Monday, 28 September 2015

Selamatkan Ekonomi Indonesia dengan Syari’at

Sumber: Google



Rupiah kian kehilangan identitasnya. Kurs Rupiah/US$ pada tanggal 7 September merosot 94 poin menjadi Rp 14.266 per Dolar AS. Tidak hanya Rupiah, mata uang Asia seperti Rupee India, Ringgit Malaysia dan Peso Filipina pun melemah dengan tingkat pelemahan yang bervariasi. Salah satu solusi yang ditawarkan pemerintah terhadap melemahnya Rupiah adalah pemerintah akan memberikan fasilitas keringanan pembayaran pajak (tax allowance) bagi perusahaan yang menginvestasikan kembali dividennya di Indonesia, menciptakan lapangan kerja, berorientasi ekspor, tingkat kandungan lokalnya tinggi, serta melakukan riset dan pengembangan.  Pemerintah  merestrukturisasi dan merevitalisasi industri reasuransi domestik dengan menggabungkan dua perusahaan reasuransi milik negara menjadi sebuah perusahaan reasuransi nasional. Sayangnya meski pemerintah telah berupaya memberikan ‘solusi’, dampak negatif bagi Indonesia tidak mampu terbendung. Setidaknya ada empat dampak atas melemahnya rupiah terhadap dolar.

Pertama, daya beli masyarakat semakin menurun. Kementrian Perdagangan mendata ada 1.151 item barang impor yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia. Hal ini mengakibatkan harga barang-barang impor menjadi lenih mahal. Barang-barang tersebut seperti pangan dan barang-barang elektronik. 


Kedua, total hutang pemerintah semakin membengkak. Total utang pemerintah pada Mei 2015 naik dari Rp 64 triliun dibanding periode April 2015, maka total utang Indonesia berjumlah Rp 2.845,25 triliun pada periode Mei 2015.

Ketiga, investor berpaling dari Indonesia. Kepercayaan terhadap Indonesia semakin merosot dengan kondisi perekonomian Indonesia yang tidak menentu. Ekonom Senior CSIS, Pande Raja Silahi mengatakan menurunnya kepercayaan masyarakat dan investor diakibatkan adanya sinyal ketidakkonsistenan pemerintah, karena ekonomi sedang melambat tapi masih memasang target yang tinggi. Di lain pihak, realisasi pembangunan infrastruktur berjalan sangat lambat. Sedangkan majunya infrastruktur negara menjadi salah satu faktor penting yang bisa mengundang banyak investor ke dalam negeri. Memang dalam sistem demokrasi, pertumbuhan ekonomi akan sangat bergantung pada banyak atau sedikitnya investor. Alhasil ketika rupiah rendah, banyak investor gulung tikar, maka perekonomian Indonesia akan menurun.

Keempat, efek domino terhadap tatanan sosial masyarakat. Poin sebelumnya menjelaskan ketika harga rupiah rendah, maka banyak perusahaan-perusahaan yang gulung tikar. Ini akan memungkinkan banyak perusahaan yang mem-PHK para pekerjanya. Alhasil, beban masyarakat semakin meningkat sedangkan penghasilan semakin berkurang. Angka pengangguran semakin tinggi, tingkat depresi semakin besar, bahkan bisa sampai menyebabkan angka kematian yang tinggi akibat kasus bunuh diri yang membengkak.

Semua itu mengindiksikan bahwa Rupiah tidak berdaya di mata dunia. Bahkan Rupiah cenderung terus disetir oleh Dolar AS. Kondisi ini akan terus berlangsung jika Indonesia tidak mampu memberikan solusi fundamental terhadap akar permasalahan terus tertekannya nilai Rupiah. Akar permasalahan tersebut antara lain:

Pertama, Indonesia tidak memiliki visi menjadi Negara industri yang tangguh. Ini dapat dilihat dari obsesi Indonesia untuk banyak mengekspor barang tanpa memperhatikan kualitas. Pemerintah seringkali serampangan mengekspor bahan mentah SDA Indonesia, kemudian Asing kembali mengekspor komoditas olahan lain yang pada dasarnya bahan bakunya berasal dari Indonesia.

Kedua, Indonesia lebih berpikir kapitalis dengan mendukung para pemilik modal dibandingkan dengan memperhatikan nasib rakyat. Ini ditunjukkan dengan kebijakkan menaikan suku bunga sangat terasa oleh kaum kapitalis.

Terakhir, rupiah termasuk dalam sistem uang kertas (flat money) yang tidak dijamin oleh emas dan perak. Sehingga nilai uang intrinsiknya berbeda dengan nilai yang beredar di pasaran.

Solusi mengakar untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah menghilangkan praktik  riba, legalisasi Perseroan Terbatas dan turunannya seperti saham dan pasar modal serta mata uang kertas tanpa jaminan komoditas berharga seperti emas dan perak. Tentu hal ini hanya akan bisa tercapai jika Indonesia menerapkan sistem yang berbasis syari’ah islam. Selain itu, negara berbasis syari’at islam berkewajiban untuk menjadi negara industri yang kuat agar tidak dapat dikuasai dan didikte oleh negara lain atau otoritas lainnya. Adapun riba yang merupakan biang bencana dalam sistem ekonomi kapitalis dan sistem  lainnya telah diharamkan oleh Islam secara mutlak, berapa pun persentasenya dan apapun istilahnya. Oleh karena itu, hanya islamlah yang mampu menolong perekonomian Indonesia.
Wallohu’alam bi ashowab..[]



No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.