Thursday, 21 April 2011

Diam Tak Selamanya Emas



Indonesia adalah sebuah Negara kepulauan yang memiliki banyak kekayaan alam yang melimpah. Hutan hujan tropis yang masih hijau, lahan pertanian yang subur, perkebunan yang beraneka ragam, tambang emas terbesar di dunia, air yang melimpah, dan banyak lagi potensi yang menakjubkan yang Indonesia miliki.
            Namun sungguh ironis, dibalik kekayaannya itu, masih bayak orang-orang yang kelaparan, masih banyak orang-orang gelandangan, tidur di kolong jembatan hanya beralaskan sehelai kardus bekas. Sementara DPR, yang katanya perwakilan rakyat malah bersenang-senang dengan kemewahannya. Milyaran rupiah sanggup dikeluarkan untuk pelantikan DPR yang hanya beberapa jam saja. Kocek negara terkuras habis hanya untuk membiayai pelesiran para pejabat yang tak tau diri. Sebuah rumah layak pakai untuk rakyat saja pemerintah tak mampu memberikan, tapi triliunan rupiah bisa dikeluarkan hanya demi gedung baru DPR. Lucu sekali negeri ku ini.
            Masalah pendiskriminasian kasih sayang pemerintah terhadap rakyatnya semakin diperparah dengan adanya kebijakan-kebijakan baru yang tidak pro rakyat. Dimulai dari undang-undang migas yang seolah-olah anak sendiri (PERTAMINA) disuruh berkompetisi dengan anak tiri (Perusahaan Asing) untuk mendapatkan susu dari ibunya. Perjanjian CAPTA yang sangat merugikan bagi industri lokal, bahkan terancam gulung tikar. Bahkan terakhir dengan adanya undang-undang intelejen lebih memperjelas pandangan pemerintah terhadap rakyat seolah-olah rakyat adalah musuh Negara.
            Perjanjian perdagangan bebas China-ASEAN (CAPTA) yang sudah diberlakukan mulai tanggal 1 Januari 2010 itu terbukti banyak merugikan ekonomi Indonesia ketimbang menguntungkan. Sebelum adanya perjanjian CAPTA pun label-label “MADE IN CHINA” sudah membumi di pasaran. Apalagi dengan adanya pasar bebas CAPTA yang tanpa pembatasan dan persortiran industri asing bisa masuk ke Indonesia dengan seenaknya. Bayangkan saja, harga barang yang ditawarkan lebih murah 15% sampai 25% dibandingkan dengan harga lokal. Jelas rakyat yang daya belinya semakin lemah lebih memilih produk luar dari pada produk dalam negeri. Otomatis perlahan-lahan keadaan tersebut akan mematikan industri dan para pengusaha lokal. Bukan hal yang tidak mungkin jika suatu saat nanti akan terjadi kebangkrutan yang berjamaah, PHK yang besar-besaran, dan perekonomian dalam negeri babak belur bahkan sekarat menuju ambang kematian.
            Sungguh, ini adalah kedzaliman yang nyata! Rasulullah saw. bersabda:
Pemimpin (kepala Negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan mereka. (HR. muslim)   
            Sudahkah pemerintah mengurusi rakyatnya? Sudahkah pemerintah menjamin kesejahteraan rakyat? Tidak! Mereka hanya sibuk mengurusi perut mereka sendiri saja! Wahai umat, sampai kapankah kau menutup matamu? Sampai kapankah kau menutup telingamu? Sampai kapankah kau menutup rapat mulutmu? Apakah matamu kini telah buta? Apakah telingamu kini telah tuli? Apakah mulutmu kini telah gagu? Sampai kapan kau ingin begini?
Jika kau tidak bisa terbang, maka berlarilah. Jika kau tidak bisa berlari, maka berjalanlah. Jika kau tidak bisa berjalan, maka merangkaklah. Bagaimanapun juga teruslah bergerak. Bergerak untuk merubah segalanya menjadi lebih baik.

Wallohu ‘alam bishowab..