Selama periode bulan Oktober-November 2014, terdapat lebih dari 230 berita kekerasan anak/pelajar. Tak hanya itu, mahalnya biaya pendidikan menjadi buah bibir tersendiri. Bahkan, akhir bulan Juni 2013 kemarin masyarakata terkagetkan dengan aksi seorang ayah yang rela menjual ginjalnya demi menebus ijazah sang anak. Tragedi bundaran HI lebih tepatnya. Dan Masih banyak ribuan bahkan jutaan kisah masyarakat kecil yang jatuh bangun hanya untuk dapat mengnyam manisnya pendidikan. Sungguh ironis, di saat bangsa ini membulatkan tekad untuk menjadikan pendidikan sebagai hak setiap warga negara sesuai yang termaktub dalam UUD pasal 31 ayat 1, tapi pemandangan ‘indah’ anak-anak putus sekolah pun sering kita jumpai. Tak hanya di satu daerah tertentu saja, tapi hampir di seluruh pelosok indonesia ada anak-anak yang putus sekolah.                                               

Layaknya seorang dokter, ketika akan mendiagnosa penyakit pasiennya serta memberikan obat yang tepat padanya diperlukan pendalaman terhadap gejala-gejala yang diderita pasien. Begitu pula dengan permasalahan pendidikan Indonesia yang gawat darurat ini. Langkah Mendikbud Anies R. Baswedan, PhD yang telah mencoba untuk menganalisa dan mendalami fakta pendidikan di lapangan merupakan langkah tepat untuk mengetahui permasalahan pendidikan Indonesia sampai ke akarnya. Langkah selanjutnya adalah mencari solusi yang fundamental tidak hanya bersifat parsial. 
 
Tentu sistem pendidikan Indonesia tidak hanya berdiri sendiri dan harus ditopang oleh sistem lainnya. Misalnya saja sistem ekonomi negara yang berkaitan dengan kebijakanpendanaan pendidikan, sistem sosial budaya masyarakat yang berkaitan dengan pengembangan pribadi dan norma anak didik di lingkungan di luar sekolah, sistem penerangan terutama berkaitan dengan dunia internet yang kian mudah di akses oleh para pelajar dan banyak hal lainnya. Oleh karena itu solusinya tidak hanya sebatas perbaikan dalam hal komponen yang berkaitan erat dengan pendidikan saja, tapi perlu ada perbaikan keseluruhan tatanan pemerintahan. Artinya kita perlu merubah sistem yang sejak kemerdekaan 1945 hingga sekarang diterapkan, yaitu Demokrasi Kapitalisme dengan sebuah sistem yang baru. Demokrasi Kapitalisme selama berdirinya jelas-jelas tidak memberikan perubahan ke arah yang lebih baik, malah sebaliknya, semakin terpuruk. Sistem yang bisa menggantikannya tentu haruslah sistem yang paripurna. Sistem itu adalah sistem Islam yang merupakan ciptaan Allah SWT yang sudah pasti tidak ada cacat didalamnya dan telah terbukti mampu membawa kejayaan negara islam selama 1300 tahun lamanya. Bahkan di pada saat itu dunia pendidikan islam berada pada puncak kejayaan hingga mampu melahirkan ilmuan-ilmuan muslim yang mampu merubah peradaban hingga saat ini.

Wallohu’alam bi ashowab[]

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.