Monday, 1 February 2016

Janji-Janji Manis Pacaran


Sumber: Google

Adakah diantara para pembaca sekalian yang sedang atau pernah berpacaran? Jika ya, apa sih alasan kawan-kawan berpacaran? Ada yang bilang pacaran itu banyak memberikan keuntungan. Bagi para gadis, pacaran itu mendapatkan supir pribadi gratis. Kemana-mana dianterin, ke sekolah diantar jemput, mau hangout tinggal calling calling. Gadis lainnya bilang, pacaran itu seperti mendapatkan bodyguard gratis. Selalu dijagain dan diperhatiin. Kalau ada yang nyenggol dikit aja langsung disikat abis. Apalagi kalo ada yang nyakitin, tinggal tunggu undangan pemakaman kali ya. Gak mau kalah, banyak gadis pun mengatakan, pacaran itu seperti mendapatkan seorang motivator. Setiap hari di semangatin, kalau ada PR selalu dibantuin, kalau mau ujian selalu ditemenin belajar. T.O.P.B.G.T deh buat yang pengen dapet ranking kelas.

Di lain pihak, para bujang merasa pacaran itu bak mendapat baby sitter gratis. Tiap waktu ditanyain, “udah makan belum?”. Kalau sakit selalu bilang, “mau aku buatin bubur?”. Kalau mau tidur selalu diantar dengan kata, “moga mimpi indah..”. Ada juga yang bilang pacaran itu berasa dunia cuma milik mereka berdua. Ke kantin berdua, ke sekolah berdua, jalan-jalan berdua, pokoknya mana-mana berdua. Pacaran itu biar bisa dilindungin, biar semangat belajar terus dapet ranking, diperhatiin, dibahagiain, pokoknya pacaran itu “you are more than enough for me, deh!”

Salahkah kau mengaguminya?



 
Sumber: Google
Sang raja dangdut ternama berkata dalam lagunya, masa muda, masa yang berapi-api. Adalah benar rupanya. Betapa tidak, dulu ketika saya masuk sekolah menengah pertama (SMP), saya yang pendiam berubah menjadi aktivis sejati. Bak pahlawan bertopeng di film Sinchan, saya berubah menjadi sosok ditakuti di seantero sekolah karena menjadi penegak kebenaran. Tak takut dengan ancaman senior-senior bergajulan yang hobinya membakar uang dengan menghisap daun tembakau. Tak juga takut oleh cewek-cewek centil yang tak pernah lepas dari berbagai rupa kosmetiknya. Rasa kasihan tak sedikit pun hinggap di hati meski mereka yang terhakimi mendapatkan tamparan hebat guru di pipi. Tak ada rasa iba yang menimpa diri bahkan ketika mereka dipaksa libur bersekolah.

Darah muda memang masa dimana semua hal pada dirinya muncul bermekaran. Semangat, keberanian, kekuatan, dan tentunya cinta. Terlalu dini memang mengatakan bahwa cinta itu muncul pada sosok remaja yang tak tahu apa-apa. Gara-gara dapat sisa senyum manis senior aja udah dibilang cinta. Gara-gara kena senggol dikit aja langsung cinta. Padahal mah, gak sengaja aja kali. Gara-gara sering ketemu bareng di sekolah aja katanya cinta. Please deh, yang namanya sesama anak sekolah emang pasti sering ketemu di sekolah, gimana , sih?! (sambil tepuk jidat =_= ). Emang dasar anak ABG (kamu tahu kan ABG? Anak Baru Gede, atau Anak Bapak Gue, atau apalah sesuka kamu), selalu dengan cepat menyimpulkan dan mengambil keputusan. Kan darah muda, semangat terus tanpa henti.

Refleksi Akhir Tahun 2015: Kuatnya Cengkraman Neo-Imperialisme Terhadap Indonesia [Late Post]

Sumber: VOA Islam

Menjadi ritual rutin, menjelang pergantian tahun setiap orang termasuk rakyat Indonesia bersuka cita. Tidak jarang, setiap stasiun televisi bahkan setiap pemerintah di tiap tingkatnya mengadakan perayaan pergantian tahun tersebut. Mulai dari perayaan biasa sampai dengan luar biasa dengan merogoh kocek yang juga luar biasa. Semua orang bertumpah ruah, meniupkan terompet, meledakkan kembang api, berjingkrak-jingkrak, berdesak-desakkan dan menanti sampai hitung mundur pun dimulai. Tak sedikit dari mereka merelakan waktu tidurnya dan diganti dengan perayaan tahunan ini. Semua dilakukan dengan satu tujuan, berharap tahun yang baru menjadi tahun yang lebih baik daripada tahun-tahun yang telah dilalui sebelumnya. Harapan ini ditujukan bagi kehidupan individu dan bahkan bagi kehidupan bernegara.

Harapan lebih baik selalu diungkapkan di setiap pergantian tahunnya. Dulu ketika awal tahun 2015 pun rakyat berharap akan lebih baik dari tahun 2014. Tentu ketika kita berharap “lebih baik” maka perlu ada sesuatu yang dibandingkan.  Perlu ada ukuran yang pasti kita bisa mengatakan apakah tahun 2015 yang telah kita lewati lebih baik dari[ada tahun 2014 lalu?