Sunday, 8 April 2012

Wanita adalah Kunci Kebangitan Umat


              

              Kenalkah Engkau sahabatku dengan R.A Kartini? Bagaimana Dengan R.A Dewi Sartika? Cut Nyak Dien? Tentu sudah tidak asing di telinga lagi bukan? Lalu bagaimana dengan Aisyah r.a penyandang gelar Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq (perempuan yang sangat jujur dari orang yang sangat jujur)? Lalu Asma binti Yazid bin As-Sakan, seorang wanita ahli hadits, mujahidah yang agung, cerdas, taat beragama, dan ahli pidato, sehingga ia digelari orator wanita? Kenalkah? Aisyah r.a, Asma binti Yazid bin As-Sakan, dan banyak lagi yang lainnya adalah shahabiyah yang tangguh, pahlawan dan pejuang islam sejati.
Betapa tidak, dalam Islam, perempuan diposisikan sebagai perhiasan berharga yang wajib dijaga dan dipelihara. Ini tidak berarti mengekang perempuan dalam wilayah tertentu. Islam memberi peran bagi perempuan dalam ranah domestik dan juga publik sekaligus. Sehingga dimasa peradaban Islam tidaklah mengherankan jika kita mendapati banyak figur waita terbaik dan termulia sepanjang zaman. Mereka bersungguh-sungguh mengerahkan segenap kemampuan dalam menjunjung tinggi syiar Islam, membela agama Allah dengan ketulusan yang tidak diragukan, mencintai Allah dan Rasulullah dengan kecintaan yang mendalam “yang direfleksikan dengan ketaatan kepada risalah yang dibawanya” bersabar dengan segala kesulitan hidupnya, patuh dan menghargai suami dengan kepatuhan dan penghormatan yang patut diteladani, mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan yang baik hingga melahirkan pahlawan-pahlawan sejati yang dijamin masuk syurga, merelakan buah hati mereka terbunuh sebagai syahid membela agamaNya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terjun langsung dalam jihad fii sabilillaah demi meraih mardhatillah dan jannhaNya.
Jika dia sebagai anak, kemudian kedua orangtuanya atau salah satunya menyimpang dari batas yang telah ditentukan oleh agama, maka dengan cara yang sopan dan bijaksana, dia harus mengajak kedua orangtuanya kembali ke jalan yang baik, yang telah menjadi tujuan agama, disamping tetap menghormati kedua orangtua.
Wajib bagi setiap wanita (para istri), yaitu membantu suaminya dalam menjalankan perintah agama, mencari rezeki yang halal, menerima dan mensyukuri yang dimilikinya dengan penuh kesabaran, dan sebagainya.
Wajib pula bagi setiap ibu, mengajar anak-anaknya taat kepada Allah, yakni dengan menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya, serta taat kepada kedua orangtuanya.
Kewajiban bagi setiap wanita terhadap kawan-kawannya yang seagama, yaitu menganjurkan untuk membersihkan akidah dan tauhidnya dari pengaruh di luar Islam; menjauhi paham-paham yang bersifat merusak dan menghancurkan sendi-sendi Islam dan akhlak yang luhur, yang diterimanya melalui buku, majalah, film, dan sebagainya.
Muslimah menjadi anak yang shalihah dan berbakti kepada orang tuanya. Muslimah memberikan semangat kepada suaminya untuk berjuang hanya dan untuk islam. Muslimah menjadi pendidik dan pengajar yang mencetak pemuda-pemudi, muslim dan muslimah yang ta’at pada RabNya. Muslimah menjadi sahabat bagi muslimah lainnya yang merupakan jalan pengabdian pada Zat Yang Maha Sempurna.
Wanita adalah kunci kebangkitan umat. Karena ia adalah penggerak bagi orangtuanya, bagi suaminya, bagi anak-anaknya dan bagi sahabat-sahabatnya. Maka, marilah kita melayakkan diri menjadi wanita-wanita isalam yang ta’at kepada Rabbi, dan menjadi pejuang islam yang tangguh seperti para Shahabiyah di zaman Rasulullah dulu. Kita lah pengganti dan penerus rantai perjuangan para Shahabiyah dahulu.
Wallahu a’lam bi ash-shawab
(Sumber: Dr. Yusuf Al-Qardhawi & Edy Santoso)

Tresna Mustikasari (Tremusa)