Tuesday, 20 January 2015

Penyudutan Islam Melalui King Suleiman (Abad Kejayaan)



            Sejak bulan desember 2014, film King Suleiman (Abad Kejayaan) yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta Indonesia itu, telah banyak mendapatkan gugatan dari masyarakat terutama netizen. Film yang menceritakan Kerajaan Ottoman itu dinilai telah mendistorsi sejarah Islam, merendahkan wanita Islam, dan melecehkan para Khalifah. Ketua Umum Korps Muballigh Jakarta (KMJ) KH Muhammad Shobari dan Sekretaris Umum KMJ Miftah Mahfud menilai tayangan tersebut menceritakan Sultan Sulaiman Al-Qanuni yang digambarkan sebagai sosok yang cabul, angkuh, dan jauh dari nilai-nilai Islami. Ini menyakiti ummat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia. Tidak hanya itu, sang Sultan digambarkan sebagai seorang yang haus perempuan dan sedikit arogan. Namun pada faktanya sejarah mencatat bahwa Sultan Sulaiman Qanuni (Pemberi Hukum) menjadi peletak dasar-dasar hukum Islam yang dijadikan undang-undang kenegaraan yang kemudian diterapkan selama lebih dari 300 tahun. Berbeda jauh dengan penggambaran dalam film yang diproduksi.

Neil Tobing, Sekretaris Perusahaan PT Visi Media Asia Tbk (Viva) menuturkan bahwa film King Suleiman sudah melalui sensor yang sangat ketat. Jika masyarakat menghujat film tersebut karena alasan mengandung unsur porngrafi, maka alasan itu bisa dipatahkan. Adapun jika alasan penghujatan tersebut karena dianggap sebagai penyeleweng sejarah islam, Coorporate Communications Manager ANTV, Nugroho Agung Prasetyo, mengatakan bahwa film tersebut merupakan tayangan drama yang terinspirasi dari sejarah yang berlatar belakang kerajaan Ottoman namun tetap murni fiksi. Jadi seharusnya tidak ada masyarakat islam yang tersinggung, karena film tersebut bukan penyelewengan sejarah, tapi hanya cerita fiktif belaka.